Jateng

Pancaroba Oktober 2026: Suhu 38 Derajat, Hujan Tiba-tiba, dan Tubuh yang Mulai Meriang

Theo Adi Pratama | 23 Oktober 2026, 03:15 WIB
Pancaroba Oktober 2026: Suhu 38 Derajat, Hujan Tiba-tiba, dan Tubuh yang Mulai Meriang
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Masuk musim pancaroba Oktober 2026, tubuh bukan cuma menghadapi panas 38 derajat dan hujan yang datang tiba-tiba, tapi juga flu, ISPA, dan gangguan pencernaan yang siap menyerang siapa saja yang lengah—dan kabar baiknya, yang dibutuhkan bukan suplemen mahal, melainkan kebiasaan kecil yang sering diremehkan.

Bulan Oktober 2026 bukan bulan yang bersahabat bagi tubuh. BMKG mencatat suhu maksimum di Jawa Tengah sempat menyentuh 38 derajat Celsius pada 17 Oktober, dan sampai sepekan terakhir Oktober, cuaca panas dan kering masih berlangsung di sebagian besar wilayah Indonesia.

El Nino yang sangat kuat membuat kemarau lebih panjang, dan awal musim hujan diprediksi mundur ke November hingga Desember .

Tapi yang membuat pancaroba 2026 terasa berbeda adalah ketidakpastiannya. Pagi panas menyengat, siang tiba-tiba hujan deras, malam kembali gerah. Tubuh dipaksa beradaptasi berkali-kali dalam sehari.

Dokter umum sekaligus content creator kesehatan, dr. Ikhsanuddin Qoth'i, menjelaskan dampaknya dengan lugas: “Musim pancaroba ini ada perubahan suhu, baik itu dingin ke panas atau sebaliknya, masalah kesehatan yang paling banyak terjadi adalah infeksi” .

Infeksi yang paling sering muncul adalah flu dan influenza, disusul infeksi tenggorokan dan saluran cerna . Di Kabupaten Bandung, kasus ISPA sempat melonjak pada pertengahan hingga akhir September 2026, dengan keterisian tempat tidur rawat inap di dua RSUD menembus 83 persen.

Angka itu bukan untuk menakuti, tapi untuk mengingatkan: pancaroba bukan sekadar pergantian musim, ia adalah ujian bagi sistem imun.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca 23 Oktober 2026: Semarang dan Solo Tidak Hujan, Tapi Tetap Bikin Berkeringat

Kenapa tubuh lebih mudah tumbang saat pancaroba

Ada alasan biologis yang membuat pancaroba terasa lebih berat dari musim lainnya.

Perubahan suhu yang drastis memaksa tubuh bekerja ekstra untuk menyesuaikan diri. Energi yang seharusnya dipakai untuk menjaga imun, sebagian teralihkan ke proses adaptasi.

Suhu dingin dan kelembapan tinggi juga menjadi kondisi ideal bagi virus penyebab flu, batuk, dan ISPA untuk menyebar lebih mudah .

Kurang tidur memperparah semuanya. Penelitian menunjukkan orang dewasa butuh tujuh hingga sembilan jam tidur per malam, dan saat kurang tidur, produksi sitokin—protein yang melawan infeksi—menurun drastis.

Di kota-kota seperti Semarang dan Solo, di mana jam kerja panjang dan godaan scroll tak ada habisnya, tidur sering jadi pos pertama yang dikorbankan.

Yang sebenarnya dibutuhkan tubuh (dan yang sering dilupakan)

Kementerian Kesehatan RI punya daftar yang cukup sederhana. Makanan bergizi seimbang, cairan yang cukup, aktivitas fisik rutin, tidur yang berkualitas, dan kebersihan diri . Tidak ada yang baru. Tidak ada yang mahal.

Tapi justru di situlah masalahnya. Hal-hal sederhana sering diabaikan karena terasa “kurang serius” dibanding membeli suplemen atau minum vitamin. Padahal, ahli gizi Ririn Caroline menyarankan buah-buahan kaya vitamin C seperti jeruk, lemon, kiwi, stroberi, pepaya, dan jambu biji—bukan suplemen mahal.

Sayuran hijau seperti bayam, kale, brokoli, dan sawi juga mengandung vitamin C, vitamin A, dan antioksidan yang membantu melindungi tubuh dari radikal bebas .

Untuk protein, ikan berlemak seperti salmon, sarden, dan makarel kaya omega-3 yang terbukti meningkatkan fungsi kekebalan tubuh . Bawang putih punya sifat antivirus dan antibakteri. Bawang bombai mengandung quercetin yang membantu tubuh merespons histamin . Semua bahan ini ada di pasar tradisional, bukan di apotek.

Dr. Ikhsan juga mengingatkan bahwa penyakit seperti flu memang bisa sembuh sendiri, tapi bukan berarti bisa diabaikan. “Sembuhnya enggak mungkin tanpa gejala,” ujarnya . Artinya, tubuh tetap harus melewati prosesnya, dan proses itu akan lebih ringan kalau imun dalam kondisi prima.

Tiga hal yang paling sering diremehkan

Dari semua rekomendasi, ada tiga yang paling sering diabaikan anak muda urban.

Pertama, cuci tangan. Terdengar sepele, tapi ini adalah garis pertahanan pertama terhadap virus dan bakteri. Kemenkes menekankan cuci tangan pakai sabun sebagai langkah paling dasar yang sering disepelekan .

Kedua, cukup minum air putih. Saat cuaca dingin, rasa haus berkurang, tapi kebutuhan cairan tetap sama. Kemenkes menganjurkan sekitar tujuh hingga delapan gelas per hari untuk menjaga fungsi sel, mendukung imun, dan menjaga saluran pernapasan tetap lembap .

Ketiga, tidur yang cukup. Ini yang paling sulit dilakukan, tapi paling berdampak. Tidur bukan sekadar istirahat. Selama tidur, tubuh memproduksi antibodi dan memperkuat sistem imun . Tanpa tidur yang cukup, semua vitamin dan makanan bergizi yang dikonsumsi tidak akan bekerja optimal.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.