KH Yusuf Chudlori: Menjaga Api Pesantren, Merawat NU di Pusaran Zaman

JATENG.AKURAT.CO, Pesantren bukan sekadar institusi pendidikan. Ia adalah jejak panjang peradaban Islam Nusantara yang telah hidup sejak era Walisongo pada abad ke-15 dan 16.
Dari bilik-bilik sederhana beralas tikar, lahir generasi yang bukan hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga menanamkan nilai kebangsaan, kebudayaan, dan etika sosial.
Dalam lintasan sejarah, pesantren menjelma menjadi pusat pembentukan karakter bangsa. Ketika kolonialisme Belanda memperkenalkan sistem pendidikan formal ala Eropa pada abad ke-20, pesantren tidak runtuh.
Ia justru beradaptasi, memperkuat akar tradisi sembari membuka diri terhadap perubahan zaman. Pesantren bertahan karena ia bukan sekadar lembaga, melainkan ekosistem nilai.
Tokoh besar Nahdlatul Ulama, Abdurrahman Wahid, pernah menyebut pesantren sebagai sub-kultur Nahdlatul Ulama. Pernyataan itu bukan retorika. Para ulama pesantrenlah yang menjadi pelopor berdirinya NU pada 1926 di Surabaya.
Tradisi keilmuan pesantren menyatu dengan denyut organisasi, membentuk watak Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang moderat dan inklusif.
Di tengah dinamika itu, nama KH Yusuf Chudlori muncul sebagai salah satu representasi ulama pesantren yang konsisten menjaga tradisi sekaligus membaca arah zaman.
Menumbuhkan Pesantren di Era Modern
KH Yusuf Chudlori dikenal luas sebagai pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang. Pesantren ini bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi telah berkembang menjadi salah satu pusat pengkaderan santri yang diperhitungkan di Indonesia.
Latar belakang keilmuannya ditempa di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri sebuah pesantren tua yang dikenal dengan tradisi keilmuan kitab kuning yang kuat. Tradisi itulah yang membentuk fondasi intelektual dan spiritualnya.
Namun, yang membuatnya menonjol bukan hanya sanad keilmuan, melainkan kemampuannya mengelola pesantren secara modern tanpa meninggalkan ruh tradisi.
Di bawah kepemimpinannya, API Tegalrejo berkembang dalam tata kelola, kualitas pendidikan, dan jejaring sosial-keagamaan. Ia mendukung langkah pemerintah dalam mengembangkan pesantren sebagai pusat pendidikan Islam berkualitas, namun tetap menegaskan pentingnya menjaga nilai dan tradisi pesantren sebagai jantung pendidikan.
Baginya, modernisasi bukan westernisasi. Inovasi tidak boleh menghapus identitas. Pesantren harus maju, tetapi tetap berakar.
Politik sebagai Instrumen Nilai
Di ranah publik, KH Yusuf Chudlori tidak hanya dikenal sebagai kiai, tetapi juga sebagai pemimpin politik berlatar belakang santri. Ia pernah memimpin Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jawa Tengah partai yang secara historis memiliki ikatan ideologis dan kultural dengan NU.
Namun menariknya, ia tidak menjadikan politik sebagai kendaraan ambisi pribadi. Di tengah posisi PKB sebagai salah satu kekuatan politik besar di Jawa Tengah dalam beberapa periode pemilu terakhir, KH Yusuf Chudlori tidak memanfaatkan panggung itu untuk mengejar jabatan eksekutif maupun legislatif.
Ia memilih menempatkan politik sebagai instrumen perjuangan nilai. Politik baginya adalah ruang pengabdian, bukan sekadar kompetisi kekuasaan.
Sebagai nahkoda partai, ia mampu mengonsolidasikan kader-kader berlatar belakang santri menjadi kekuatan politik yang terarah dan produktif. Ia menjaga harmoni antara PKB dan NU dua entitas yang kerap diuji oleh dinamika kepentingan, tetapi memiliki akar sejarah yang sama.
Sikap ini menunjukkan kematangan kepemimpinan santri: teguh pada prinsip, tetapi lentur dalam strategi.
Perda Pesantren: Politik untuk Pendidikan Umat
Salah satu kontribusi strategisnya adalah peran aktif dalam mendorong lahirnya Peraturan Daerah tentang Pesantren di Jawa Tengah.
Regulasi ini menjadi turunan penting dari Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, yang memberikan pengakuan formal terhadap pesantren sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional.
Perda Pesantren bukan sekadar produk hukum. Ia adalah pengakuan negara atas peran historis dan kontribusi pesantren. Melalui regulasi ini, pesantren memperoleh akses dukungan anggaran, fasilitasi program, serta penguatan kelembagaan.
Di sinilah terlihat bagaimana KH Yusuf Chudlori memaknai politik secara substantif: memperjuangkan pendidikan umat melalui kebijakan konkret.
Langkah tersebut menegaskan bahwa integritas dan keberpihakan pada pendidikan tidak harus tercerabut dari arena politik. Justru melalui politik yang beretika, nilai-nilai pesantren dapat diperluas jangkauannya.
Visi Abad Kedua NU
Memasuki abad kedua, NU menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding masa awal berdirinya: globalisasi, digitalisasi, polarisasi politik, hingga tantangan ideologi transnasional.
Dalam konteks ini, KH Yusuf Chudlori menekankan pentingnya menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah sambil bergerak adaptif terhadap inovasi zaman.
Ia mendorong kemandirian organisasi, memperkuat martabat jam’iyah, dan memperluas khidmat bagi umat dan bangsa. NU, dalam pandangannya, harus tetap menjadi jangkar moral masyarakat sekaligus motor transformasi sosial.
Secara personal, ia dikenal santun, rendah hati, dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Jejaringnya luas di kalangan ulama dan aktivis NU. Ia juga dikenal sebagai manajer organisasi yang efektif, mampu mengelola sumber daya dan merumuskan visi yang jelas.
Kombinasi antara kedalaman tradisi pesantren, pengalaman organisasi, serta kematangan politik menjadikannya sosok yang diperhitungkan dalam kepemimpinan NU ke depan.
Pesantren telah melahirkan banyak ulama dan pemimpin bangsa. Di antara mereka, KH Yusuf Chudlori berdiri sebagai figur yang memadukan keteguhan tradisi dan keberanian inovasi. Ia menjaga api pesantren tetap menyala, sembari merawat NU agar tetap kokoh di pusaran zaman.
Dalam dirinya, pesantren bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan energi masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









