Jateng

Perjuangan Tiga Srikandi Emas Muaythai Semarang, Konsisten Menempa Mental hingga Raih Prestasi

Muhammad Husni Mushonifi | 26 Oktober 2026, 08:45 WIB
Perjuangan Tiga Srikandi Emas Muaythai Semarang, Konsisten Menempa Mental hingga Raih Prestasi

JATENG.AKURAT.CO, Tiga atlet putri Muaythai Kota Semarang tampil gemilang dengan menyumbangkan medali emas dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVII Jawa Tengah 2026 yang berlangsung di GOR Hatti Beriman, Kota Salatiga, Minggu (25/10/2026). 

Ketiganya adalah Karen Jenis Insoraki Yarangga, Cindy Calista Anikayanti, dan Keysha Putri Medhi Tiatira yang menunjukkan kemampuan terbaiknya di tengah persaingan ketat antaratlet dari berbagai daerah.

Keberhasilan ketiga atlet tersebut menjadi bukti kerja keras, kedisiplinan latihan, serta kesiapan mental dalam menghadapi pertandingan. Masing-masing memiliki perjalanan dan pengalaman berbeda dalam menekuni olahraga bela diri asal Thailand tersebut, tetapi memiliki tujuan yang sama, yakni mempersembahkan prestasi terbaik bagi Kota Semarang.

Baca Juga: Raih Peringkat Kedua Porprov Jateng 2026, Muaythai Semarang Bangga dengan Perjuangan Atlet

Karen Jenis Insoraki Yarangga, atlet berusia 19 tahun yang saat ini menempuh pendidikan semester tiga jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO) di Universitas Negeri Semarang (Unnes), berhasil meraih medali emas di kelas 45 kilogram putri.

Prestasi tersebut menjadi peningkatan bagi Karen dibandingkan penampilannya pada Porprov sebelumnya. Pada ajang tahun lalu, ia harus puas membawa pulang medali perak ketika bertanding di kelas 48 kilogram putri. Kali ini, Karen memutuskan turun ke kelas 45 kilogram dan berhasil mencapai podium tertinggi.

Karen mengaku bersyukur atas pencapaian tersebut. Baginya, keberhasilan meraih medali emas bukan semata-mata hasil kekuatan dan kemampuannya sebagai atlet, melainkan juga berkat penyertaan Tuhan yang diyakininya selama menjalani pertandingan.

“Puji Tuhan, ini bukan karena kekuatan saya, tetapi semua berkat penyertaan Tuhan Yesus sehingga saya bisa sampai akhir ronde tadi,” ujar Karen seusai pertandingan.

Menurut Karen, pertandingan tidak selalu bisa dinilai mudah atau sulit hanya berdasarkan kemampuan lawan. Kesiapan mental menjadi faktor penting yang menentukan penampilan seorang atlet ketika berada di arena.

Ia menilai, tantangan terbesar dalam pertandingan justru sering kali datang dari diri sendiri, terutama ketika harus menghadapi rasa takut dan tekanan untuk meraih kemenangan.

“Sebenarnya, mau dibilang mudah atau tidak itu tergantung diri sendiri, terutama mental. Musuh sebenarnya adalah diri sendiri, jadi bagaimana kita menaklukkan rasa takut,” katanya.

Dalam pertandingan final, Karen menghadapi atlet tuan rumah dari Kota Salatiga. Meski harus bertanding di hadapan pendukung lawan, ia berusaha menjaga fokus dan kepercayaan dirinya hingga pertandingan berakhir.

Karen mengungkapkan, persiapannya menuju Porprov XVII Jawa Tengah 2026 telah berlangsung kurang lebih satu tahun. Setelah mengikuti Porprov sebelumnya, ia tidak lantas berpuas diri, melainkan terus menjalani latihan untuk meningkatkan kemampuan dan memperbaiki kekurangan.

Targetnya bukan sekadar lolos ke pertandingan, tetapi mampu meraih podium pertama.

“Persiapannya kurang lebih satu tahun. Setelah Porprov sebelumnya, tidak mungkin saya santai-santai. Pastinya tetap latihan supaya bukan cuma sekadar lolos, tetapi juga bisa mendapatkan podium satu,” ungkapnya.

Ia menyadari persaingan dalam Porprov tahun ini semakin ketat. Menurutnya, atlet yang sebelumnya mengalami kekalahan biasanya akan berlatih lebih giat untuk memperbaiki hasil dan berusaha mengalahkan juara bertahan.

