Nyadran, Harmoni Antaragama dari Magelang

JATENG.AKURAT.CO, Di tengah dunia yang terus bergulat dengan konflik identitas, polarisasi, dan ketegangan lintas keyakinan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak 2010 menetapkan sebuah momentum global, World Interfaith Harmony Week atau Pekan Kerukunan Antar-Agama Sedunia.
Melalui Resolusi A/RES/65/5, PBB menyerukan kepada seluruh bangsa untuk menjadikan dialog, saling pengertian, dan kerja sama lintas iman sebagai fondasi budaya damai.
Chabibullah Ahmad, praktisi budaya asal Magelang mengatakan, gagasan ini berangkat dari kesadaran bahwa perdamaian tidak lahir dari dominasi satu keyakinan, melainkan dari ruang temu antarmanusia yang saling menghormati.
Usulan tersebut pertama kali disampaikan oleh Raja Abdullah II dari Yordania bersama Pangeran Ghazi bin Muhammad dalam Sidang Umum PBB pada 23 September 2010, dan secara bulat diadopsi sebulan kemudian.
"Sejak itu, pekan kerukunan diperingati di berbagai negara dengan dialog lintas agama, pertemuan budaya, hingga aksi sosial bersama," ujar Chabibullah.
Di Indonesia, semangat ini tidak hanya berhenti sebagai agenda global. Sejak 2011, peringatan Pekan Kerukunan Antarumat Beragama dirayakan dengan melibatkan tokoh lintas iman dan masyarakat luas.
Namun, jauh sebelum istilah “interfaith” dikenal secara luas, masyarakat Nusantara telah memiliki cara sendiri untuk merawat harmoni: melalui tradisi, salah satunya adalah Nyadran.
"Di Jawa, khususnya wilayah Magelang dan sekitarnya, Nyadran menjadi penanda penting menjelang Ramadan," tuturnya.
Tradisi turun-temurun ini dilakukan dengan menziarahi makam leluhur, membersihkan pusara, menabur bunga, dan memanjatkan doa bersama. Lebih dari ritual spiritual, Nyadran adalah ruang sosial tempat warga saling bertemu, bekerja sama, dan mempererat ikatan batin.
Nilai yang terkandung di dalamnya melampaui batas agama. Nyadran mengajarkan penghormatan kepada yang telah tiada, solidaritas sosial, serta kebersamaan dalam kesederhanaan.
Di banyak desa, tradisi ini diikuti oleh seluruh warga tanpa memandang latar belakang keyakinan, menjadikannya simbol harmoni yang hidup di tengah pluralitas.
"Jika World Interfaith Harmony Week menegaskan pentingnya dialog lintas agama dalam tataran global, maka Nyadran memperlihatkan bagaimana kerukunan itu dijalankan dalam praktik sehari-hari," tandasnya.
Dari sapu yang membersihkan makam hingga doa yang dipanjatkan bersama, tersirat pesan universal: perdamaian tumbuh dari rasa hormat dan kebersamaan.
Harmoni Nyata
Spirit itu tampak jelas dalam Penyadranan Agung di Pasarean KRT. Joyoningrat II, Desa Kradenan, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang. Tradisi ini tidak hanya menjadi peristiwa budaya, tetapi juga ruang perjumpaan lintas keyakinan.
Masyarakat setempat bersama Trah KRT. Joyoningrat II, yang terdiri dari beragam latar agama, bergotong royong sejak persiapan hingga pelaksanaan.
Pasarean tersebut bahkan menjadi tempat peristirahatan tokoh-tokoh dari berbagai keyakinan. Ketika kompleks makam ini ditetapkan sebagai Struktur Cagar Budaya, muncul rasa handarbeni atau rasa memiliki bersama antara masyarakat, Trah KRT. Joyoningrat II, dan pemerintah desa hingga kabupaten.
Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, menegaskan bahwa Sadran Agung merupakan manifestasi penghormatan terhadap sejarah dan jasa leluhur. Dengan mendoakan Adipati KRT. Djajaningrat II, masyarakat sedang merawat ingatan kolektif tentang perjuangan dan kepemimpinan beliau.
“Beliau bukan hanya nama besar dalam silsilah, tetapi sosok yang meletakkan pondasi nilai, keteladanan, dan dedikasi bagi wilayah ini,” ujarnya.
Menurut Bupati, tradisi ini mengandung tiga nilai utama spiritual, sebagai sarana bersyukur dan memohon ampunan bagi leluhur kultural sebagai upaya melestarikan budaya Jawa dan sosial, sebagai ajang silaturahmi dan penguat persaudaraan.
Komitmen pemerintah daerah pun diwujudkan melalui SK Bupati Magelang Nomor 180.182/71/KEP/04/2025 tentang Penetapan Komplek Makam Adipati KRT. Djajaningrat II sebagai Struktur Cagar Budaya.
Dari Jawa untuk Dunia
Nyadran membuktikan bahwa harmoni bukan konsep abstrak, melainkan pengalaman nyata yang tumbuh dari nilai lokal.
Di tengah perayaan kerukunan dunia, tradisi ini mengajarkan bahwa perdamaian bisa bersemi dari desa kecil, dari doa yang lirih, dari tangan-tangan yang membersihkan pusara, dan dari kebersamaan yang tulus.
Dari tanah Jawa, pesan itu menggema: kerukunan bukan hanya untuk dirayakan, tetapi untuk dihidupi.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










