Kuatkan Mustasyar dan Kembalikan Marwah NU, Akankah KH Ubaidullah Shadaqah Pimpin PBNU?

JATENG.AKURAT.CO, Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang dijadwalkan berlangsung pertengahan 2026, nama KH Ubaidullah Shadaqah mulai ramai diperbincangkan di ruang-ruang diskusi warga nahdliyin.
Sosok yang kini menjabat sebagai Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah itu disebut-sebut layak diajukan sebagai Rais Aam PBNU, jabatan tertinggi dalam struktur kepemimpinan Syuriah di tubuh organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Di tengah dinamika internal PBNU pasca kisruh elite akhir tahun lalu, banyak pihak menilai NU membutuhkan figur yang tidak hanya alim dalam ilmu agama, tetapi juga matang dalam kepemimpinan moral dan sosial.
KH Ubaidullah Shadaqah dinilai memenuhi kriteria itu baik dari sisi keilmuan, garis keturunan, maupun keberpihakan terhadap umat.
Pandangan tersebut salah satunya disampaikan oleh Dr. M. Kholidul Adib, pengamat politik dari UIN Walisongo Semarang yang juga Kader Muda NU dan Sekretaris Yayasan Ki Ageng Pandanaran Semarang.
Menurutnya, Muktamar ke-35 bukan sekadar agenda rutin lima tahunan, melainkan momentum refleksi dan konsolidasi moral organisasi.
“Belajar dari prahara elite PBNU akhir tahun lalu, ketika terjadi sengketa antara Rais Aam dan Ketua Umum PBNU yang nyaris buntu, kita menyadari pentingnya memperkuat peran lembaga Mustasyar,” ujar Kholidul Adib dalam keterangannya, Jum'at (20/2/2026).
Menguatkan Mustasyar, Mengembalikan Marwah
Menurut Adib, penataan kembali Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) perlu dilakukan untuk memperkuat peran Mustasyar.
Lembaga ini selama ini diisi para ulama sepuh yang terpilih dalam Muktamar sebagai anggota Ahlul Hall wal Aqdi (AHWA), forum yang memiliki otoritas memilih Rais Aam.
Dalam praktiknya, anggota AHWA yang terpilih kemudian masuk dalam jajaran Mustasyar. Dari sinilah peran strategis Mustasyar menjadi penting, terutama dalam meredam konflik internal dan menjaga keseimbangan antara Rais Aam dan Ketua Umum PBNU.
Kisruh elite PBNU yang dipicu persoalan pengelolaan tambang beberapa waktu lalu, kata Adib, menjadi pelajaran mahal. Warga NU merasa prihatin, bahkan malu.
Namun di sisi lain, muncul keberanian dari akar rumput untuk melakukan evaluasi terhadap kepemimpinan nasional NU.
“Ini tanda kedewasaan warga nahdliyin. Mereka tidak lagi pasif, tetapi aktif memikirkan masa depan organisasi,” tegasnya.
Mencari Figur Pemersatu
Di Jawa Tengah, diskusi tentang siapa yang layak diajukan sebagai kandidat Rais Aam dan Ketua Umum PBNU mulai mengemuka. Sejumlah tokoh dipertimbangkan, namun nama KH Ubaidullah Shadaqah mencuat sebagai figur yang relatif diterima berbagai kalangan.
Dorongan itu salah satunya datang dari KH Abdul Basith, Pengasuh Pesantren Al-Ma’wa Ngaliyan Semarang sekaligus Wakil Katib Syuriah PWNU Jawa Tengah.
Alumni Pesantren Futuhiyyah Mranggen dan lulusan Universitas Al-Azhar Mesir itu secara terbuka menyodorkan nama KH Ubaidullah Shadaqah sebagai kandidat Rais Aam PBNU.
Menurut KH Abdul Basith, KH Ubaidullah Shadaqah memiliki penguasaan kitab kuning yang kuat, pemahaman mendalam terhadap tradisi keilmuan pesantren, serta kepedulian sosial yang nyata.
Ia dikenal dekat dengan warga NU yang mayoritas hidup di pedesaan petani, nelayan, buruh, dan pekerja kasar.
Ulama yang Membumi dan Peduli Lingkungan
Tak hanya dikenal sebagai ahli agama, KH Ubaidullah Shadaqah juga aktif menyuarakan isu lingkungan hidup.
Di wilayah pesisir pantura Jawa Tengah, ia terlibat dalam advokasi terkait musibah abrasi pantai yang mengancam kehidupan masyarakat pesisir.
Ia bahkan memberikan dukungan moral dan advokasi kepada aktivis lingkungan yang menghadapi persoalan hukum.
Bagi Adib, kepedulian terhadap isu lingkungan menunjukkan keluasan visi keulamaan KH Ubaidullah.
“Beliau tidak hanya berbicara soal fiqih ibadah, tetapi juga fiqih sosial dan fiqih lingkungan. Ini penting dalam konteks NU hari ini yang menghadapi tantangan global,” jelasnya.
Jejak Keluarga dan Darah Pejuang
KH Ubaidullah Shadaqah lahir dan besar di lingkungan ulama dan pesantren. Ayahnya, KH Shodaqoh Hasan, pernah menjabat sebagai Rais Syuriah PCNU Kota Semarang pada periode 1979–1982.
Dari garis keturunan, sejumlah dokumen menyebut ia masih memiliki nasab yang tersambung kepada Sunan Kalijaga dan Sunan Pandanaran.
Warisan darah pejuang itu, menurut banyak kalangan, tercermin dalam keberpihakannya yang kuat terhadap umat kecil. Ia dikenal sederhana, tidak berjarak dengan jamaah, dan konsisten menjaga tradisi ahlussunnah wal jamaah an-nahdliyah.
“Dari sisi keluarga, keilmuan, dan keberpihakan kepada nasib umat, KH Ubaidullah Shadaqah adalah sosok yang tidak diragukan lagi,” tegas Adib.
Momentum Sejarah Muktamar ke-35
Muktamar NU ke-35 pertengahan 2026 diprediksi menjadi ajang kontestasi ide dan visi besar NU ke depan. Bukan sekadar memilih pemimpin, tetapi juga menentukan arah organisasi di tengah tantangan modernitas, politik nasional, dan dinamika ekonomi.
Peristiwa kisruh elite sebelumnya menjadi pengingat bahwa NU membutuhkan figur Rais Aam yang mampu menjadi penjaga moral, penyeimbang kekuasaan, sekaligus pemersatu.
Dalam konteks itulah, nama KH Ubaidullah Shadaqah dinilai relevan. Figur ulama pesantren yang membumi, berilmu, memiliki legitimasi genealogis, serta sensitif terhadap persoalan sosial dan lingkungan.
Apakah Muktamar ke-35 akan menjadi panggung bagi kebangkitan figur dari Jawa Tengah ini? Waktu yang akan menjawab.
Namun satu hal pasti, diskursus tentang kepemimpinan NU telah bergerak dan nama KH Ubaidullah Shadaqah kini berada di pusaran harapan warga nahdliyin yang mendambakan kepemimpinan yang teduh, alim, dan berpihak pada umat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









