Jateng

Pamit Pulang Tepat Waktu Saat Senior Masih di Meja: Seni Mengucapkan “Saya Duluan” Tanpa Rasa Bersalah

Theo Adi Pratama | 27 Oktober 2026, 07:03 WIB
Pamit Pulang Tepat Waktu Saat Senior Masih di Meja: Seni Mengucapkan “Saya Duluan” Tanpa Rasa Bersalah
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Pamit pulang tepat waktu saat senior masih duduk di meja bukan soal keberanian atau wajah tebal, melainkan soal tahu kalimat apa yang harus diucapkan: “Tugas prioritas hari ini sudah selesai, sisanya saya lanjutkan besok pagi”—dan kalimat itu bukan tanda kurang loyal, melainkan tanda bahwa kamu tahu di mana batas antara kerja dan hidup.

Bayangkan pukul lima lewat sepuluh menit. Laptop sudah ditutup, tas sudah di pundak, dan kamu sudah berdiri. Tapi mata kamu menangkap sesuatu: senior di seberang meja masih menatap layar, jari-jarinya masih menari di keyboard, dan kopinya masih penuh. Kamu duduk lagi. Membuka laptop. Pura-pura mengetik sesuatu. Padahal yang kamu ketik cuma “tes, tes, tes” di kolom pencarian.

Adegan ini bukan adegan langka. Ia terjadi di banyak kantor Indonesia, dari Jakarta sampai Surabaya, dari perusahaan swasta sampai instansi pemerintah. Dan pelakunya bukan orang malas. Justru sering kali orang yang sudah menyelesaikan semua pekerjaannya.

Baca Juga: Jangan Diam Saja Saat Jobdesk Melenceng: Ini Cara Bicara ke Atasan Tanpa Dikira Pembangkang

“Tenggo” dan dosa yang tidak pernah tertulis di kontrak

Istilah “tenggo” sudah lama jadi bahan perdebatan. Ia singkatan dari “teng” (bunyi jam pulang) dan “go” (pergi). Sederhananya: pulang tepat waktu. Bagi sebagian pekerja muda, ini adalah bentuk profesionalisme baru. Bagi sebagian senior, ini bisa terbaca sebagai kurang loyal, tidak solider, atau tidak punya komitmen.

Kompasiana edisi 10 Juli 2026 menulis bahwa gesekan ini bukan soal moral, tapi soal dua logika yang bertabrakan. Kultur lama melihat menunda pulang sebagai solidaritas. Kultur baru melihatnya sebagai efisiensi: kalau tugas sudah beres, kenapa harus ikut menanggung beban pekerjaan orang lain?

Data menunjukkan bahwa kegelisahan pekerja muda bukan tanpa alasan. Survei Workplace Wellbeing di Indonesia mencatat sekitar 4 dari 10 pekerja menyatakan tekanan lingkungan kerja berdampak negatif pada kesehatan mental mereka. Prevalensi burnout menyentuh 52 persen, dan angka itu didominasi pekerja muda.

Baca Juga: Printer Kantor Bukan Tempat Print Undangan Nikah: Etika Fasilitas Kantor yang Sering Dilanggar

Budaya Jepang punya kalimat untuk ini, dan itu bukan kalimat penyesalan

Di Jepang, ada frasa yang sudah berabad-abad dipakai saat seseorang pulang lebih dulu dari rekan kerjanya: osaki ni shitsurei shimasu. Artinya kurang lebih “maaf, saya permisi pulang duluan”.

Yang menarik bukan frasa itu sendiri, melainkan cara ia diucapkan. Ia bukan permintaan izin. Ia adalah pemberitahuan sopan bahwa kamu akan pergi lebih dulu, sementara yang lain masih tinggal. Tidak ada rasa bersalah di dalamnya. Tidak ada nada minta ampun. Yang ada hanyalah pengakuan bahwa waktu kerja seseorang berbeda dengan waktu kerja orang lain.

Di Indonesia, kita punya “izin pulang duluan, Pak/Bu” yang fungsinya sama. Tapi sering kali kalimat itu diucapkan dengan nada bersalah, seolah pulang tepat waktu adalah pelanggaran kecil yang harus dimintakan pengampunan.

Baca Juga: Gaji Pertama Habis dalam Seminggu? Ini Cara Mengatur agar Dompet Tidak Numpang Lewat

Yang sebenarnya dinilai bukan jam duduk, tapi hasil

DigitalCV edisi 29 Agustus 2026 menulis dengan tegas: pulang tepat waktu adalah wujud efisiensi dan manajemen waktu yang baik, bukan tanda kurangnya dedikasi. Anggapan bahwa pulang tepat waktu berarti tidak loyal lebih banyak berakar dari budaya kerja lama daripada logika produktivitas.

