Jateng

Faiz Bupati Batang Ganti Perayaan Tahun Baru dengan Doa Bersama, Empati untuk Negeri yang Dirundung Bencana

Theo Adi Pratama | 13 Desember 2025, 21:04 WIB
Faiz Bupati Batang Ganti Perayaan Tahun Baru dengan Doa Bersama, Empati untuk Negeri yang Dirundung Bencana

JATENG.AKURAT.CO, Pagi itu hujan turun pelan, menyisakan lumpur tipis di halaman rumah Siti Aminah (46), warga Desa Rowobelang, Kecamatan Batang.

Perempuan itu masih menyimpan karung pasir di sudut rumahnya, penanda bahwa trauma banjir belum sepenuhnya pergi.

“Kalau hujan deras begini, jujur saja masih deg-degan. Takut air masuk lagi seperti awal tahun kemarin,” ujarnya, sembari menunjuk bekas garis air di dinding rumahnya yang setinggi pinggang orang dewasa, Sabtu (13/12/2025).

Banjir besar yang melanda Kabupaten Batang pada Januari 2025 bukan sekadar peristiwa alam. Ia menjadi luka kolektif bagi ribuan warga, merendam rumah, memutus jembatan, dan memaksa banyak keluarga bertahan di pengungsian.

Di tengah memori pahit itulah, kebijakan Bupati Batang M Faiz Kurniawan meniadakan pesta kembang api dan perayaan malam Tahun Baru 2026 mendapat sambutan luas dari masyarakat.

Bagi sebagian warga, keputusan itu bukan sekadar aturan pemerintah, melainkan pengakuan atas duka yang mereka rasakan.

“Saya pribadi terharu. Artinya pemerintah benar-benar merasakan apa yang kami alami,” kata Mustofa (52), warga Kecamatan Wonotunggal yang rumahnya sempat terisolasi akibat jembatan penghubung desa putus diterjang banjir.

Menurutnya, pesta kembang api akan terasa janggal jika digelar saat banyak warga masih berjuang memulihkan ekonomi keluarga.

“Kalau ada suara petasan, rasanya malah nyesek. Lebih baik doa bersama, lebih tenang di hati,” ucapnya.

Data BPBD mencatat, banjir pada Januari 2025 melanda sedikitnya 10 kecamatan di Batang, merendam ribuan rumah warga, merusak fasilitas umum, serta menyebabkan enam jembatan rusak dan terputus. Ribuan warga terdampak, sebagian harus mengungsi sementara.

Di daerah perbukitan, hujan lebat juga memicu tanah longsor. Sri Wahyuni (34), warga Kecamatan Reban, masih mengingat jelas suara gemuruh tanah di belakang rumahnya.

“Saya kira itu suara truk besar. Ternyata tanah longsor. Anak-anak langsung saya bawa keluar rumah,” tuturnya.

Sejak saat itu, setiap musim hujan datang, rasa cemas seolah ikut turun bersama air.

Doa Bersama, Bukan Pesta

Bupati Batang M Faiz Kurniawan menegaskan bahwa pergantian tahun akan diisi dengan dzikir dan doa bersama sebagai bentuk empati kepada korban bencana, baik di Batang maupun daerah lain seperti Aceh dan Sumatera.

“Perayaan yang berlebihan tentu kurang relevan ketika saudara-saudara kita sedang tertimpa musibah,” tegasnya.

Kebijakan tersebut dinilai sejalan dengan imbauan aparat kepolisian. Kapolres Batang AKBP Edi Rahmat Mulyana menilai, selain soal empati, pesta kembang api juga berisiko di tengah potensi cuaca ekstrem.

Namun bagi warga, pesan itu diterjemahkan lebih sederhana.

“Kalau pemerintah saja memilih doa, masa kami malah hura-hura,” kata Rohman (28), pemuda Karang Taruna di Kecamatan Gringsing.

Menurutnya, ia dan teman-temannya sepakat mengisi malam tahun baru dengan pengajian dan kegiatan sosial.

