Jejak Sejarah Pencarian Pasangan Hidup: Dari yang Termuat di Surat Kabar Sejak Jaman Kolonial Hingga Aplikasi Kencan Modern

AKURAT.CO Sejarah, Dalam era di mana teknologi semakin canggih, mencari pasangan hidup tidak lagi terbatas pada interaksi langsung di dunia nyata.
Aplikasi kencan seperti Tinder, Bumble, Badoo, dan Coffee Meets Bagel menjadi pilihan populer bagi banyak orang untuk mencari jodoh.
Namun, praktik mencari pasangan melalui media tidaklah sesuatu yang baru. Jejaknya telah terlihat sejak zaman kolonial, ketika iklan pencarian jodoh dimuat di surat kabar.
Surat kabar adalah salah satu sarana komunikasi utama pada masa itu.
Di Batavia, sekarang Jakarta, Bataviasche Nouvelles adalah salah satu surat kabar pertama yang terbit pada 7 Agustus 1744, berkat perintah Gubernur Jenderal van Imhoff.
Surat kabar ini tidak hanya menjadi sumber informasi, tetapi juga tempat untuk memasang iklan pencarian jodoh.
Pada awalnya, iklan pencarian jodoh ini muncul di berbagai surat kabar kolonial.
Misalnya, di Surabaya, Soerabaijas Advertentie-Blad yang dipimpin oleh C.F. Smith menjadi surat kabar pertama yang terbit pada bulan Maret 1836.
Surat kabar ini terkenal dengan iklan-iklannya yang mencakup berbagai aspek kehidupan, termasuk pencarian pasangan hidup.
Iklan-iklan ini sering kali mencantumkan berbagai kriteria seperti usia, penampilan, hingga kepribadian yang diinginkan.
Misalnya, pada surat kabar De Locomotief, 28 April 1870, seorang pria Belanda secara spesifik mencantumkan kriteria ras tertentu dalam iklan pencarian jodohnya.
Ini mencerminkan budaya kolonial pada saat itu yang mengistimewakan kelompok etnis tertentu.
Namun, praktik mencari jodoh lewat surat kabar tidak hanya terbatas pada orang Belanda.
Setelah Indonesia merdeka, praktik ini masih berlanjut, seperti yang tercatat dalam surat kabar Java-Bode, 29 Desember 1952.
Pemuda Indonesia mulai mengiklankan diri mereka sendiri untuk mencari pasangan hidup, meskipun hal ini tidak luput dari kritik dari beberapa pihak.
Majalah Minggu Pagi, pada 26 April 1953, mengkritik keras praktik mencari jodoh lewat iklan di surat kabar, menganggapnya sebagai tindakan meniru budaya Barat yang merusak moral bangsa Indonesia.
Namun, meskipun mendapat kritik, praktik ini masih menjadi alternatif bagi banyak orang yang ingin menemukan pasangan hidup.
Dengan perkembangan teknologi, praktik mencari jodoh ini telah bertransformasi.
Aplikasi kencan menjadi cara modern bagi banyak orang untuk menemukan pasangan hidup mereka.
Namun, jejak sejarah mencari pasangan melalui media tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya kita, mengingatkan kita akan perjalanan panjang manusia dalam mencari cinta dan kebahagiaan.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Atlet Selam Jepara Meninggal di Porprov Jateng, Lomba di Awann Costa Ditunda
- 2Profil Instagram Wasit Persija vs Persik di Super League 2026/2027, Steven Yubel Poli Pimpin Duel, Aidil Azmi Jadi Wasit VARdi JIS
- 3LIVE SCORE PSMS vs PSIS! Ayam Kinantan Unggul 2-0 di Babak Pertama, Tuan Rumah Kena Kartu Merah, Cek Skor Akhir FULL TIME
- 4UPDATE! Kronologi Atlet Selam Jepara Syabilla Rizkia Meninggal Saat Porprov Jateng 2026
- 5Viral Pelari JRF 2026 Terobos Barikade, Apa Itu COT dan COP? Ini Aturan yang Wajib Dipahami
- 6Jadwal BWF Hylo Open 2026 Lengkap hingga Final, Cek Wakil Indonesia dan Link Live Streaming
- 7GMPI Kota Semarang Gelar Rakercab dan Forum Diskusi Kepemudaan, Ajak Gen Z Menjaga Nilai Demokrasi di Era Digital
- 8Prediksi Skor Garudayaksa vs Persib, Cuma Punya 1 Hari Persiapan, Mampukah Persib Taklukkan Garudayaksa?
- 9Perangkat Pertandingan Garudayaksa vs Persib: Wasit Irfan Wahyu Wijanarko Pimpin Laga Panas Malam Ini
- 10CEK! Viral Pelari JRF 2026, Mengenal Flag-Off Time, Gun Time, dan Chip Time







