Jateng

Eksplorasi Sejarah Pemandian Alam Banyubiru: Sumber Air Biru di Tengah Sejarah Pasuruan

Theo Adi Pratama | 17 Desember 2023, 09:30 WIB
Eksplorasi Sejarah Pemandian Alam Banyubiru: Sumber Air Biru di Tengah Sejarah Pasuruan

AKURAT.CO Sejarah, Pemandian Alam Banyubiru, terletak di Desa Sumberejo, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, tidak hanya sekadar destinasi wisata, tetapi juga menyimpan sejarah panjang yang melibatkan legenda, keberanian dua prajurit Majapahit, dan warisan kolonial Belanda.

Destinasi wisata ini telah menjadi favorit warga Kabupaten Pasuruan dan sekitarnya, menawarkan sumber mata air biru yang jernih, pemandangan alam menakjubkan, serta fasilitas yang lengkap untuk bersantai bersama keluarga, kerabat, dan teman.

Baca Juga: Sejarah Panjang Stasiun Solo Balapan: Dari Lokasi Pacuan Kuda Hingga Adanya Fasilitas Modern

Sejarah Pemandian Alam Banyubiru dimulai dengan kisah legendaris tentang dua prajurit Majapahit, Mbah Kebut dan Mbah Tombro, yang melarikan diri dari kerajaan dan terdampar di wilayah hutan belantara di Pasuruan.

Dengan membawa bekal dari kerajaan, Mbah Kebut membawa keris pusakanya sebagai seorang empunya terbaik di Kerajaan Majapahit, sementara Mbah Tombro membawa dua ekor kerbau sebagai seorang petani.

Perjalanan mereka menuju selatan membawa mereka ke wilayah Pasuruan, di mana mereka memutuskan untuk menetap dan memulai kehidupan baru.

Dengan membabat hutan dan bekerja keras membangun pemukiman, mereka membuka babak baru bagi masyarakat setempat.

Pada suatu hari, Mbah Tombro menemukan dua kerbaunya tenggelam dalam kolam lumpur.

Meskipun mencoba untuk menyelamatkan mereka, kerbau-kerbau tersebut terperangkap di dalam kubangan lumpur dan tidak dapat bergerak.

Dengan kecerdikan dan keberanian, Mbah Tombro berhasil membebaskan kerbau-kerbaunya dengan mengibaskan empat tangkai daun keladi di depan mereka.

Kejadian ini menjadi titik awal munculnya sumber mata air biru yang mengisi kolam, dikenal sebagai Pemandian Alam Banyubiru.

Baca Juga: Mengulik Sejarah dan Kisah Mohammad Hatta: Sepak Bola di Hati, Perjuangan di Jiwa

Menurut cerita rakyat, ikan-ikan besar yang muncul di kolam tersebut disebut Ikan Sengkaring atau Ikan Tombro.

Dipercayai bahwa mengambil ikan tersebut akan mendatangkan malapetaka, sehingga masyarakat setempat menjaga keberadaan ikan ini dengan hati-hati.

Kemudian, pada masa kolonial Belanda, Bupati Pasuruan Raden Adipati Nitiningrat bekerja sama dengan P.W. Hoplan untuk menjadikan kolam tersebut sebagai pemandian umum.

Nama "Telaga Wilis" pun berganti menjadi "Banyubiru" mengacu pada warna airnya yang biru jernih.

Bersamaan dengan pembangunan pemandian, sekitar kolam juga dibangun taman-taman yang menambah keindahan daerah sekitarnya.

Beberapa arca-arca dan situs purbakala dari Singosari pun dipindahkan ke lokasi ini sebagai elemen pelengkap.

Pemandian Alam Banyubiru menjadi sangat populer di kalangan wisatawan.

Pada masa itu, berbagai pertandingan olahraga seperti polo air dan renang sering diadakan di tempat ini.

Sejak saat itu, Pemandian Alam Banyubiru terus menjadi daya tarik utama bagi wisatawan, baik dari dalam maupun luar daerah Kabupaten Pasuruan.

Baca Juga: Sejarah Istilah Gerbangkertosusila: Mengungkap Pesona Metropolitan Jawa Timur

Dengan keindahan alamnya, legenda yang mengiringi, dan nilai sejarahnya yang kaya, Pemandian Alam Banyubiru tetap menjadi destinasi wisata unggulan di Jawa Timur.

Sebuah tempat di mana alam dan sejarah saling menyatu, menciptakan pengalaman wisata yang tak terlupakan bagi setiap pengunjung.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.