Jateng

Menkomdigi dan GP Ansor Jateng Ingatkan Masyarakat Tentang Ancaman Siber, dari Phishing hingga Penyalahgunaan Data

Muhammad Husni Mushonifi | 19 September 2026, 13:18 WIB
Menkomdigi dan GP Ansor Jateng Ingatkan Masyarakat Tentang Ancaman Siber, dari Phishing hingga Penyalahgunaan Data

JATENG.AKURAT.CO, Ancaman kejahatan siber yang semakin beragam mendorong Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Tengah memperkuat literasi digital kader dan masyarakat. 

Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan Literasi Digital dan Workshop Cyber Security yang digelar Kementerian Komunikasi dan Digital bersama PW GP Ansor Jawa Tengah serta Garuda Spark di Pondok Pesantren Ash-Shodiqiyah Semarang, Jumat (18/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap berbagai modus kejahatan di ruang digital, mulai dari phishing, penipuan daring, pencurian data pribadi hingga penyalahgunaan identitas digital.

Ketua PW GP Ansor Jawa Tengah, Dr H M Shidqon Prabowo, menegaskan perkembangan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat dalam melindungi diri di ruang digital.

Menurut Shidqon, kader Ansor tidak cukup hanya memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi, tetapi juga harus memahami berbagai risiko yang muncul seiring semakin luasnya penggunaan internet.

“GP Ansor Jawa Tengah ingin melahirkan kader yang tidak hanya kuat secara ideologis, tetapi juga tangguh menghadapi tantangan digital,” ujar pria yang akrab disapa Shidqon 

Ia menilai edukasi keamanan digital menjadi penting agar kader maupun masyarakat tidak mudah menjadi korban kejahatan siber yang terus berkembang.

Hal senada disampaikan Guru Besar Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia Prof. Yudho Giri Sucahyo. Ia menjelaskan bahwa kejahatan siber, khususnya phishing, terus berkembang karena adanya motif ekonomi.

“Misalnya, kita basmi 1.000, pasti muncul 2.000 dan semakin berkembang,” kata Yudho. 

Menurut Yudho, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemberantasan kejahatan siber tidak cukup hanya mengandalkan penindakan. Edukasi masyarakat juga diperlukan agar pengguna internet mampu mengenali modus kejahatan dan mengantisipasinya.

Phishing sendiri merupakan modus penipuan yang berupaya mendapatkan informasi sensitif seperti username, password maupun data kartu kredit dengan menyamar sebagai pihak atau entitas yang dipercaya. Pelaku juga dapat menggunakan malware maupun mengarahkan korban ke situs palsu untuk mencuri kredensial.  detikcom

Ancaman tersebut bukan sekadar teori. Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) mencatat 7.988 serangan phishing pada domain .id sepanjang kuartal III 2022, dengan 181 situs unik digunakan dalam serangan tersebut. 

Sementara itu, Anggota Komisi A DPRD Jawa Tengah, Tita Soewarto juga menyoroti pentingnya perlindungan data pribadi dan penguatan identitas digital. 

"Sistem yang terlalu bergantung pada username, password serta penyebaran data pribadi di banyak platform dapat memperbesar risiko penyalahgunaan," tuturnya.

Karena itu, penguatan mekanisme identitas digital menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem digital yang lebih aman. 

"Terutama untuk memastikan proses pembuktian, autentikasi dan otorisasi identitas berjalan dengan baik," tegasnya.

Sementara itu, Komisioner KPID Jawa Tengah M Nur Huda menyoroti tantangan lain dalam perkembangan ruang digital, yakni belum sepenuhnya terakomodasinya perkembangan platform digital dalam kerangka regulasi penyiaran.

Menurut Huda, perkembangan teknologi membuat lembaga penyiaran harus mampu beradaptasi dengan perubahan pola konsumsi informasi masyarakat. 

Ia sebelumnya menegaskan bahwa inovasi menjadi kebutuhan penting bagi lembaga penyiaran di tengah derasnya arus informasi digital.

“Inovasi program siaran merupakan hal mutlak bagi lembaga penyiaran di tengah gempuran arus informasi melalui teknologi digital. Kalau tidak mau beradaptasi ya akan ditinggal,” kata Huda.

Persoalan regulasi media digital juga bersinggungan dengan berbagai kepentingan, mulai dari kebebasan pers, pengawasan konten, kewenangan lembaga penyiaran hingga posisi platform digital. 

Karena itu, pengawasan terhadap konten di ruang digital membutuhkan pendekatan yang mampu mengikuti perkembangan teknologi.

Dalam konteks tersebut, literasi digital menjadi salah satu benteng masyarakat. Pengguna internet tidak hanya dituntut mampu menggunakan teknologi, tetapi juga harus memiliki kemampuan mengenali informasi mencurigakan, menjaga data pribadi, memeriksa alamat situs, serta tidak sembarangan memberikan kode OTP, password maupun informasi finansial.

Kepala Diskomdigi Jawa Tengah, Lilik Henry, juga menjadi bagian dari penguatan pesan pentingnya kecakapan digital dalam menghadapi perkembangan teknologi dan ancaman siber.

Melalui kegiatan di Pondok Pesantren Ash-Shodiqiyah tersebut, PW GP Ansor Jateng mendorong kader dan masyarakat untuk tidak menjadi pengguna teknologi yang pasif.

"Masyarakay diharapkan mampu memanfaatkan teknologi untuk aktivitas positif sekaligus memiliki kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan dan kejahatan siber yang semakin berkembang," ungkap Lilik.

Dengan demikian, literasi digital tidak berhenti pada kemampuan mengoperasikan perangkat dan aplikasi, tetapi berkembang menjadi kemampuan melindungi identitas, menjaga data pribadi, mengenali penipuan, serta mengambil keputusan secara aman di ruang digital.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.