Fenomena ini punya nama: presenteeism. Karyawan tetap berada di tempat kerja bukan karena ada tugas darurat, melainkan demi terlihat hadir dan berkomitmen di mata atasan. Duduk lama tanpa kerja nyata bukan produktivitas. Itu akting.

Karyawan yang menyelesaikan seluruh tanggung jawabnya dalam delapan jam justru menunjukkan manajemen waktu, skala prioritas, dan kompetensi yang baik. Sebaliknya, orang yang terus-menerus lembur bisa jadi menandakan beban kerja yang tidak realistis, alur proses yang tidak efisien, atau kesulitan memprioritaskan tugas.

Kalimat yang membuat pamit terasa profesional, bukan kabur

Kuncinya bukan pada keberanian, melainkan pada struktur kalimat. EduBestari edisi 14 Agustus 2026 merumuskan formula sederhana: Siap + Status + Sambung.

Siap berarti apa yang sudah selesai. “Semua tugas prioritas hari ini sudah selesai.”

Status berarti apa yang masih tersisa, kalau ada. “Bagian analisis laporan masih sekitar 30 persen.”

Sambung berarti kapan kamu akan melanjutkannya. “Saya lanjutkan besok pagi jam sembilan.”

Kalimat lengkapnya: “Pak, tugas prioritas hari ini sudah selesai. Bagian analisis laporan masih tersisa sekitar 30 persen, saya lanjutkan besok pagi jam sembilan. Saya pamit pulang dulu, terima kasih.”

Tidak ada kata “maaf saya pulang duluan” yang berlebihan. Tidak ada nada memohon. Yang ada hanyalah laporan status yang membuat atasan tahu pekerjaan tidak hilang, kamu tidak lari, dan besok ada rencana.

Jangan minta izin kalau jam kerja sudah selesai, tapi tetap pamit

Ada perbedaan penting antara “minta izin” dan “pamit”. Minta izin berarti kamu mengakui bahwa pulang adalah hak istimewa yang harus disetujui. Pamit berarti kamu memberi tahu bahwa kamu akan pergi, dengan sopan.

Hindustan Times edisi 19 September 2026 melaporkan seorang karyawan yang mendapat surat peringatan karena pulang tanpa memberi tahu senior, meskipun jam kerjanya sudah selesai dan semua tugasnya beres. Ia bertanya: “Kalau jam kerja sudah habis dan tidak ada pekerjaan tertunda, kenapa saya harus minta izin setiap hari?”

Jawabannya bukan pada izin, melainkan pada komunikasi. Kamu tidak perlu memohon persetujuan untuk menggunakan hak pulang. Tapi kamu tetap perlu memberi tahu orang yang relevan bahwa kamu sudah pergi, agar tidak ada informasi yang menggantung.

Pamitlah pada orang, bukan pada ruangan

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah pamit dengan cara yang salah. Menutup laptop dan langsung menghilang tanpa sepatah kata bukanlah pamit. Itu kabur.

Pamitlah pada atasan langsung atau senior yang bekerja sama denganmu hari itu. Kalimatnya cukup singkat: “Pak, saya pulang dulu. Tugas hari ini sudah saya selesaikan, besok saya lanjutkan yang lain. Selamat malam.” Tidak perlu berkeliling ke seluruh ruangan. Tidak perlu menunggu semua orang menoleh.

Kalau komunikasi kantor lebih sering lewat chat, kirim pesan singkat ke grup atau ke atasan langsung. “Saya log out dulu ya, tugas hari ini sudah selesai. Besok saya sambung.” Nada tetap santai, tapi profesional.

Jangan berbohong soal status pekerjaan

Kalau ada tugas yang belum selesai, jangan bilang “semua beres” hanya agar bisa pulang lebih cepat. Katakan apa adanya: “Laporan utama sudah selesai. Bagian analisis terakhir masih tersisa sekitar 30 persen dan saya sambung besok pagi.”

Kejujuran tentang status pekerjaan membuat atasan bisa mengelola ekspektasi. Kebohongan kecil tentang “sudah selesai” akan terungkap besok pagi, dan itu jauh lebih merusak reputasi daripada pulang tepat waktu dengan laporan status yang jujur.

Kalau ada yang mendesak, tawarkan solusi, bukan diam

Ada kalanya pekerjaan memang benar-benar harus diselesaikan malam itu. Dalam situasi seperti ini, jangan hanya diam dan duduk kembali. Tanyakan: “Apakah ada hal darurat yang perlu saya selesaikan malam ini?” Kalau ada, kerjakan dengan batas waktu yang jelas. Kalau tidak ada, pamitlah dengan tenang.

Yang perlu dihindari adalah menjadikan “membantu tim” sebagai alasan untuk selalu pulang malam. Solidaritas itu baik. Tapi solidaritas yang berulang tanpa kompensasi dan tanpa batas waktu bukan solidaritas. Itu eksploitasi yang dibungkus kata “kekeluargaan”.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.