Jateng

Bau Apek Jas Hujan Bukan Takdir: Ini Cara Merawatnya Agar Tahan Semusim Penuh

Theo Adi Pratama | 27 Oktober 2026, 08:11 WIB
Bau Apek Jas Hujan Bukan Takdir: Ini Cara Merawatnya Agar Tahan Semusim Penuh
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Jas hujan karet yang bau apek dan mengelupas bukan takdir musim hujan, melainkan akibat kebiasaan menyimpan basah, menjemur di bawah matahari langsung, dan mencuci dengan deterjen keras—tiga dosa kecil yang bikin jas hujan cuma tahan satu musim.

Bayangkan hujan pertama November nanti. Kamu berhenti di pinggir jalan, membuka bagasi motor, dan meraih jas hujan karet kesayangan. Begitu dilipat, baunya menusuk: campuran karet, keringat, dan sesuatu yang mirip kaos kaki basah yang terlupakan seminggu. Di bagian dalam, ada lapisan putih tipis yang mulai mengelupas.

Kamu tetap memakainya karena tidak ada pilihan lain. Tapi sepanjang perjalanan, yang kamu pikirkan bukan jalanan licin, melainkan kapan harus membeli jas hujan baru.

Padahal, jas hujan karet bisa bertahan satu musim penuh—malah lebih—kalau dirawat dengan cara yang benar. Masalahnya, banyak orang merawat jas hujan seperti merawat pakaian biasa. Dan di situlah semuanya mulai salah.

Baca Juga: Ponco, Celana Terpisah, atau mARTabak? Tiga Cara Menghadapi Hujan yang Sama-sama Benar

Bau apek ada dua jenis, dan satu di antaranya tidak bisa diselamatkan

Sebelum buru-buru mencuci, kenali dulu baunya. Ada dua jenis bau yang sering tertukar.

Bau pertama adalah bau asam, apek, seperti handuk yang terlambat diangkat dari mesin cuci. Ini bau bakteri dan jamur yang tumbuh karena jas hujan disimpan dalam keadaan lembap. Bau jenis ini masih bisa dihilangkan dengan mencuci dan mengeringkan dengan benar.

Bau kedua adalah bau karet atau plastik yang tajam, menyengat, seperti obat nyamuk atau lem. Ini bukan bau kotoran. Ini bau bahan yang sudah rusak. Kalau bagian dalam jas hujan sudah terasa lengket dan ada lapisan putih yang mengelupas, itu tanda waterproof coating-nya sudah habis. Bau ini tidak akan hilang meski dicuci berkali-kali. Jas hujannya sudah waktunya diganti.

Pembuat jas hujan di Jepang, seperti dikutip dari catatan perawatan raincoat edisi 27 Agustus 2026, menyebut perbedaan ini penting. Salah mendiagnosis bau berarti salah mencuci, dan salah mencuci bisa mempercepat kerusakan.

Baca Juga: Kalender Jawa 27 Oktober–2 November 2026: Neptu 14 di Rabu, Jumat, Sabtu, dan Minggu

Dosa pertama: langsung melipat jas hujan basah

Ini kesalahan paling umum, dan paling merusak. Habis menerobos hujan, jas hujan langsung dilipat, dimasukkan ke bagasi motor, lalu ditinggal berjam-jam.

Air hujan membawa debu, minyak jalanan, dan partikel polusi. Kalau jas hujan disimpan basah, semua kotoran itu terperangkap di lipatan. Dalam hitungan jam, bakteri dan jamur mulai bekerja. Dalam hitungan hari, baunya sudah tidak bisa diajak kompromi.

Merdeka.com edisi 8 Oktober 2026 menulis dengan tegas: “Hindari langsung melipatnya saat kondisi masih basah kuyup karena kelembapan yang terjebak di dalam lipatan kain akan menciptakan ekosistem mikroorganisme yang subur bagi jamur penyebab bau apek.”

Solusinya sederhana. Begitu sampai rumah, bilas jas hujan dengan air bersih mengalir. Tidak perlu sabun setiap hari. Cukup siram untuk menghilangkan lumpur dan sisa air hujan. Kalau terlihat sangat kotor, baru gunakan sabun lembut.

Baca Juga: Bukan Cuma Jemuran Biasa: Trik Emak-Emak Kampung Bikin Baju Kering di Tengah Hujan

Dosa kedua: menjemur di bawah matahari langsung

Matahari memang cepat mengeringkan. Tapi untuk jas hujan karet, matahari adalah musuh.

