Jateng

Kalender Jawa 27 Oktober–2 November 2026: Neptu 14 di Rabu, Jumat, Sabtu, dan Minggu

Theo Adi Pratama | 27 Oktober 2026, 07:26 WIB
Kalender Jawa 27 Oktober–2 November 2026: Neptu 14 di Rabu, Jumat, Sabtu, dan Minggu
Ilustrasi kalender. - Unsplash

JATENG.AKURAT.CO, Sepekan terakhir Oktober hingga awal November 2026 bukan cuma soal ganti bulan di kalender Masehi, tapi juga momen langka di kalender Jawa: Wuku Watugunung—wuku terakhir dalam siklus 210 hari—tutup usia dan digantikan Wuku Sinta, wuku pertama, tepat saat November datang.

Bayangkan sebuah kalender dinding di rumah Mbah Karso di Bantul. Angkanya masih kecil-kecil, tapi di bawah tanggal Masehi ada baris lain yang ia baca setiap pagi: pasaran, wuku, dan mangsa. “Orang sekarang lihat kalender cuma buat tahu tanggal merah. Padahal di situ ada cerita tentang waktu yang berputar,” katanya, seperti dikutip dari obrolan di teras rumahnya, akhir Oktober lalu.

Pekan ini, cerita itu sedang berada di halaman paling dramatis. Wuku Watugunung, yang menempati urutan ke-30 dari 30 wuku dalam siklus Pawukon, berakhir pada 31 Oktober. Besoknya, 1 November, Wuku Sinta—urutan pertama—mulai berjalan. Dalam kepercayaan Jawa, ini semacam “tahun baru” kecil yang datang setiap 210 hari, bukan setiap 365 hari.

Peta sepekan: dari Selasa Pahing sampai Senin Pon

Mari kita bedah satu per satu.

27 Oktober 2026, Selasa Pahing. Neptu 12, hasil dari Selasa (3) ditambah Pahing (9). Wuku masih Watugunung. Dalam primbon, Selasa Pahing digambarkan sebagai weton yang pandai, banyak akal, dan bisa memberi pencerahan. Tapi ada catatan: beberapa sumber menyebut hari-hari tertentu di Watugunung kurang cocok untuk perjalanan jauh. Anggap saja ini pengingat, bukan larangan.

28 Oktober 2026, Rabu Pon. Neptu 14, tertinggi di pekan ini. Rabu (7) ditambah Pon (7). Wuku Watugunung. Neptu besar sering dianggap sebagai “bobot” energi, tapi bukan jaminan keberuntungan. Ia lebih seperti modal awal: semakin besar, semakin besar pula tanggung jawab untuk mengelolanya.

29 Oktober 2026, Kamis Wage. Neptu 12, dari Kamis (8) ditambah Wage (4). Wuku Watugunung. Ini hari yang relatif “tenang” secara hitungan, cocok untuk pekerjaan yang butuh ketelitian daripada gebrakan.

30 Oktober 2026, Jumat Kliwon. Neptu 14, dari Jumat (6) ditambah Kliwon (8). Wuku Watugunung. Jumat Kliwon sering disebut sebagai hari yang “kuat” dalam tradisi Jawa, sering dipakai untuk hajatan atau pertemuan penting.

31 Oktober 2026, Sabtu Legi. Neptu 14, dari Sabtu (9) ditambah Legi (5). Ini hari terakhir Wuku Watugunung. Sebuah penutup siklus yang berat, sekaligus pintu menuju halaman baru.

1 November 2026, Minggu Pahing. Neptu 14, dari Minggu (5) ditambah Pahing (9). Wuku berganti ke Sinta. Dalam banyak primbon, pergantian wuku dari Watugunung ke Sinta dianggap sebagai waktu yang tepat untuk “mulai lagi”: membuka usaha, memulai kebiasaan baru, atau sekadar beres-beres rumah.

2 November 2026, Senin Pon. Neptu 11, dari Senin (4) ditambah Pon (7). Wuku Sinta masih berjalan. Neptu turun, tapi bukan berarti hari kalah. Ia hanya butuh strategi yang berbeda: lebih sabar, lebih pelan, lebih mendengar.

Kenapa 1 November terasa penting

Dalam siklus Pawukon, Watugunung adalah wuku yang “paling tua”. Ia berada di ujung, setelah semua wuku lain selesai. Sinta adalah yang “paling muda”, yang membuka lembaran baru. Peralihan ini tidak terjadi setiap bulan. Ia datang setiap 210 hari, atau sekitar enam bulan sekali dalam kalender Masehi.

Ki Totok Yasmiran, ahli penanggalan Jawa dari Museum Radyapustaka Solo, menjelaskan watak Watugunung dalam rutinitas primbonnya di detikJateng. “Watugunung memberikan pengaruh berupa ketegasan, kecerdasan dalam mengambil keputusan, dan kemampuan menghadapi perubahan dengan penuh keyakinan,” ujarnya.

Ketegasan itu, lanjut Ki Totok, adalah pisau bermata dua. Ia bisa membuat seseorang tegas dan berwibawa, tapi juga bisa membuatnya keras kepala dan sulit mendengar. “Hatinya terang, tetapi tak terpancar dari raut wajahnya,” tulisnya.

Sinta, di sisi lain, sering digambarkan sebagai wuku yang lembut, penuh harapan, dan dekat dengan hal-hal yang baru. Peralihan dari Watugunung ke Sinta bisa dibaca sebagai ajakan untuk berhenti sejenak, menutup babak yang sudah selesai, dan membuka yang baru dengan kepala dingin.

Mangsa Kalima: musim yang belum selesai

Ada satu lapisan lagi yang jarang dibahas: mangsa. Sepekan ini masih berada di Mangsa Kalima-manggala, yang berlangsung dari 13 Oktober sampai 8 November. Dalam kalender pranata mangsa, Kalima adalah masa peralihan dari kemarau ke penghujan. Hujan mulai turun, tapi belum merata. Petani mulai menunggu, tapi belum berani menanam.

“Kalima itu musimnya ‘mangsa rendheng durung tekan’, hujan belum benar-benar datang. Jadi orang Jawa dulu tidak buru-buru. Mereka melihat tandanya dulu,” kata Ki Demang, penjaga salah satu situs kalender Jawa online, dalam catatan yang ia tulis di laman almanaknya.

Mangsa ini punya watak yang mirip dengan wuku Sinta: baru, tapi belum stabil. Baru dimulai, tapi belum bisa diandalkan. Cocok untuk persiapan, belum untuk perayaan besar.

Catatan kecil: kenapa tanggal Jawa bisa beda sehari

Ada satu hal yang perlu diluruskan sebelum kamu menyimpan kalender ini. Beberapa sumber menulis 27 Oktober 2026 sebagai 14 Jumadilawal 1960. Sumber lain menulis 15 Jumadilawal. Kompas.com edisi 25 Oktober mencatat 27 Oktober sebagai 14 Jumadilawal, sementara Ki Demang dan DetikJateng mencatatnya sebagai 15 Jumadilawal.

Perbedaan sehari ini bukan kesalahan. Ia muncul karena perbedaan patokan hisab dan penentuan awal bulan Jawa. Ada yang memakai kriteria Aboge, ada yang Asapon, ada yang mengikuti hisab hakiki. Semuanya punya dasar, dan semuanya punya pengikut.

Yang penting: pilih satu sumber dan pakai secara konsisten. Jangan mencampur dua penanggalan dalam satu perencanaan. Kalau kamu memakai Ki Demang untuk menentukan hari baik, pakailah Ki Demang untuk semuanya. Kalau memakai Kompas, pakailah Kompas.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.