Target Cuma 1 Emas Porprov Jateng 2026, Bagaimana Persiapan Paralayang Kota Semarang?

JATENG.AKURAT.CO, Kontingen Paralayang Kota Semarang mematok target realistis di Poprov Jateng 2026, yakni 1 emas.
Namun harapannya cabang olahraga ini mampu setidaknya menyumbang pula 1 perak dan 1 perunggu.
Hal ini dikatakan oleh Wishnu Pratomo selaku Ketua Komite Paralayang Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Kota Semarang pada Minggu (12/10/2025).
Baca Juga: Festival Telomoyo, Atraksi Kesenian dan Bazar UMKM pada Kejuaraan IPXC Paralayang, Cek Jadwal
Sebelumnya, atlet paralayang Kota Semarang sudah melakukan latihan serius di Bukit Meteseh Kecamatan Tembalang.
Namun begitu, Wisnu menyadari bahwa cabang olahraga ini masih didominasi oleh Sukiharjo dan Karanganyar.
Bahkan, pada 2023 lalu, paralayang Kota Semarang hanya berhasil mencicipi satu medali, yakni perunggu.
“Pada Porprov Jateng 2023 lalu kami hanya memperoleh 1 perunggu karena kondisi kekurangan atlet dan atlet yang cidera di hari pertama pertandingan,” ujar Wisnu.
Menurutnya, target satu emas ini tidak terlalu muluk mengingat nantinya Semarang Raya akan menjadi tuan rumah Porprov Jateng 2026.
Diakuinya, dominasi kekuatan dari Sukoharjo dan Karanganyar di cabor ini masih cukup kuat termasuk juga dari Banyumas dan Grobogan.
Terbukti dalam babak pra kualifikasi Porprov 2025 yang berlangsung Agustus kemarin, atlet-atlet dari Solo Raya, masih mendominasi.
“Atlet kami yakni Kris Diantoro dan M Afif Jauhari akan bermain di nomor tandem dan kemarin meraih perak di babak kualifikasi,” imbuhnya.
Ditambahkan, pihaknya memiliki 4 pilot aktif yang akan dimanfaatkan untuk ‘bertarung’ di Porprov tahun depan.
Diakui, izin dan kerelaan orang tua menjadi kendala besar dalam pembibitan atlet paralayang saat ini.
Pasalnya, masih banyak orang tua yang tidak memberikan izin untuk mengikuti jenis olahraga ini karena masih dianggap kurang aman untuk anak-anak.
“Kami pernah mencoba mensosialisasikan cabor paralayang ini sekolah tapi kembali lagi banyak orang tua yang tidak memberikan restu anaknya bermain di cabor karena merasa paralayang adalah olahraga ekstrim. Padahal sudah bisa kita katakan, ini cabor rekreatif,” imbuhnya.
Kendala lain adalah keterbatasan alat yang cukup mahal dan memiliki usia terbatas hanya sekitar 1-2 tahun.
Selain itu juga adanya kendala teknologi mulai dari kecepatan terbang, glade ratio hingga banyak hal lain yang berpengaruh pada performa atlet nantinya.
“Saat ini kami sedang mencari atlet atau pilot yang sudah pernah terbang dan belum pernah berprestasi di daerah lain kita coba tawarkan untuk bergabung di Kota Semarang. Atlet dari Banjarnegara dan Pati sudah bergabung dengan kami,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