Pengalaman meraih medali perak pada Porprov sebelumnya juga menjadi pelajaran penting bagi Karen. Ia tidak ingin menjadikan kekalahan sebagai alasan untuk berhenti mengejar prestasi.

“Yang saya pelajari, jangan langsung menyerah begitu saja karena ini bukan akhir dari prestasi saya,” tegasnya.

Untuk menghadapi pertandingan final, Karen berusaha mengendalikan rasa takut, menjaga konsentrasi, dan berdoa sebelum bertanding. Ia mengaku menyerahkan dirinya kepada Tuhan Yesus dan menjadikan keyakinan tersebut sebagai sumber kekuatan untuk menghadapi tekanan pertandingan.

Karen sendiri telah menekuni Muaythai selama kurang lebih 14 tahun. Pengalaman panjang tersebut membantunya membangun kemampuan teknik sekaligus kematangan mental ketika menghadapi lawan.

Sebelum tampil di Porprov, ia juga mengikuti Indonesia Championship Muay Thai di Bekasi dan berhasil meraih juara pertama di kelas 45 kilogram putri. Pengalaman tersebut menjadi bekal tambahan untuk menghadapi persaingan di tingkat provinsi.

Bagi Karen, medali emas Porprov kali ini bukanlah akhir perjalanan. Ia ingin terus meningkatkan kemampuan dan mempertahankan konsistensi prestasinya pada kejuaraan-kejuaraan berikutnya.

Sementara itu, keberhasilan mempertahankan gelar juga ditunjukkan Cindy Calista Anikayanti. Atlet berusia 23 tahun asal Serondol Kulon, Banyumanik, Kota Semarang, tersebut kembali meraih medali emas pada kelas fight 57 kilogram putri.

Cindy mengaku bersyukur karena mampu mempertahankan medali emas yang diraihnya pada Porprov sebelumnya. Keberhasilan tersebut menjadi pencapaian tersendiri karena ia kembali membuktikan kemampuannya di kelas yang sama.

“Alhamdulillah, saya bersyukur bisa mempertahankan emas kedua saya di Porprov tahun ini,” kata Cindy.

Ia mengaku bahagia dapat kembali membawa pulang medali emas dan mempersembahkannya kepada orang-orang yang selama ini mendukung perjalanan kariernya sebagai atlet.

“Alhamdulillah, bersyukur dan senang sekali bisa membawa pulang medali emas untuk membanggakan kedua orang tua, tentunya pelatih, dan orang-orang terdekat,” ujarnya.

Cindy mengungkapkan bahwa mempertahankan gelar bukan perkara mudah. Pertandingan berlangsung sengit dan menuntutnya untuk tetap fokus hingga menit-menit terakhir. Ia menyadari lawannya juga memiliki peluang untuk membalikkan keadaan sehingga setiap kesempatan untuk mengumpulkan poin harus dimanfaatkan dengan baik.

Dalam pertandingan tersebut, Cindy berupaya menjalankan strategi dengan mengambil poin dari lawan. Ketelitian membaca situasi dan menjaga konsentrasi menjadi bagian penting dari upayanya mempertahankan keunggulan hingga pertandingan berakhir.

“Strategi saya mengambil poin-poin dari lawan,” jelasnya.

Untuk menghadapi Porprov XVII Jawa Tengah 2026, Cindy menjalani persiapan kurang lebih satu tahun. Waktu tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan teknik, menjaga kondisi fisik, serta mematangkan strategi bertanding.

Perjalanan Cindy di dunia bela diri dimulai dari taekwondo. Ia kemudian beralih menekuni Muaythai ketika masih duduk di kelas dua SMA. Peralihan tersebut sempat membuatnya merasa canggung karena harus menyesuaikan diri dengan karakteristik teknik dan pola pertandingan yang berbeda.

Namun, Cindy berusaha menjalani proses adaptasi tersebut dengan tekun hingga akhirnya mampu membangun prestasi di cabang olahraga Muaythai.

Pengalamannya tidak hanya terbatas pada kejuaraan tingkat daerah. Cindy pernah mengikuti kejuaraan nasional untuk persiapan SEA Games Kamboja dan berhasil meraih medali perak. Ia juga pernah tampil di ajang prapekan olahraga nasional, meski belum berhasil melewati babak penyisihan.

Berbagai pengalaman itu menjadi bagian dari proses pembentukan dirinya sebagai atlet. Baginya, setiap pertandingan memberikan pelajaran untuk memperbaiki kemampuan dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan berikutnya.

