Gempa Melanda Perairan Tuban, Ini 6 Teknologi Bangunan Tahan Gempa yang Bisa Dibuat Manusia

AKURAT.CO, Gempa Melanda Perairan Tuban, Ini 6 Teknologi Bangunan Tahan Gempa yang Bisa Dibuat Manusia.
Melansir data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah Pantai Barat perairan laut Tuban dan Gresik, Jawa Timur, mengalami gempa tektonik pada hari Jumat, 22 Maret 2024, pada pukul 11.22.45 WIB.
Gempa dengan magnitudo 6.0 Ini terasa hingga di beberapa kota di wilayah Pantai Utara Jawa seperti Semarang, Pati, Kudus dan Rembang. Pihak BMKG menambahkan gempa tersebut tidak berpotensi Tsunami.
Indonesia yang letak geografisnya berada di wilayah pergerakan lempeng bumi, memang rawan terjadi gempa bumi.
Untuk meminimalisasi kerusakan dan korban jiwa, perlu adanya inovasi teknologi dalam pembuatan bangunan yang tahan gempa.
Berikut adalah 6 teknologi bangunan tahan gempa yang bisa dibuat oleh manusia era modern ini.
- Selubung Seismik
Selubung ini dibuat dari sejumlah ‘cincin’ plastik konsentrat yang terkubur di bawah pondasi bangunan. Saat gelombang gempa mendekat, Teknologi ini akan memasuki salah satu ‘cincin’ dan terjebak di dalamnya.
Kemudian, gelombang gempa pada akhirnya hanya melewati pondasi bangunan dan muncul di sisi lain permukaan tanah.
- Replaceable Fuses
Teknologi ini dikembangkan oleh para peneliti dari Stanford University dan University of Illinois. Konsepnya adalah memanfaatkan sekring pada listrik untuk membangun gedung tahan gempa.
Dalam eksperimennya, para peneliti menggunakan kabel vertikal yang mampu menjangkau bagian atas gedung. Kabel ini berfungsi membatasi goyangan gempa.
Tak hanya itu, kabel ini juga juga mampu menarik kembali struktur bangunan hingga tegak setelah gempa reda. Lebih menarik lagi, besi dari sekering ini mampu menyerap energi seismik yang dipancarkan oleh gempa.
- Levitating Foundation
Konsep ini memberi bantalan karet di atas pondasi. Di dalam bantalan karet itu, terdapat inti timah padat.
Ada pula pelat baja yang berfungsi untuk menempelkan bantalan ke bangunan dan pondasinya.
Konsep levitating foundation adalah bangunan yang mampu ‘mengapung’ di atas pondasi. Pondasi bangunan memang bergerak saat terjadi gempa.
Tapi, tidak dengan struktur bangunan di atasnya. Alhasil, dampak buruk gempa pada bangunan dapat berkurang.
- Shock Absorbers
Teknologi peredam kejut diadopsi dari dunia otomotif. Identik saat kendaraan melaju di permukaan tak rata, peredam kejut mampu mengurangi besarnya getaran gempa.
Hal ini terjadi karena peredam kejut dapat memutar energi kinetik dari suspensi yang memantul menjadi energi panas. Alhasil, bangunan lebih tahan gempa meski tampak ‘bergoyang’ saat terjadi gempa.
- Post Tensioning Wall
Teknologi berikutnya untuk bangunan tahan gempa adalah dinding ‘bergoyang’. Teknologi ini menggunakan sistem post-tensioning.
Sistem ini membuat tendon baja pada bangunan mampu bergerak, seperti karet gelang.
Tendon baja itu juga dapat direntangkan oleh dongkrak hidrolik guna meningkatkan kekuatan tarik dari dinding. Dinding bangunan memang tampak ‘bergoyang’, tapi bukan berarti bangunan dipastikan roboh.
- Penggunaan Serat Karbon Pada Bangunan
Konsepnya adalah menghasilkan pembungkus plastik berserat untuk bangunan yang tahan gempa.
Teknologi ini bekerja dengan mencampurkan serat karbon dengan polimer yang mengikat, misalnya poliester, epoxy, vinyl ester, atau nylon.
Campuran serat karbon dan polimer tersebut akan menciptakan bahan komposit yang ringan, tetapi sangat kuat.
Itulah informasi tentang 6 teknologi bangunan tahan gempa yang bisa dibuat oleh manusia di era modern ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










