Gempa Tuban Masuk Kategori Gempa Bumi Dangkal, Apa Pengertiannya dan Seberapa Bahayakah Gempa Bumi Dangkal Itu?

AKURAT.CO, Indonesia kembali diguncang gempa, kali ini gempa Tuban mengguncang sebagian wilayah Jawa terutama di daerah pantai utara Jawa seperti Tuban, Surabaya, Jepara, Pati bahkan terasa hingga Semarang.
Berdasarkan pantauan Akurat Jateng dari BMKG merujuk pada kekuatan gempa tuban yaitu pada Magnitudo 6.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG mengatakan, episenter gempa bumi terletak pada koordinat 5,79 derajat Lintang Selatan (LS) serta 112,32 derajat Bujur Timur (BT).
Atau lebih tepatnya berlokasi di laut pada jarak 126 kilometer arah timur laut Tuban, Jawa Timur pada kedalaman 10 kilometer.
Melihat pada episenter tersebut menunjukkan bahwa Gempa Tuban masuk dalam kategori Gempa Bumi Dangkal.
Lalu apa itu Gempa Bumi Dangkal?
Merujuk pada bpbd.ntbprov.go.id mengatakan bahwa gempa bumi dangkal adalah jenis gempa bumi yang hiposentrumnya berada kurang dari 60 km dari permukaan bumi.
Gempa bumi ini biasanya menimbulkan kerusakan yang besar.
Faktor yang mempengaruhi besar atau kecilnya kekuatan dan daya guncang sebuah gempa adalah faktor lokasi, jarak pusat gempa, dan juga kedalaman.
Menurut United States Geological Survey, sebagian besar gempa bumi yang terjadi memiliki kedalaman yang dangkal.
Jenis gempa bumi dangkal ternyata bisa jauh lebih memberikan kerusakan lebih besar meskipun memiliki kekuatan yang tidak terlalu tinggi.
Artinya bisa saja gempa yang hanya memiliki kekuatan lima atau enam Skala Richter bisa menimbulkan kerusakan dengan skala yang besar jika kedalamannya kurang dari 60 km.
Terkait gempa Tuban ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Masyarakat juga diminta untuk menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat guncangan gempa.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kisah Heroik H Soekaimi, Komandan Hizbullah Mranggen yang Gugur Ditembak Belanda pada 1946
- 2Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 3Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 4Ditreskrimsus Polda Jateng Cek Tiga Rumah di Gombel Lama, Dugaan Kerusakan Lingkungan Didalami
- 5Update Rute Macet Hari Ini 14 Oktober 2026: Pulang Kerja Sore Ini Semarang dan Solo Macet Parah, Ini Jalur Tikusnya
- 6Malam di Semarang Makin Gerah, Warga Kehilangan 83 Jam Tidur Setahun—Ini Penyebabnya
- 7Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 8Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Macet
- 9Tugu Muda Semarang Direkayasa Dua Hari, Pengendara ke Stasiun dan Bandara Diminta Berangkat Lebih Awal
- 10Cek Rute Macet Kota Surabaya 14 Oktober 2026: Proyek Drainase Jadi Biang Kerok, Titik Mana yang Harus Dihindari?







