Jateng

Mencari Jejak Sejarah Peninggalan Keraton Kerto yang Hilang: Sebuah Perjalanan Melalui Umpak kerto di Desa Pleret, Kabupaten Bantul

Theo Adi Pratama | 28 April 2024, 10:14 WIB
Mencari Jejak Sejarah Peninggalan Keraton Kerto yang Hilang: Sebuah Perjalanan Melalui Umpak kerto di Desa Pleret, Kabupaten Bantul

JATENG.AKURAT.CO, Dusun Kerto, yang terletak di Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, adalah rumah bagi sebuah peninggalan bersejarah yang menggugah, dikenal sebagai Umpak Kerto.

Dua dari empat umpak aslinya masih berdiri tegak, menyimpan cerita yang kaya akan sejarah dan kebudayaan.

Umpak Kerto merupakan bagian tak terpisahkan dari masa kejayaan Keraton Kerto, yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Agung.

Menurut catatan sejarah dalam Babad Momana dan Babad ing Sakala, pembangunan Keraton Kerto dimulai pada tahun 1617 M, dengan penyiapan lahan di Dusun Kerto.

Keraton ini kemudian selesai dibangun pada tahun 1618 M, menjadi kediaman bagi Sultan Agung dan pusat pemerintahan yang penting.

Baca Juga: Menelusuri Jejak Sejarah dan Tradisi Megalitik di Gunungkidul: Menhir, Antara Warisan Prasejarah serta Tantangan Konservasi

Seiring berjalannya waktu, Keraton Kerto mengalami penambahan bangunan, seperti pembangunan Balai Prabayaksa pada tahun 1620 M, dan pembangunan Siti Hinggil pada tahun 1625 M.

Siti Hinggil, yang terinspirasi oleh bangunan serupa di Keraton Kasepuhan Cirebon, menjadi bangunan terakhir yang didirikan di kompleks Keraton Kerto.

Umpak Kerto yang terletak di Dusun Kerto diperkirakan merupakan bagian dari Siti Hinggil ini, mengisyaratkan kejayaan dan kemegahan masa lalu.

Umpak Kerto sendiri terdiri dari dua buah umpak batu berukir yang tersusun dalam orientasi utara dan selatan, dengan jarak sekitar 30 meter di antara keduanya.

Umpak ini memiliki pinggiran miring yang berfungsi untuk mempermudah aliran air hujan yang merembes di tiang.

Baca Juga: Memahami Sejarah Peringatan Hari Puputan Klungkung, 28 April: Sebuah Peristiwa Bersejarah yang Membentuk Daerah Klungkung di Bali

Diukir di permukaan umpak adalah motif hias berbentuk sulur-suluran dari huruf Arab mim, ha, dan dal, yang jika disusun membentuk nama Muhammad, menunjukkan pengaruh agama dalam seni dan arsitektur pada masa itu.

Untuk melindungi warisan berharga ini, Umpak Kerto kini diberi pengaman berupa pagar bambu.

Kedua umpak juga telah tercatat dalam inventaris Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY.

Namun, seiring berjalannya waktu, beberapa elemen seperti antefiks telah hilang, meninggalkan jejak yang meminta pemahaman dan restorasi yang cermat.

Baca Juga: Sejarah Peringatan Hari Keselamatan dan Kesehatan Kerja Sedunia: Memastikan Keselamatan dan Kesehatan di Tempat Kerja dalam Iklim yang Berubah

Umpak Kerto bukan hanya sekadar peninggalan bersejarah, tetapi juga sebuah jendela yang membawa kita kembali ke masa kejayaan dan kebudayaan yang berakar dalam sejarah Indonesia.

Dengan perlindungan dan penghargaan yang tepat, kita dapat memastikan bahwa Umpak Kerto terus menginspirasi dan mengajarkan kepada generasi mendatang tentang kekayaan sejarah dan kebudayaan nenek moyang kita.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.