Jateng

Tersembunyi di Kendal, Jawa Tengah: Pesona Desa Boja yang Penuh Sejarah dan Keistimewaan, Begini Asal Usulnya

Theo Adi Pratama | 23 Juni 2024, 09:30 WIB
Tersembunyi di Kendal, Jawa Tengah: Pesona Desa Boja yang Penuh Sejarah dan Keistimewaan, Begini Asal Usulnya

JATENG.AKURAT.CO, Desa Boja merupakan salah satu daerah yang terletak di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Meski terletak di Kendal, Desa Boja berdekatan dengan Semarang, membuatnya memiliki akses yang strategis antara kedua wilayah tersebut.

Wilayah Desa Boja membentang dari timur di Pertigaan Jamban hingga ke barat di Pasar Boja, dan dari Dusun Sembung di selatan hingga Dusun Ngadibolo di sebelah utara.

Desa ini terdiri dari 10 dusun yaitu Jagalan, Sapen, Gentan Lor, Gentan Kidul, Kauman, Gedangan, Penaton, Pilang, Klesem, dan Ngadibolo.

Hampir 65% dari wilayah desa ini merupakan permukiman, sementara sisanya adalah persawahan dan lahan kebun masyarakat.

Baca Juga: Menjelajahi Pesona Tersembunyi Boja, Kendal: 7 Destinasi Wisata Hits yang Wajib Dikunjungi di Tahun 2024

Asal Usul dan Sejarah Desa Boja

Sejarah Desa Boja tidak dapat dipisahkan dari tokoh terkenal, Ki Ageng Pandanaran, yang dikenal sebagai Bupati pertama Semarang.

Ki Ageng Pandanaran adalah keturunan dari Pangeran Mode Pandan, seorang keturunan Sultan Demak, Raden Bagus Sebrang Lor atau Pangeran Adipati Sepuh.

Pangeran Mode Pandan bersama putra dan putrinya, Raden Pandanaran dan Ni Pandansari, serta beberapa pengawal, meninggalkan Demak menuju barat daya untuk menyebarkan agama Islam.

Mereka sampai di daerah yang disebut Pulau Tiring, di mana Pangeran Mode Pandan mendirikan pesantren dan mengajarkan tata cara bertani yang baik.

Nama Semarang konon berasal dari kata "Asem" dan "Arang" karena daerah tersebut dulunya jarang terdapat pohon asem.

Pulau Tiring kemudian dikenal dengan nama Semarang karena pertumbuhan tanaman yang subur dan kehadiran pesantren.

Setelah mendirikan pesantren di Semarang, Raden Pandanaran menjadi Bupati pertama di Semarang, tetapi kemudian ia memilih untuk menyebarkan agama Islam lebih jauh dan pergi ke arah selatan, ke daerah yang sekarang disebut Tembayat, dan dikenal sebagai Sunan Bayat.

Baca Juga: Menjelajahi Cita Rasa Magelang: Rekomendasi Rumah Makan yang Menyajikan Kuliner Tradisional untuk Kumpul Keluarga

Perjalanan Ni Pandansari dan Pembentukan Desa Boja

Setelah kepergian Raden Pandanaran, adiknya Ni Pandansari berkeinginan mengikuti jejak kakaknya.

Bersama dengan pengawal setianya, Ki Wonobodro dan Ki Wonosari, Ni Pandansari menuju selatan Semarang ke daerah Blimbing Segulung, di mana ia menjadi murid di perguruan yang dipimpin oleh Ki Jiwaraga.

Di sekitar perguruan tersebut terdapat daerah yang dikenal dengan Tegal Sekaran, terkenal dengan keindahan bunganya.

Di sini, Ni Pandansari menunjukkan kemampuannya dengan menciptakan sumber mata air yang disebut Sendang Sebrayat.

Kemudian, Ni Pandansari bertemu dengan Ki Dhapuraja, seorang utusan dari Keraton Cirebon.

Keduanya menikah dan memutuskan untuk hidup mandiri.

Mereka kemudian membuka daerah baru dan menyebarkan agama Islam.

Saluran air yang dibuat oleh Ni Pandansari dari Sendang Sebrayut menjadi sangat penting bagi warga sekitar, dikenal sebagai saluran se Dapu.

Baca Juga: Mengungkap Fakta Unik Kebumen: Daerah yang Penduduknya Memiliki Gaya Hidup Sederhana dengan Deretan Pantai Tercantik

Akhir Hayat dan Warisan

Setelah kematian suaminya, Ki Dhapuraja, Ni Pandansari tinggal bersama Ki Wonobodro.

Ki Wonobodro kemudian mempunyai seorang anak bernama Kyai Boja, yang menjadi lurah pertama di Desa Boja.

Kyai Boja dikenal sebagai pemimpin yang sederhana dan dihormati oleh masyarakat.

Hingga akhir hayatnya, Kyai Boja dimakamkan di pekuburan sebelah selatan desa, dengan makam yang tidak dibuat permanen sesuai dengan kesederhanaannya.

Desa Boja, dengan sejarahnya yang kaya dan tokoh-tokoh pentingnya, tidak hanya menjadi tempat tinggal yang subur dan strategis, tetapi juga menjadi saksi bisu perjalanan penyebaran agama Islam dan perkembangan sosial masyarakat di wilayah tersebut.

Desa ini terus berkembang dengan tetap mempertahankan nilai-nilai sejarah dan budaya yang diwariskan oleh para pendahulunya.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.