Jateng

Bangkit dari Pandemi, Neneng Kurniasih Meraih Sukses Berkat Bantuan Holding Ultra Mikro BRI

Theo Adi Pratama | 25 Juni 2024, 14:22 WIB
Bangkit dari Pandemi,  Neneng Kurniasih Meraih Sukses Berkat Bantuan Holding Ultra Mikro BRI

JATENG.AKURAT.CO, Tak ada usaha yang bisa berjalan mulus tanpa adanya hambatan.

Inilah yang juga dialami oleh Neneng Kurniasih, seorang penjual kue dan baju di daerah Rindam, Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Usahanya sempat limbung akibat pandemi Covid-19, tetapi dengan tekad dan bantuan yang tepat, Neneng berhasil bangkit dan meraih kesuksesan kembali.

Neneng memulai usahanya dengan berjualan kue kering pada tahun 2012.

Seiring dengan terkumpulnya keuntungan, ia memutar modalnya dengan menambah produk usaha, yaitu berjualan baju secara kredit.

"Awalnya saya memulai usaha berjualan kue kering pada 2012. Kue tersebut saya jual dengan sistem pre-order. Dari usaha jualan kue kering itu, terkumpul modal usaha baru, kemudian saya manfaatkan untuk berjualan baju secara kredit ke orang-orang. Namun, usaha saya sempat anjlok akibat pandemi Covid-19," ungkap Neneng.

Baca Juga: Surga Tersembunyi di Jawa Tengah: Jelajahi Beberapa Destinasi Wisata Hits di Purworejo

Setelah tidak berjualan lama karena pandemi Covid-19 dan minimnya modal untuk memulai usaha lagi, Neneng dikenalkan dengan program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) dari PT PNM oleh salah satu temannya.

Layanan ini merupakan pinjaman modal untuk perempuan prasejahtera pelaku UMKM yang diluncurkan sejak 2015.

"Saya kemudian mencoba pinjam modal ke PNM Mekaar sekitar tahun 2021-2022. Saya dapat pinjaman sekitar Rp6 juta. Modal tersebut saya manfaatkan untuk menjalankan usaha jualan baju, karena pikir saya saat itu makanan sudah banyak pesaingnya. Namun, setelah usaha jualan baju itu membuahkan keuntungan, saya akhirnya juga memanfaatkan pinjaman tersebut sebagai modal untuk berjualan kue kering lagi," imbuh Neneng.

Lewat produk usaha bernama ‘Nastar Jadoel Emak Nye Ociit’, Neneng banyak menerima pesanan kue kering.

Kukis yang dijual bermacam-macam, seperti nastar dalam kemasan toples 500 gram seharga Rp60 ribu, sagu keju Rp55 ribu, putih salju Rp60 ribu, dan biji ketapang Rp40 ribu dalam kemasan 600 gram.

Baca Juga: Dies Natalis Ke-37 USM, Rektor: USM Selalu Berpikir Terbuka dan Adaptif

Neneng juga menjual peyek dalam kemasan toples 5 liter seharga Rp40 ribu.

Menariknya, Neneng juga menerima pesanan dimsum dari mahasiswa di kampus sekitar tempat usahanya. Semua makanan biasanya dipesan lewat WhatsApp.

Untuk bisnis baju, dagangannya juga cepat laku. Ia biasanya mengambil pakaian dari pasar atau toko yang lebih besar, kemudian memasarkannya ke orang-orang dengan sistem kredit tempo sebulan.

Neneng juga mengungkapkan bahwa ia tidak mengambil keuntungan yang terlalu besar, sehingga banyak orang tertarik membeli baju darinya.

Berkat pinjaman modal dari PNM Mekaar, omzet usaha Neneng pun kini meningkat.

"Setelah bergabung dengan PNM Mekaar, saya tak hanya mendapatkan pinjaman modal usaha, tetapi juga kenal dengan anggota PNM Mekaar lainnya. Lewat kelompok atau komunitas seperti ini, saya jadi bisa memperluas pemasaran dan membuat pembeli saya bertambah. Banyak juga ibu-ibu anggota PNM Mekaar yang ikut memesan kue kering hingga baju ke saya. Dengan pendapatan yang semakin meningkat, kini saya bisa meraih omzet usaha di atas Rp5 juta per bulannya," tambahnya.

Neneng merasa bersyukur karena berkat modal pinjaman dari PNM Mekaar ia bisa kembali menjalankan usahanya dengan lebih baik, yang sangat berdampak pada perekonomian keluarganya.

Baca Juga: Hanya Bisa Ditemukan di Kopeng, Salatiga! Temukan Keindahan Wisata Hits yang Bikin Kamu Gak Mau Pulang

Salah satunya, ia bisa menyekolahkan anaknya tanpa kendala biaya sama sekali.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Bisnis Mikro BRI mengungkapkan komitmen BRI, PNM, dan Pegadaian dalam mengembangkan ekonomi di tingkat grassroot melalui Holding Ultra Mikro (UMi) menjadi contoh nyata bahwa transformasi ekonomi sejati dimulai dari bawah.

Dengan terus memberdayakan pelaku usaha mikro, mereka bukan hanya menjadi agen pertumbuhan ekonomi lokal, tetapi juga turut serta dalam pembangunan ekonomi nasional secara menyeluruh.

Sejak dibentuk pada September 2021 lalu, total kredit yang disalurkan kepada pelaku usaha mikro dan ultra mikro per Kuartal I-2024 mencapai Rp622,6 triliun.

Jumlah tersebut kurang lebih telah menyentuh 47,6% dari total pembiayaan BRI dengan jumlah nasabah 36,8 juta.

"Untuk pemberdayaan itu ternyata tidak cukup hanya memberikan kredit. Yang paling penting itu dua hal: memberikan kredit dan mendampingi, serta mengajarkan mereka menabung," tegasnya.

Cerita Neneng Kurniasih adalah contoh inspiratif bagaimana kegigihan dan bantuan yang tepat dapat membawa perubahan signifikan.

Berkat bantuan Holding Ultra Mikro BRI, Neneng berhasil mengatasi hambatan pandemi dan kini menjalankan usahanya dengan lebih sukses.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.