Cindy pun membuka peluang untuk kembali bertanding pada Porprov mendatang. Ia berharap bisa melanjutkan perjuangan di kelas yang sama dan kembali memberikan hasil terbaik bagi Kota Semarang.

“Insyaallah, rencananya ada. Kalau memungkinkan, saya ingin tetap bertanding di kelas yang sama,” tuturnya.

Srikandi emas lainnya adalah Keysha Putri Medhi Tiatira, atlet berusia 20 tahun yang saat ini telah bekerja. Keysha mengaku sangat bersyukur karena kembali mendapatkan kesempatan untuk meraih medali emas dan mempersembahkan prestasi bagi Kota Semarang.

“Puji Tuhan, pertama-tama saya mengucap syukur kepada Tuhan Yesus karena masih diberi kesempatan untuk mendapatkan medali emas. Rasanya jujur senang, bahagia, dan pokoknya bersyukur,” ujar Keysha.

Berbeda dengan Karen dan Cindy yang menjalani persiapan Porprov selama kurang lebih satu tahun, Keysha mengungkapkan bahwa program persiapan khusus yang dijalaninya menjelang pertandingan kali ini berlangsung sekitar tiga bulan.

Meski demikian, pengalaman Keysha dalam menekuni Muaythai telah berlangsung cukup panjang. Ia mulai mendalami olahraga tersebut sejak duduk di bangku kelas satu SMP, sekitar 2018, dan terus menjalaninya hingga sekarang.

Dengan pengalaman sekitar delapan tahun, Keysha telah mengikuti sejumlah kejuaraan dan kompetisi, mulai dari kejuaraan daerah, seleksi daerah, hingga ajang prapekan olahraga provinsi. Ia juga pernah mengikuti berbagai pertandingan Muaythai lainnya.

Pengalaman tersebut menjadi modal penting bagi Keysha ketika harus menghadapi persaingan di Porprov XVII Jawa Tengah 2026. Meski persiapan khususnya berlangsung tiga bulan, ia telah memiliki dasar teknik dan pengalaman bertanding yang dibangun selama bertahun-tahun.

Keysha juga menunjukkan perkembangan melalui perubahan kelas pertandingan. Pada kompetisi tahun 2023, ia bertanding di kelas di bawah 60 kilogram. Sementara pada Porprov tahun ini, ia tampil di kelas di bawah 63,5 kilogram.

Perubahan kelas tersebut menjadi bagian dari perjalanan kompetitifnya sebagai atlet Muaythai. Ia terus berupaya menyesuaikan diri dengan kebutuhan pertandingan dan menjaga performa agar tetap mampu bersaing.

Bagi Keysha, medali emas yang diraih di Salatiga menjadi pencapaian yang patut disyukuri sekaligus motivasi untuk terus meningkatkan kemampuan. Ia ingin memanfaatkan pengalaman dari setiap kejuaraan sebagai bekal untuk menghadapi pertandingan selanjutnya.

Keberhasilan Karen, Cindy, dan Keysha memperlihatkan bahwa prestasi atlet tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknik ketika berada di arena. Kedisiplinan menjalani latihan, kesiapan menghadapi tekanan, serta pengalaman mengikuti berbagai kejuaraan turut berperan dalam membangun performa mereka.

Karen menunjukkan bagaimana kegagalan meraih emas pada Porprov sebelumnya dapat menjadi motivasi untuk bangkit dan memperbaiki pencapaian. Cindy membuktikan pentingnya konsistensi dengan mempertahankan gelar juara di kelas yang sama, sedangkan Keysha memperlihatkan bahwa pengalaman panjang dalam berlatih dan bertanding menjadi bekal berharga untuk menghadapi kompetisi tingkat provinsi.

Tiga medali emas dari atlet putri tersebut menjadi kontribusi penting bagi kontingen Muaythai Kota Semarang dalam persaingan Porprov XVII Jawa Tengah 2026. Lebih dari sekadar hasil pertandingan, pencapaian mereka mencerminkan proses panjang yang ditempuh para atlet untuk mengembangkan kemampuan, menjaga semangat, dan membawa nama daerah ke podium tertinggi.

Dengan usia yang relatif muda dan pengalaman bertanding yang terus bertambah, ketiganya memiliki peluang untuk melanjutkan perjalanan prestasi pada kejuaraan berikutnya. Konsistensi latihan, evaluasi pertandingan, serta dukungan pelatih dan lingkungan terdekat akan menjadi faktor penting dalam menjaga perkembangan mereka sebagai atlet Muaythai Kota Semarang.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.