Menyambut Paskah 2024: Berikut Asal-usul dan Sejarah Lahirnya Tradisi Semana Santa di Larantuka

AKURAT.CO, Pengaruh Portugis telah memberikan warna tersendiri dalam kehidupan umat Katolik di Larantuka, sebuah kota di Nusa Tenggara Timur, Indonesia.
Interaksi yang dimulai sejak abad ke-16 itu menjadikan Larantuka sebagai pusat kehidupan religius yang kaya sejarah.
Salah satu bukti nyata dari interaksi tersebut adalah tradisi Semana Santa, yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya dan kehidupan masyarakat setempat.
Awal Mula dan Legenda
Cerita rakyat yang beredar mempercayai bahwa tradisi Semana Santa di Larantuka berawal dari penemuan Patung Tuan Ma di Pantai Larantuka pada tahun 1510.
Konon, patung tersebut terdampar di pantai setelah kapal Portugis mengalami kecelakaan di perairan Larantuka.
Di bawah perintah Kepala Kampung Lewonama pada masa itu, patung Tuan Ma kemudian disimpan di sebuah rumah pemujaan lokal.
Meskipun pada awalnya masyarakat setempat tidak mengenal identitas patung tersebut, mereka mulai menghormatinya sebagai benda sakral.
Patung ini menjadi pusat perhatian dan pemujaan, dengan masyarakat setempat memberikan sesaji saat merayakan berbagai peristiwa, seperti panen dan perayaan lainnya.
Perayaan Semana Santa
Perayaan Semana Santa di Larantuka adalah momen sakral yang diadakan tiga kali dalam setahun, dikenal sebagai Hari Baedi Nagi, Hari Bae diKonga, dan Hari Baedi Wureh.
Perayaan ini memusatkan perhatian pada sosok Bunda Maria yang berduka, menyaksikan penderitaan anaknya sebelum dan saat disalibkan.
Desa Wureh, yang terletak di Adonara Barat, Flores Timur, menjadi salah satu pusat kegiatan Semana Santa yang paling berpengaruh di Larantuka.
Desa ini telah mempertahankan pengaruh kuat dari budaya Portugis, yang tercermin dalam perayaan religius mereka.
Pentingnya Tradisi dalam Budaya Lokal
Tradisi Semana Santa tidak hanya merupakan peristiwa keagamaan, tetapi juga bagian integral dari budaya dan identitas masyarakat Larantuka.
Perayaan ini tidak hanya menyatukan umat Katolik, tetapi juga menjadi momentum penting dalam menjaga dan mewarisi warisan budaya yang kaya dari para leluhur mereka.
Baca Juga: Jadwal Misa Pekan Suci 2024 Untuk Gereja-Gereja Katolik di Jawa Tengah (Update 3)
Dengan mempertahankan tradisi Semana Santa, masyarakat Larantuka memperkuat ikatan mereka dengan sejarah, iman, dan nilai-nilai keagamaan yang telah mengakar dalam budaya mereka selama berabad-abad.
Tradisi ini bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga ekspresi dari keyakinan, penghormatan, dan kesatuan umat dalam memperingati peristiwa penting dalam agama Katolik.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Atlet Selam Jepara Meninggal di Porprov Jateng, Lomba di Awann Costa Ditunda
- 2Profil Instagram Wasit Persija vs Persik di Super League 2026/2027, Steven Yubel Poli Pimpin Duel, Aidil Azmi Jadi Wasit VARdi JIS
- 3LIVE SCORE PSMS vs PSIS! Ayam Kinantan Unggul 2-0 di Babak Pertama, Tuan Rumah Kena Kartu Merah, Cek Skor Akhir FULL TIME
- 4UPDATE! Kronologi Atlet Selam Jepara Syabilla Rizkia Meninggal Saat Porprov Jateng 2026
- 5Viral Pelari JRF 2026 Terobos Barikade, Apa Itu COT dan COP? Ini Aturan yang Wajib Dipahami
- 6Jadwal BWF Hylo Open 2026 Lengkap hingga Final, Cek Wakil Indonesia dan Link Live Streaming
- 7GMPI Kota Semarang Gelar Rakercab dan Forum Diskusi Kepemudaan, Ajak Gen Z Menjaga Nilai Demokrasi di Era Digital
- 8Prediksi Skor Garudayaksa vs Persib, Cuma Punya 1 Hari Persiapan, Mampukah Persib Taklukkan Garudayaksa?
- 9Perangkat Pertandingan Garudayaksa vs Persib: Wasit Irfan Wahyu Wijanarko Pimpin Laga Panas Malam Ini
- 10CEK! Viral Pelari JRF 2026, Mengenal Flag-Off Time, Gun Time, dan Chip Time







