Jateng

Ini Detail Lengkap Penyebab Gempa Bumi Bawean Jatim, BMKG Catat 19 Kali Gempa/Jam

Afri Rismoko | 24 Maret 2024, 16:57 WIB
Ini Detail Lengkap Penyebab Gempa Bumi Bawean Jatim, BMKG Catat 19 Kali Gempa/Jam

 

AKURAT.CO, Dalam peristiwa yang dianggap oleh masyarakat sebagai 'tidak lazim', gempa berkekuatan M5,9 dan M6,5 telah mengguncang Pulau Bawean di Jawa Timur pada 22 Maret 2024.

Menurut DARYONO dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kejadian ini mempertegas bahwa bahkan wilayah dengan aktivitas seismik rendah tidak luput dari ancaman gempa.

Situasi yang terjadi di Laut Jawa, yang biasanya menjadi episenter gempa hiposenter dalam, kali ini dikejutkan oleh gempa dangkal yang menunjukkan aktivitas di Sesar Tua Pola Meratus—jejak sesar kuno yang masih memiliki potensi seismik.

Baca Juga: Berikut Analisis dan Fakta dari BMKG Tentang Gempa Bumi Bawean Jatim pada 22 Maret 2024

Kejadian ini menambah catatan penting dalam sejarah geologi Laut Jawa, yang sebelumnya hanya mencatat beberapa gempa kuat sejak awal abad ke-20.

Gempa Bawean, yang terjadi di zona yang sering terlewatkan dalam penilaian risiko seismik, menjadi pengingat penting untuk selalu waspada.

Lebih lanjut, gempa ini menjadi contoh bahwa energi seismik dapat terakumulasi dan dilepaskan bahkan di 'zona stabil', seperti yang terjadi di beberapa lokasi di Australia dan Amerika Serikat.

Baca Juga: Papua Diguncang Serangkaian Gempa Hari Ini, Paling Besar 6.8 SR

Terlebih lagi, reaktivasi sesar tua yang dipetakan seperti Sesar Muria, yang diperkirakan oleh penelitian Peter Lunt tahun 2019, menjadi penyebab gempa tersebut.

Fakta bahwa episenter gempa tepat berada pada jalur sesar ini memperkuat urgensi untuk memahami lebih dalam mengenai struktur geologis dan potensi bencana yang ada.

Peristiwa ini mengukuhkan pentingnya pengawasan geologi yang berkelanjutan dan persiapan bencana di semua wilayah, mengingat bahwa gempa dapat terjadi kapan saja, bahkan di tempat yang paling tidak kita duga.

Gempa Bawean digolongkan sebagai gempa kerak dangkal yang diakibatkan oleh aktivitas sesar aktif di Laut Jawa dengan mekanisme geser.

Kerusakan bangunan terjadi tidak hanya di Pulau Bawean, tetapi juga di daerah Gresik, Tuban, Surabaya, dan sekitarnya, membuktikan sifat merusak dari gempa ini. Dampak gempa juga dirasakan luas hingga ke beberapa kota di Jawa dan Kalimantan, meskipun gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami menurut hasil pemodelan BMKG.

Wilayah Laut Jawa, di mana gempa berpusat, secara historis diketahui sebagai zona dengan aktivitas seismik yang rendah.

Namun, gempa Bawean telah mengingatkan masyarakat bahwa sesar tua di zona ini masih aktif dan dapat menyebabkan gempa kapan saja.

Sesar Tua Pola Meratus, zona di mana gempa terjadi, telah menunjukkan bukti aktivitas gempa meskipun dianggap sebagai zona yang stabil.

Lebih lanjut, gempa M6,5 yang terjadi merupakan susulan dari gempa sebelumnya M5,9. Hal ini disebabkan oleh pecahnya bidang sesar dengan asperity yang lebih besar.

Banyaknya gempa susulan yang terjadi setelahnya mencerminkan karakteristik batuan permukaan di Bawean yang heterogen dan rapuh.

Monitoring terkini BMKG menunjukkan bahwa aktivitas seismik di Bawean mulai meluruh dengan frekuensi gempa susulan yang menurun.

Dari 19 kali gempa per jam pada hari Jumat, angkanya turun menjadi 2-3 kali gempa per jam pada hari Minggu.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Reporter
Afri Rismoko
A