Jateng

Jejak Sejarah Pencarian Pasangan Hidup: Dari yang Termuat di Surat Kabar Sejak Jaman Kolonial Hingga Aplikasi Kencan Modern

Theo Adi Pratama | 4 Maret 2024, 13:00 WIB
Jejak Sejarah Pencarian Pasangan Hidup: Dari yang Termuat di Surat Kabar Sejak Jaman Kolonial Hingga Aplikasi Kencan Modern

AKURAT.CO Sejarah, Dalam era di mana teknologi semakin canggih, mencari pasangan hidup tidak lagi terbatas pada interaksi langsung di dunia nyata.

Aplikasi kencan seperti Tinder, Bumble, Badoo, dan Coffee Meets Bagel menjadi pilihan populer bagi banyak orang untuk mencari jodoh.

Namun, praktik mencari pasangan melalui media tidaklah sesuatu yang baru. Jejaknya telah terlihat sejak zaman kolonial, ketika iklan pencarian jodoh dimuat di surat kabar.

Surat kabar adalah salah satu sarana komunikasi utama pada masa itu.

Baca Juga: Perjalanan Sejarah Salah Satu Daerah di Yogyakarta: Asal-usul Nama Kecamatan Kasihan dan Kisah Rara Kasihan

Di Batavia, sekarang Jakarta, Bataviasche Nouvelles adalah salah satu surat kabar pertama yang terbit pada 7 Agustus 1744, berkat perintah Gubernur Jenderal van Imhoff.

Surat kabar ini tidak hanya menjadi sumber informasi, tetapi juga tempat untuk memasang iklan pencarian jodoh.

Pada awalnya, iklan pencarian jodoh ini muncul di berbagai surat kabar kolonial.

Misalnya, di Surabaya, Soerabaijas Advertentie-Blad yang dipimpin oleh C.F. Smith menjadi surat kabar pertama yang terbit pada bulan Maret 1836.

Surat kabar ini terkenal dengan iklan-iklannya yang mencakup berbagai aspek kehidupan, termasuk pencarian pasangan hidup.

Baca Juga: Sejarah Sebuah Tradisi Keagamaan di Indonesia: Galungan, Perayaan Berabad-Abad dalam Tradisi Hindu Bali

Iklan-iklan ini sering kali mencantumkan berbagai kriteria seperti usia, penampilan, hingga kepribadian yang diinginkan.

Misalnya, pada surat kabar De Locomotief, 28 April 1870, seorang pria Belanda secara spesifik mencantumkan kriteria ras tertentu dalam iklan pencarian jodohnya.

Ini mencerminkan budaya kolonial pada saat itu yang mengistimewakan kelompok etnis tertentu.

Namun, praktik mencari jodoh lewat surat kabar tidak hanya terbatas pada orang Belanda.

Setelah Indonesia merdeka, praktik ini masih berlanjut, seperti yang tercatat dalam surat kabar Java-Bode, 29 Desember 1952.

Baca Juga: Tempat Bersejarah di Indonesia: Giri Kedaton, Sejarah Perjalanan Kerajaan Islam yang Legendaris di Tanah Jawa

Pemuda Indonesia mulai mengiklankan diri mereka sendiri untuk mencari pasangan hidup, meskipun hal ini tidak luput dari kritik dari beberapa pihak.

Majalah Minggu Pagi, pada 26 April 1953, mengkritik keras praktik mencari jodoh lewat iklan di surat kabar, menganggapnya sebagai tindakan meniru budaya Barat yang merusak moral bangsa Indonesia.

Namun, meskipun mendapat kritik, praktik ini masih menjadi alternatif bagi banyak orang yang ingin menemukan pasangan hidup.

Dengan perkembangan teknologi, praktik mencari jodoh ini telah bertransformasi.

Aplikasi kencan menjadi cara modern bagi banyak orang untuk menemukan pasangan hidup mereka.

Namun, jejak sejarah mencari pasangan melalui media tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya kita, mengingatkan kita akan perjalanan panjang manusia dalam mencari cinta dan kebahagiaan.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.