Jateng

Mengenal Tokoh Pewayangan dari Sisi Sejarah dan Budaya: Barata, Pangeran yang Memilih Keadilan di Atas Tahta

Theo Adi Pratama | 10 Maret 2024, 13:30 WIB
Mengenal Tokoh Pewayangan dari Sisi Sejarah dan Budaya: Barata, Pangeran yang Memilih Keadilan di Atas Tahta

AKURAT.CO, Barata, putra Prabu Dasarata dari Kerajaan Ayodhya, adalah sosok yang penuh kebijaksanaan dan keadilan dalam kisah Ramayana.

Ia terkenal dengan penolakannya terhadap tahta meski memiliki hak untuk itu.

Baca Juga: Mengenal Tokoh Pewayangan dari Sisi Sejarah dan Budaya: Bilung, Raksasa Kecil dalam Dunia Pewayangan Jawa

Kelahiran dan Sifat Mulia

Barata dilahirkan dari Dewi Kekayi, permaisuri ketiga Prabu Dasarata.

Ia memiliki dua adik kandung, Satrugna dan Dewi Kawakwa.

Selain itu, Barata juga memiliki dua saudara seayah lain ibu, yakni Ramawijaya dan Leksmana.

Barata dikenal dengan paras yang tampan dan sifatnya yang adil, jujur, dan tegas.

Para brahmana bahkan meyakini Barata sebagai penjelmaan Dewa Darma, dewa yang melambangkan kebaikan dan keadilan.

Penolakan Terhadap Tahta

Prabu Dasarata berniat menjadikan Ramawijaya sebagai putra mahkota.

Namun, karena terikat janji pada Dewi Kekayi, sang Prabu terpaksa mengasingkan Rama selama 14 tahun dan menobatkan Barata sebagai raja Ayodhya.

Barata yang menjunjung tinggi keadilan menolak tahta tersebut.

Baca Juga: Mengenal Tokoh Pewayangan dari Sisi Sejarah dan Budaya: Bogadatta, Sang Legenda Pahlawan Perang Bharatayuda

Ia menganggap Ramawijayalah yang berhak menjadi raja dan ia tidak ingin merebut hak saudaranya sendiri.

Barata bahkan menentang keinginan ibunya demi menegakkan kebenaran.

Pengabdian dan Ajaran Astabrata

Barata baru bersedia menjadi raja selama masa pengasingan Rama.

Ia berjanji untuk mengembalikan tahta tersebut kepada Rama setelah masa pembuangan selesai.

Selama 13 tahun, Barata memerintah Ayodhya dengan bijaksana, selalu berdoa untuk keselamatan Rama.

Sebagai bentuk penghormatan kepada Rama, Barata rela hidup sederhana di luar istana.

Ia bahkan menemui Rama di pengasingan dan menerima ajaran Astabrata, delapan pedoman kepemimpinan seorang raja.

Ajaran ini menjadi bekal bagi Rama dalam memerintah Ayodhya kelak.

Baca Juga: Mengenal Tokoh Pewayangan dari Sisi Sejarah dan Budaya: Prabu Bomantara, Kisah Kekuasaan dan Kehancuran Raja Trajutisna

Warisan Kesetiaan dan Keadilan

Barata merupakan teladan kesetiaan terhadap saudara dan keadilan.

Ia rela mengesampingkan kepentingan pribadi demi menegakkan kebenaran dan hak Ramawijaya.

Setelah Rama kembali dan dinobatkan sebagai raja, Barata memilih hidup suci dan meninggal dunia sebagai brahmachari, selibat demi mencapai moksha (kebebasan spiritual).

Kisah Barata mengajarkan tentang pentingnya keadilan, kesetiaan, dan tanggung jawab.

Ia menjadi teladan bagi para pemimpin untuk senantiasa mengedepankan kepentingan rakyat dan kebenaran di atas kepentingan pribadi.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.