Jateng

800 Ribu Pendaki Setahun, Jateng Cetak Pemandu Gunung Profesional

Arixc Ardana | 2 Agustus 2025, 17:52 WIB
800 Ribu Pendaki Setahun, Jateng Cetak Pemandu Gunung Profesional

JATENG.AKURAT.CO, Melihat besarnya potensi wisata alam di Jawa Tengah, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah melalui Balai Latihan Kerja (BLK) Semarang 1 menginisiasi program pelatihan baru bagi pemandu wisata gunung.

Program ini mulai dibuka tahun ini sebagai langkah strategis untuk menciptakan peluang kerja sekaligus meningkatkan profesionalisme layanan wisata pendakian.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Tengah, Ahmad Aziz, menjelaskan bahwa program pelatihan ini lahir dari hasil Training Need Analysis (TNA) yang menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap profesi pemandu pendaki gunung.

Baca Juga: Dihadiri 50 Remaja Cantik dan Kece, Ini Kegiatan Yuktalks 4 Besutan Dipa Yustia Bertema AI Working, Kita Healing

"Tahun ini kami membuka program pelatihan untuk guide atau pemandu pendaki gunung. Ini program baru hasil identifikasi kebutuhan di masyarakat," ujar Aziz di Semarang, Sabtu (2/8/2025).

15 Gunung di Jateng, 800 Ribu Pendaki Setahun

Berdasarkan data Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) Jawa Tengah, terdapat sekitar 15 gunung di provinsi ini yang rutin didaki setiap tahun.

Jumlah pendaki mencapai sekitar 800 ribu orang per tahun, termasuk wisatawan mancanegara.

"Pendaki dari luar negeri itu setidak-tidaknya membutuhkan pemandu lebih dari dua orang. Ada pemandu yang membawakan barang, memandu pendakian, dan juga yang menjadi tenaga translator," jelasnya.

Dengan tingginya arus pendaki, kebutuhan tenaga pemandu gunung profesional semakin mendesak.

Profesi ini tidak hanya berfungsi sebagai penunjuk jalan, tetapi juga sebagai penjaga keselamatan dan penghubung antara wisatawan dengan kearifan lokal.

Seleksi Ketat, Peluang Besar

Tahun ini, Pemprov Jateng membuka satu kelas uji coba dengan 16 peserta terpilih dari 300 pendaftar.

Peserta akan mendapatkan pelatihan intensif terkait teknik memandu pendakian, keselamatan (safety procedure), dan keterampilan komunikasi.

"Kita uji coba untuk 16 peserta, nanti kita kembangkan ke depannya. Kalau ini difasilitasi maksimal, multiplier effect-nya akan banyak," tambah Aziz.

Selain membuka lapangan kerja, keberadaan pemandu gunung juga memberi dampak positif pada sektor pariwisata, keamanan pendakian, dan ekonomi lokal.

Keamanan dan Kearifan Lokal Jadi Materi Wajib

Menurut Aziz, pelatihan tidak hanya fokus pada aspek teknis pendakian, tetapi juga pemahaman terhadap adat istiadat, budaya, dan pantangan yang berlaku di sekitar gunung.

Pengetahuan ini penting untuk menciptakan hubungan harmonis antara pendaki, masyarakat lokal, dan lingkungan alam.

"Kita bekali peserta dengan adat-istiadat di daerah gunung tersebut. Budaya di daerah tersebut, kadang-kadang ada pantangannya. Kita juga bekali tradisi-tradisi setempat. Sehingga kalau kita bicara hal-hal gaib, pemandu bisa menginformasikannya nanti," ungkapnya.

Langkah Pemprov Jateng ini diharapkan mampu mencetak pemandu gunung yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki wawasan budaya dan mampu memberikan pengalaman pendakian yang aman, nyaman, dan berkesan bagi wisatawan.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.