Sejarah Sebuah Tradisi Keagamaan di Indonesia: Galungan, Perayaan Berabad-Abad dalam Tradisi Hindu Bali

AKURAT.CO Sejarah, Galungan, salah satu hari raya yang paling sakral dalam tradisi Hindu, telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Bali sejak berabad-abad yang lalu.
Perayaan ini memperingati terciptanya alam semesta dan merupakan ungkapan rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi dan Dewa Bhatara atas kehadiran dan berkah-Nya.
Pada Rabu, tanggal 28 Februari 2024 yang lalu, umat Hindu di seluruh Bali merayakan Galungan dengan penuh kegembiraan dan kebersamaan.
Galungan dirayakan setiap 210 hari, yang setara dengan 6 bulan dalam kalender Bali.
Baca Juga: Menelusuri Sejarah dan Keunikan Selokan Mataram: Destinasi Wisata Bersejarah yang Unik di Yogyakarta
Perayaan ini diikuti oleh Hari Raya Kuningan sepuluh hari setelahnya.
Persiapan Galungan dimulai jauh sebelum hari-H, dimana umat Hindu melaksanakan berbagai upacara penting seperti Tumpak Wariga, Sugihan Jawa, Mererebon, Sugihan Bali, Hari Penyekaban, dan Penyajan.
Setiap upacara memiliki tujuan tersendiri, mulai dari penyucian diri hingga menahan diri dari hal-hal yang dilarang agama.
Sejarah Galungan tertulis dalam lontar Purana Bali Dwipa, menurut catatan I Nyoman Suka Ardiyasa dalam "Makna Filosofi Hari Raya Galungan pada Era Globalisasi".
Baca Juga: Sejarah Singkat Kerajaan Samudera Pasai: Mengetahui Jejak Pertama Kesultanan Islam di Nusantara
Galungan pertama kali dirayakan pada hari Rabu Kliwon, Wuku Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka atau sekitar 882 Masehi.
Ini adalah era di mana Kerajaan Sri Kesari Warmadewa berkuasa di Bali.
Meskipun Bali adalah pusat perayaan Galungan, catatan sejarah juga mencatat bahwa perayaan ini sempat menghilang sebelum dihidupkan kembali oleh Raja Sri Jayakasunu.
Menurut naskah lontar kuno, perayaan Galungan telah meredup di Bali sampai Sri Jayakasunu mendapat bisikan dari Dewi Durgha.
Baca Juga: Sejarah dan Perjalanan Tradisi Bibibi: Tradisi Ramadhan yang Memikat di Kota Probolinggo, Jawa Timur
Dewi tersebut memberitahu bahwa leluhurnya selalu berumur pendek karena tidak merayakan Galungan.
Sejak itulah, Raja Sri Jayakasunu memulai kembali tradisi Galungan, yang kemudian menjadi perayaan tahunan yang dihormati dan dirayakan dengan penuh kebanggaan oleh masyarakat Bali.
Galungan bukan sekadar perayaan agama, tetapi juga merupakan bagian dari identitas dan warisan budaya Bali yang kaya.
Dengan menghormati tradisi nenek moyang mereka, umat Hindu Bali menjaga dan merayakan Galungan sebagai warisan budaya yang tak ternilai harganya, sementara terus mempertahankan kebersamaan dan persatuan di tengah keberagaman dan tantangan zaman modern.
Galungan tidak hanya sebuah perayaan, tetapi juga simbol kekuatan spiritual dan kesatuan komunitas Hindu Bali yang tak tergoyahkan.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kisah Heroik H Soekaimi, Komandan Hizbullah Mranggen yang Gugur Ditembak Belanda pada 1946
- 2Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 3Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 4Ditreskrimsus Polda Jateng Cek Tiga Rumah di Gombel Lama, Dugaan Kerusakan Lingkungan Didalami
- 5Update Rute Macet Hari Ini 14 Oktober 2026: Pulang Kerja Sore Ini Semarang dan Solo Macet Parah, Ini Jalur Tikusnya
- 6Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 7Malam di Semarang Makin Gerah, Warga Kehilangan 83 Jam Tidur Setahun—Ini Penyebabnya
- 8Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Macet
- 9Tugu Muda Semarang Direkayasa Dua Hari, Pengendara ke Stasiun dan Bandara Diminta Berangkat Lebih Awal
- 10Cek Rute Macet Kota Surabaya 14 Oktober 2026: Proyek Drainase Jadi Biang Kerok, Titik Mana yang Harus Dihindari?