“Yang penting kumpul, aman, dan saling menguatkan,” ujarnya.

Di sudut lain Batang, seorang relawan BPBD yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa kesiapsiagaan kini menjadi kata kunci.

“Kami belajar bahwa bencana bisa datang kapan saja. Solidaritas itu bukan cuma bantuan, tapi juga sikap,” katanya.

Malam pergantian tahun di Batang tahun ini mungkin akan lebih sunyi. Tak ada cahaya kembang api yang membelah langit.

Namun di balik kesunyian itu, ada doa yang dipanjatkan, empati yang dirawat, dan harapan bahwa tahun baru akan datang dengan lebih banyak keselelamatan.

“Bagi kami yang pernah kebanjiran, doa jauh lebih menenangkan daripada suara kembang api,” ujar Siti Aminah pelan.

Tak Ada Pesta, Hanya Doa

Bupati Faiz mengatakan, perayaan malam tahun baru tahun ini akan diganti dengan kegiatan dzikir dan doa bersama sebagai wujud keprihatinan serta solidaritas bagi warga terdampak bencana di Aceh, Sumatera, dan daerah lain.

“Iya nanti gantinya kita gelar doa bersama,” katanya, Jum'at (12/12/2025).

Ia juga mengimbau, masyarakat untuk tidak mengadakan pesta kembang api maupun hiburan berlebihan. Menurutnya, kondisi bencana yang menyebabkan banyak keluarga kehilangan tempat tinggal maupun anggota keluarga harus menjadi perhatian bersama.

“Perayaan yang berlebihan tentu kurang relevan ketika saudara-saudara kita sedang tertimpa musibah,” tegasnya.

Sementara itu, Kapolres Batang AKBP Edi Rahmat Mulyana menilai pesta kembang api maupun petasan tidak relevan dilakukan di tengah situasi bencana yang menimbulkan duka bagi banyak keluarga.

“Kita berharap dan mengimbau masyarakat tidak menggelar perayaan malam tahun baru apalagi dengan cara menyalakan kembang api atau petasan, mengingat saat ini sedang memasuki musim bencana,” harapnya.

Menurut Kapolres, intensitas hujan serta potensi bencana hidrometeorologi masih tinggi di sejumlah daerah. Perayaan malam tahun baru yang dilakukan secara berlebihan dikhawatirkan menimbulkan risiko tambahan.

“Kita harus empati terhadap para korban bencana alam di berbagai daerah termasuk Sumatera. Mereka sedang susah, sedang sedih, maka kita jangan berpesta. Meski memberikan imbauan untuk mengurangi euforia malam pergantian tahun, Polres Batang tetap menyiapkan pengamanan menyambut Natal dan Tahun Baru (Nataru),” jelasnya.

Kapolres juga menegaskan, bahwa ancaman banjir, longsor, dan angin kencang menjadi perhatian utama. Pengamanan Nataru tahun ini tidak hanya berkutat pada pencegahan kriminalitas, tetapi juga kesiapsiagaan bencana.

“Kita berharap tidak ada bencana, dan semua aman. Namun jika terjadi sesuatu, tentu Polres bersama TNI, BPBD, dan relawan sudah siap siaga,” ungkapnya.

Ia juga menyebutkan, karakter wilayah Kabupaten Batang yang terdiri dari pesisir hingga pegunungan membuat pola pengamanan harus disesuaikan dengan tingkat risiko di masing-masing daerah.

Kapolres juga meminta masyarakat untuk tetap berhati-hati ketika beraktivitas, terutama pada malam hari dan saat cuaca tidak menentu. Peran masyarakat, kata dia, sangat penting untuk menjaga ketertiban lingkungan.

Dengan imbauan ini, Polres Batang mengajak seluruh masyarakat merayakan akhir tahun secara sederhana dan penuh keprihatinan, tanpa mengurangi kegembiraan menyambut tahun baru dengan cara yang lebih aman dan bijak.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.