Jateng

Jam 8-10 Pagi Adalah Puncak Ketajaman Otak, Tapi Justru Sering Dihabiskan untuk Rapat

Theo Adi Pratama | 22 Oktober 2026, 08:46 WIB
Jam 8-10 Pagi Adalah Puncak Ketajaman Otak, Tapi Justru Sering Dihabiskan untuk Rapat
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Jam 8 sampai 10 pagi bukan sekadar waktu di mana kopi masih hangat dan jalanan belum macet parah, tapi periode di mana otak manusia secara biologis berada di puncak ketajamannya—sebuah jendela emas yang sayangnya justru sering dihabiskan untuk rapat yang tidak perlu dan email yang tidak mendesak.

Bayangkan tubuhmu seperti ponsel yang baru dicas semalaman. Baterai penuh. Sistem operasi sudah selesai update. Tidak ada aplikasi yang berjalan di latar belakang. Itulah kondisi otak di pagi hari.

Begitu kamu bangun, tubuh melepaskan gelombang kortisol yang disebut cortisol awakening response. Kadarnya melonjak 15 sampai 45 menit setelah mata terbuka, lalu memuncak dalam 30 hingga 45 menit pertama.

Kortisol sering dituduh sebagai hormon stres, tapi di pagi hari ia bekerja seperti barista internal: membersihkan kabut otak, melepaskan glukosa untuk energi, dan menyiapkan sistem saraf untuk bekerja.

Dokter Egha Zainur Ramadhani menyebutnya dengan bahasa yang lebih sederhana. “Ketajaman otak paling baik itu di pagi hari. Energi masih penuh, hormon relatif stabil. Jadi keputusan penting dan pekerjaan berat sebaiknya diselesaikan di pagi hari,” ujarnya dalam program Dialog Ramadan di Pro 1 RRI Sungailiat, seperti dikutip dari RRI.

Baca Juga: 72 Persen Meeting Gagal, Tapi Morning Briefing Masih Dipertahankan: Ada Apa?

Bukan sekadar “masih segar”, ini soal arsitektur kognitif

Studi yang diterbitkan di sportedu.org.ua pada 2026 menguji 60 mahasiswa sehat dalam tiga sesi: pagi (08.00–11.00), siang (13.00–15.00), dan sore (17.00–19.00).

Mereka menjalani tes fungsi eksekutif yang mengukur perhatian, Fleksibilitas kognitif, dan kontrol inhibisi. Hasilnya, kelompok yang diuji di pagi hari menunjukkan performa yang secara signifikan lebih baik dibanding kelompok siang, dengan nilai p < 0,01.

Yang lebih menarik, peneliti mencatat bahwa performa kognitif lebih terkait dengan periode pengujian (pagi, siang, sore) ketimbang jam persisnya. Artinya, bukan soal “jam 08.17” atau “jam 09.42”, tapi soal jendela biologis yang lebih luas: pagi adalah pagi, dan otak tahu itu.

Studi lain di JoVE pada September 2026 mengonfirmasi pola yang sama. Dengan 24 partisipan di lingkungan kerja nyata dan 21 di laboratorium, peneliti menemukan bahwa sustained attention—kemampuan mempertahankan fokus pada satu tugas dalam waktu lama—mencapai performa optimal di pagi hari. Sementara working memory justru lebih baik di sore hari, dan kontrol inhibisi relatif datar sepanjang hari.

Ini penting karena pekerjaan modern sering menuntut sustained attention: menulis laporan, membaca dokumen panjang, menganalisis data, atau memecahkan masalah yang butuh konsentrasi tanpa interupsi. Kalau tugas-tugas itu dikerjakan jam 2 siang, otak sudah tidak dalam kondisi prima untuk jenis pekerjaan tersebut.

Baca Juga: Kopi Tubruk vs Espresso: Yang Satu Menunggu Ampas, Yang Satu Menaklukkan Tekanan

Chronotype: kenapa jam 8-10 pagi bukan untuk semua orang, tapi untuk sebagian besar

Istilah “pagi” di sini perlu diperjelas. Riset tentang chronotype—kecenderungan alami tubuh untuk bangun dan tidur pada waktu tertentu—menunjukkan bahwa 65 persen orang masuk kategori Third Birds.

Puncak fokus mereka terjadi sekitar tiga jam setelah bangun tidur. Kalau bangun jam 5 pagi, puncaknya sekitar jam 8. Kalau bangun jam 6, puncaknya jam 9. Di situlah jendela 8-10 pagi muncul secara alami.

Kelompok Larks (14 persen) mencapai puncak hanya 30 menit setelah bangun, sehingga jam 8 pagi sudah sangat tajam. Kelompok Owls (21 persen) justru baru mencapai puncak fokus 11 jam setelah bangun, yang jatuh di sore atau malam hari.

Jadi, ketika artikel ini berbicara tentang “jam 8-10 pagi”, itu adalah rata-rata biologis, bukan dogma. Tapi bagi mayoritas pekerja kantoran yang bangun sekitar jam 5 sampai 6 pagi, jendela itu memang jatuh tepat di awal jam kerja.

Baca Juga: Meja Kerja Berantakan Bikin Fokus Turun 20 Persen: Ini Penjelasan Ilmiahnya

Kenapa jendela ini sering terbuang

Di sinilah ironinya. Jam 8 sampai 10 pagi adalah saat otak paling siap untuk kerja berat, tapi justru di jam yang sama banyak kantor menggelar morning briefing, membaca email, dan rapat koordinasi.

Salah satu artikel yang pernah dibahas di jateng.akurat.co pada 20 Oktober 2026 menyebut bahwa sekitar 50 persen meeting berlangsung di rentang pukul 09.00–11.00 dan 13.00–15.00—persis jam-jam ketika kebanyakan orang mencapai puncak produktivitas alami.

Padahal, penelitian di Fast Company pada Maret 2026 menyebut bahwa jam-jam puncak performa otak adalah “zona untuk fokus, pemecahan masalah kompleks, dan pemikiran kreatif—tapi hanya jika kamu melindunginya”.

Artinya, fokus pagi bukan sumber daya yang otomatis tersedia. Ia bisa habis dipakai untuk hal-hal yang sebenarnya bisa dikerjakan kapan saja.

Seorang pekerja di Jakarta, Rizky, mengaku dulu selalu menyimpan tugas paling berat—menyusun proposal dan membaca laporan keuangan—untuk sore hari.

“Karena pagi rasanya sibuk banget, meeting di mana-mana. Tapi begitu aku coba pindahin kerjaan berat itu ke jam 8 sampai 10, hasilnya beda. Pikiran lebih jernih, nggak gampang bingung,” katanya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.