Jateng

Piere Tendean Ditutup, Jurug C Padat, Branjangan Sempit: Rute Macet Semarang-Solo-Surabaya Pagi Ini 23 Oktober 2026

Theo Adi Pratama | 23 Oktober 2026, 05:17 WIB
Piere Tendean Ditutup, Jurug C Padat, Branjangan Sempit: Rute Macet Semarang-Solo-Surabaya Pagi Ini 23 Oktober 2026
Foto Ilustrasi - Rute Macet Semarang, Solo dan Surabaya

JATENG.AKURAT.CO, Pagi ini, 23 Oktober 2026, tiga kota besar di Jawa sibuk dengan drama yang berbeda: Semarang masih merana karena drainase yang belum kelar, Solo terjebak proyek yang sudah berbulan-bulan jadi biang kerok, dan Surabaya baru saja lepas dari penutupan jalan acara Hari Santri—tapi langsung disambut penyempitan jembatan yang bikin truk antre dan sopir mengeluh rugi Rp1 juta sehari.

Bayangkan kamu berangkat kerja pagi-pagi, sudah siap dengan kopi di tumbler dan playlist yang tepat, tapi begitu keluar gang, kamu disambut barisan lampu merah yang tidak pernah selesai. Itulah rasa yang dibagi bersama oleh banyak orang di Semarang, Solo, dan Surabaya pagi ini. Tiga kota, tiga penyebab, tapi satu hasil: waktu yang hilang di jalan.

Baca Juga: Banaran Trail Run 2026: Lari 30K Menembus Kebun Kopi, Nanjak 1.055 Meter di Lereng Ungaran

Kemacetan di Semarang

Di Semarang, penyebabnya sudah terdengar seperti lagu lama. Jalan Kapten Piere Tendean, tepatnya di lingkar Taman Signature atau Parikesit yang mengarah ke Balai Kota dan Tugu Muda, masih ditutup hingga 28 Oktober 2026. Ini murni proyek drainase, bukan demo atau acara politik. Karyawan swasta di Simpang Lima, Fajar, sudah hafal getirnya. “Lupa kalau Pierre Tendean masih ditutup. Jadi harus muter lewat Pandanaran. Itu artinya nambah sepuluh menit kalau lagi apes,” katanya.

Sepuluh menit mungkin terdengar sepele. Tapi kalikan dengan lima hari kerja, dan kamu akan paham kenapa orang Semarang mulai menghafal jalur tikus di luar kepala.

Jalan Madukoro juga belum move on. Perbaikan rel kereta api oleh KAI Daop 4 Semarang masih berlangsung, dengan sistem buka-tutup satu sisi yang membuat akses menuju Bandara Ahmad Yani tersendat sejak pagi.

Titik langganan lain tidak perlu proyek baru untuk macet. Kedungmundu Raya, Kaligawe, Majapahit yang masih betonisasi, Siliwangi, dan Simpang Kalibanteng tetap padat merayap. Di Kalibanteng, lampu lalu lintas dari arah Jakarta terlalu lama, sekitar 150 detik, sehingga antrean kendaraan bisa mencapai Simpang Hanoman.

Baca Juga: Skybridge Run 2026 Bukan Cuma Olahraga, Ini Cara KAI Mendekatkan Kereta ke Anak Muda

Solo: proyek yang tak pernah selesai

Solo punya cerita yang lebih kronis. Jalan Yos Sudarso sisi barat, dari Simpang Nonongan sampai Coyudan, masih ditutup untuk revitalisasi hingga Desember 2026. Proyek ini sudah berjalan sejak Agustus, dan bagi warga yang setiap hari melintas, rasanya seperti tidak ada ujung.

Arus dari arah selatan menuju utara dialihkan, sementara dari Nonongan ke Coyudan masih bisa dilalui. Jembatan Jurug C tetap padat merayap tanpa ampun, terutama di jam sibuk pagi dan sore. Jalan Kebangkitan Nasional, dari Tugu Lilin hingga Beringin Penumping, juga masih dalam masa penyesuaian arus akibat proyek drainase yang berlangsung hingga 6 November 2026.

Bagi pengendara dari arah barat yang ingin ke Slamet Riyadi, jalan Dr Radjiman atau Simpang Gendengan bisa jadi opsi. Dari arah timur, memutar lewat Bhayangkara-Sriwedari atau Dr Radjiman Laweyan adalah jalur yang lebih masuk akal daripada memaksakan diri di Juanda yang sedang menyempit.

Baca Juga: Jangan Tunggu Air Masuk Rumah: 7 Barang yang Wajib Ada di Tas Siaga Sebelum Musim Hujan

Surabaya: selepas acara, disambut jembatan sempit

Surabaya punya drama yang berbeda. Penutupan Jalan Pahlawan untuk peringatan Hari Santri Nasional 2026 sudah berakhir pagi ini. Selama dua hari, arus dari Tugu Pahlawan dan Jalan Tembaan dialihkan ke Kramat Gantung dan Undaan. Kini jalan itu kembali dibuka, tapi bukan berarti lalu lintas langsung lega.

Di sisi timur, Jembatan Branjangan masih menjadi mimpi buruk bagi sopir truk. Penyempitan sekitar 200 meter sebelum jembatan membuat dua lajur menjadi satu, dan kendaraan besar harus bergantian melintas.

Ketua DPC Aptrindo Surabaya, I Wayan Sumadita, menyebut kondisi ini bukan hal baru. “Kalau kondisi normal, tetap bisa dua arah, cuma harus pelan-pelan karena jalannya sempit. Kalau ada kendaraan rusak, baru harus bergantian,” ujarnya.

Kerugiannya bukan main-main. Truk yang terhambat mengangkut barang menuju Pelabuhan Tanjung Perak bisa rugi hingga Rp1 juta sehari.

Di Jalan Frontage A Yani-Margorejo, proyek saluran yang sudah berlangsung sejak April 2026 masih memakan bahu jalan. Bekas galian dan barrier proyek mempersempit lajur, dan warga Margorejo mengeluh proyek itu seperti mangkrak. “Sewaktu dua hari lalu saya lewat saja nggak ada pekerja,” kata Halimah, Ketua LPMK Margorejo.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.