Mengenal Tokoh Pewayangan dari Sisi Sejarah dan Budaya: Barata, Pangeran yang Memilih Keadilan di Atas Tahta

AKURAT.CO, Barata, putra Prabu Dasarata dari Kerajaan Ayodhya, adalah sosok yang penuh kebijaksanaan dan keadilan dalam kisah Ramayana.
Ia terkenal dengan penolakannya terhadap tahta meski memiliki hak untuk itu.
Kelahiran dan Sifat Mulia
Barata dilahirkan dari Dewi Kekayi, permaisuri ketiga Prabu Dasarata.
Ia memiliki dua adik kandung, Satrugna dan Dewi Kawakwa.
Selain itu, Barata juga memiliki dua saudara seayah lain ibu, yakni Ramawijaya dan Leksmana.
Barata dikenal dengan paras yang tampan dan sifatnya yang adil, jujur, dan tegas.
Para brahmana bahkan meyakini Barata sebagai penjelmaan Dewa Darma, dewa yang melambangkan kebaikan dan keadilan.
Penolakan Terhadap Tahta
Prabu Dasarata berniat menjadikan Ramawijaya sebagai putra mahkota.
Namun, karena terikat janji pada Dewi Kekayi, sang Prabu terpaksa mengasingkan Rama selama 14 tahun dan menobatkan Barata sebagai raja Ayodhya.
Barata yang menjunjung tinggi keadilan menolak tahta tersebut.
Ia menganggap Ramawijayalah yang berhak menjadi raja dan ia tidak ingin merebut hak saudaranya sendiri.
Barata bahkan menentang keinginan ibunya demi menegakkan kebenaran.
Pengabdian dan Ajaran Astabrata
Barata baru bersedia menjadi raja selama masa pengasingan Rama.
Ia berjanji untuk mengembalikan tahta tersebut kepada Rama setelah masa pembuangan selesai.
Selama 13 tahun, Barata memerintah Ayodhya dengan bijaksana, selalu berdoa untuk keselamatan Rama.
Sebagai bentuk penghormatan kepada Rama, Barata rela hidup sederhana di luar istana.
Ia bahkan menemui Rama di pengasingan dan menerima ajaran Astabrata, delapan pedoman kepemimpinan seorang raja.
Ajaran ini menjadi bekal bagi Rama dalam memerintah Ayodhya kelak.
Warisan Kesetiaan dan Keadilan
Barata merupakan teladan kesetiaan terhadap saudara dan keadilan.
Ia rela mengesampingkan kepentingan pribadi demi menegakkan kebenaran dan hak Ramawijaya.
Setelah Rama kembali dan dinobatkan sebagai raja, Barata memilih hidup suci dan meninggal dunia sebagai brahmachari, selibat demi mencapai moksha (kebebasan spiritual).
Kisah Barata mengajarkan tentang pentingnya keadilan, kesetiaan, dan tanggung jawab.
Ia menjadi teladan bagi para pemimpin untuk senantiasa mengedepankan kepentingan rakyat dan kebenaran di atas kepentingan pribadi.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kisah Heroik H Soekaimi, Komandan Hizbullah Mranggen yang Gugur Ditembak Belanda pada 1946
- 2Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 3Ditreskrimsus Polda Jateng Cek Tiga Rumah di Gombel Lama, Dugaan Kerusakan Lingkungan Didalami
- 4Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 5Update Rute Macet Hari Ini 14 Oktober 2026: Pulang Kerja Sore Ini Semarang dan Solo Macet Parah, Ini Jalur Tikusnya
- 6Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 7Malam di Semarang Makin Gerah, Warga Kehilangan 83 Jam Tidur Setahun—Ini Penyebabnya
- 8Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Macet
- 9Tugu Muda Semarang Direkayasa Dua Hari, Pengendara ke Stasiun dan Bandara Diminta Berangkat Lebih Awal
- 10Cek Rute Macet Kota Surabaya 14 Oktober 2026: Proyek Drainase Jadi Biang Kerok, Titik Mana yang Harus Dihindari?