Sinar UV membuat bahan karet dan PVC kehilangan elastisitas. Dalam jangka pendek, jas hujan terasa kaku. Dalam jangka panjang, muncul retakan halus yang tidak terlihat sampai air mulai merembes masuk. Bagian yang paling sering kena adalah lipatan dan sambungan seal.

Salman Akbar Kusuma, Marketing Manager Respiro Indonesia, mengatakan hal yang sama saat ditemui Otorider edisi 9 September 2026. “Sudah gitu dikeringin. Tapi kalau bisa jangan kena matahari langsung,” ujarnya.

Cara yang benar: gantung jas hujan dengan hanger di tempat teduh yang berangin. Teras rumah, dekat jendela, atau di bawah kanopi yang masih kena angin. Pastikan bagian dalam dan luar sama-sama kering sebelum disimpan. Jangan pakai setrika atau hair dryer. Panasnya merusak lapisan pelindung air.

Baca Juga: Jangan Tunggu Basah Kuyup: 7 Cara Cek Genteng Bocor Sebelum Musim Hujan Tiba

Dosa ketiga: mencuci dengan deterjen, memutihkan, dan menyikat

Jas hujan bukan kaos. Ia tidak butuh deterjen berbusa, apalagi pemutih.

Deterjen dan pemutih merusak lapisan waterproof. Sabun cuci piring yang keras juga bisa menghilangkan lapisan lilin pelindung. Menyikat permukaan jas hujan—apalagi bagian dalam yang berlapis karet—membuat lapisan itu tergores dan mengelupas.

Condro, pemilik bengkel dan toko variasi KMS yang menyediakan jas hujan merek Axio dan GMA, menjelaskan cara yang lebih aman. “Saat menggunakan sabun untuk membersihkan, jangan dikucek karena akan merusak jas hujan. Untuk bahan yang parasit, biasanya di bagian dalam terdapat lapisan karet, kalau dikucek bisa rusak. Lebih baik diusap menggunakan tangan atau busa seperti mencuci motor,” katanya, seperti dikutip Federal Oil edisi 22 Juli 2026.

Sabun yang disarankan adalah sabun cair lembut atau sabun bayi. Busanya sedikit, tapi cukup untuk mengangkat kotoran. Setelah dibilas, keringkan dengan cara digantung, bukan dilipat.

Trik tambahan: bedak bayi dan silica gel

Ada dua trik murah yang bisa memperpanjang umur jas hujan karet.

Pertama, taburkan bedak bayi tipis-tipis di bagian dalam jas hujan setelah benar-benar kering. Bedak mencegah permukaan karet saling menempel saat dilipat, dan membantu menyerap sisa kelembapan. Jangan berlebihan. Cukup lapisan tipis yang merata.

Kedua, simpan jas hujan di pouch terpisah bersama satu atau dua sachet silica gel. Silica gel menyerap kelembapan di ruang penyimpanan, sehingga jamur tidak punya kesempatan tumbuh. Ganti silica gel setiap bulan, atau setiap kali terasa sudah jenuh.

Untuk bau ringan yang masih membandel, rendam jas hujan sebentar dalam air hangat yang dicampur sedikit cuka putih atau perasan jeruk lemon. Asam alaminya membantu menetralkan bau dan menghambat jamur. Bilas sampai bersih, lalu keringkan di tempat teduh.

Kapan harus berhenti menolong dan beli baru

Tidak semua jas hujan bisa diselamatkan. Kalau baunya sudah seperti karet terbakar, bagian dalam lengket, dan lapisan putihnya mengelupas, itu tanda coating sudah habis. Mencuci hanya akan membuang waktu.

Jas hujan karet murah memang tidak dirancang untuk bertahan selamanya. Tapi dengan perawatan yang benar, ia bisa melewati satu musim hujan tanpa bau apek, tanpa lengket, dan tanpa harus diganti di tengah musim.

Yang perlu diingat: merawat jas hujan bukan pekerjaan rumit. Ia hanya butuh kesadaran bahwa jas hujan juga perlu dibilas, dikeringkan, dan disimpan dengan benar. Tiga menit setelah sampai rumah jauh lebih murah daripada membeli jas hujan baru setiap bulan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.