Dalam sebuah simulasi makan siang sehat, bergizi, dan terjangkau di Kajen, Kabupaten Pekalongan, pada Senin 22 Januari 2024 lalu, Ketua Aksi Sahabat Gibran (AksiBaGi), Dadi Krismatono, menyoroti potensi bisnis yang muncul seiring dengan kebutuhan penyediaan makan siang setiap hari.
Baca Juga: Program Makan Siang Gratis Prabowo-Gibran Berpotensi Hemat Biaya Konsumsi Rumah Tangga Hingga Rp200 Triliun per Tahun
Dadi menggambarkan bahwa setiap mata rantai dalam penyediaan makanan menjadi peluang bagi para wirausahawan lokal.
“Bayangkan jika dalam satu SD ada 300 murid berarti ada kebutuhan 300 porsi makan siang setiap hari. Ini peluang bisnis yang baik bagi para wirausahawan lokal. Setiap mata rantai penyediaan makanan ini adalah peluang, bahkan sesederhana menjadi tukang antar makanan dari tempat masak ke sekolah pakai motor atau mobil,” papar Ketua Aksi Sahabat Gibran (AksiBaGi) Dadi Krismatono.
Sebagai contoh, pengiriman makanan dari tempat masak ke sekolah menggunakan motor atau mobil bisa menjadi peluang bisnis yang sederhana namun efektif.
Dadi Krismatono menambahkan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada pemberian makanan, tetapi juga akan dibangun dengan tata kelola dan tata kelembagaan yang baik.
Menyadari potensi tersebut, AksiBaGi bekerja sama dengan Perkumpulan Penyedia Jasaboga Indonesia (PPJI) untuk menyelenggarakan pelatihan kiat berwirausaha.
Materi pelatihan mencakup persiapan bisnis jasaboga, keamanan pangan, dan kebutuhan nutrisi untuk anak dan remaja.
“Kita sudah berjalan di lima kota atau kabupaten. Tiap titik dihadiri sedikitnya 500 orang yang antusias dengan program ini karena manfaatnya, baik kepada anak-anak kita, pemanfaatan biaya konsumsi rumah tangga, maupun peluang menjadi wirausaha. Tidak ada program capres-cawapres lain yang membawa dampak ekonomi seluas ini," tambah Dadi.
Wakil Sekjen II PPJI, Budi Syahmenan, optimis bahwa program makan siang gratis ini akan menjadi katalisator bagi pertumbuhan kewirausahaan lokal yang lebih luas.
Budi menjelaskan bahwa setiap porsi makan siang menciptakan rantai nilai ekonomi yang melibatkan berbagai sektor, termasuk peternakan, perdagangan, transportasi, dan industri kuliner.
“Contoh sederhana saja. Ada yang bilang, ‘Pak, saya nggak bisa masak, tapi saya punya sepeda.’ Saya sampaikan, ‘Bapak tetap bisa berperan untuk mengantar bahan baku dari pasar ke dapur atau dari dapur ke sekolah,’” ujar Budi.
Pendekatan ini, menurut Budi, akan memberikan dorongan positif pada industri jasaboga nasional, yang pada akhirnya berakar pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta komunitas di sekitar sekolah.
Program ini tidak hanya diakui oleh wirausahawan lokal, tetapi juga mendapat dukungan dari PPJI, yang melihat potensi dampak positif pada ekonomi rakyat.
Budi menekankan bahwa jarang ada industri yang memiliki akar kuat pada UMKM dan komunitas, dan program Prabowo-Gibran mampu membuat industri jasaboga tumbuh sambil tetap memperhatikan ekonomi rakyat.
“Jarang ada industri yang akarnya UMKM dan komunitas. Program makan siang gratis Prabowo-Gibran ini akan membuat industri jasaboga menggeliat tapi tetap berakar pada ekonomi rakyat,” ujar Budi.
Kolaborasi dan koordinasi yang efektif antara kementerian, lembaga, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah dianggap sebagai kunci keberhasilan program ini.
Program AksiBaGi, yang saat ini telah berjalan di 20 kabupaten/kota di Jawa Tengah, akan terus digulirkan oleh relawan AksiBaGi di seluruh Indonesia.
Dengan manfaatnya yang mencakup aspek ekonomi, konsumsi rumah tangga, dan peluang wirausaha, program ini menjadi salah satu inisiatif capres-cawapres yang memiliki dampak ekonomi yang signifikan.
***