Jateng

Mengenal Budaya Jawa: 16 Kosakata Jawa yang Mulai Jarang Terdengar di Masa Modern, Apakah Kamu Pernah Mendengar?

Theo Adi Pratama | 12 April 2024, 13:28 WIB
Mengenal Budaya Jawa: 16 Kosakata Jawa yang Mulai Jarang Terdengar di Masa Modern, Apakah Kamu Pernah Mendengar?

AKURAT.CO, Kosakata dalam bahasa Jawa merupakan bagian yang tak terpisahkan dari warisan budaya yang kaya.

Namun, seiring dengan perkembangan zaman, beberapa kosakata Jawa mulai jarang terdengar lagi, baik di pedesaan maupun di perkotaan.

Berikut adalah beberapa kosakata Jawa yang mulai langka dan jarang terdengar di masa sekarang bersumber dari instagram @awingaljamal :

Baca Juga: Menggali Filosofi dalam Bahasa Jawa, Kearifan Lokal yang Mendarah Daging: 5 Kosakata Jawa serta Maknanya

Kacu : Merujuk pada sapu tangan. Dulu, kosakata ini sering digunakan untuk menyebutkan kain kecil yang biasa digunakan untuk membersihkan wajah atau tangan.

Suweng : Menyebutkan anting. Sebuah kata yang dulunya sering digunakan untuk menyebutkan perhiasan yang dipasang di telinga.

Lodhong : Merupakan toples, tempat penyimpanan makanan atau benda-benda lainnya yang terbuat dari kaca dan memiliki penutup.

Mojah : Pelapis kulit ketat, seperti kaus kaki atau sarung tangan. Kosakata ini mungkin jarang terdengar karena pergeseran preferensi dalam pakaian dan bahan yang digunakan.

Lisah Liyun : Minyak tanah. Istilah ini mengacu pada bahan bakar yang dulunya sering digunakan dalam lampu minyak atau lampu pelita.

Lisah Klenthik : Minyak goreng yang terbuat dari kelapa. Kosakata ini mungkin jarang terdengar karena semakin banyaknya variasi minyak goreng yang tersedia di pasaran.

Druwang : Kertas. Kata ini mengacu pada bahan yang digunakan untuk menulis atau mencetak.

Gendul : Botol kaca. Istilah ini sering digunakan untuk menyebut botol kaca yang digunakan sebagai wadah minuman atau benda lainnya.

Baca Juga: Mengurai Kemacetan, Peran Vital Jalur Fungsional Jogja-Solo Selama Musim Mudik

Gembes : Botol plastik. Sebuah kata yang dulunya mungkin lebih sering digunakan untuk menyebutkan botol plastik yang biasa digunakan untuk minuman atau penyimpanan.

Sosi : Kunci. Kosakata ini mungkin jarang terdengar karena semakin banyaknya variasi kunci modern dan elektronik yang digunakan.

Amben : Dipan. Kata ini mengacu pada tempat tidur tradisional yang terbuat dari kayu.

Galar : Pelapis dipan dari bambu. Istilah ini merujuk pada bagian bawah tempat tidur yang terbuat dari anyaman bambu.

Dingklik : Kursi kecil. Kosakata ini sering digunakan untuk menyebut kursi dengan ukuran yang lebih kecil dari biasanya.

Cemplik : Lampu minyak. Sebuah kata yang dulunya sering digunakan untuk menyebut lampu yang menggunakan minyak sebagai bahan bakarnya.

Baca Juga: 3 Fakta Unik Seputar Badarawuhi: Makhluk Gaib Penuh Misteri yang Mengguncang di Film Horor KKN di Desa Penari

Pengilon : Cermin. Istilah ini mengacu pada benda yang digunakan untuk memantulkan gambar atau refleksi.

Jungkat : Sisir. Kosakata ini mungkin jarang terdengar karena semakin banyaknya variasi alat untuk merawat rambut yang tersedia di pasaran.

Meskipun kosakata-kosakata ini mungkin mulai jarang terdengar, namun mereka tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya Jawa yang perlu diingat dan dilestarikan.

Dengan mengenang dan memahami kosakata-kosakata ini, kita dapat memperkaya pemahaman kita tentang budaya dan sejarah Jawa yang kaya akan kearifan lokal.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.