Jateng

Desa Doplang Menuju Desa Wisata Ikonik Bunga Sedap Malam, Hasil 3 Tahun Program Pengabdian Multiyears DRTPM UPGRIS

Arixc Ardana | 14 Agustus 2025, 15:25 WIB
Desa Doplang Menuju Desa Wisata Ikonik Bunga Sedap Malam, Hasil 3 Tahun Program Pengabdian Multiyears DRTPM UPGRIS

JATENG.AKURAT.CO, Potensi bunga sedap malam di Desa Doplang, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, kini semakin harum dan dikenal luas.

Selama tiga tahun berturut-turut, Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) melalui program Pengabdian Multiyears DRTPM menggelar kegiatan bertajuk “Pemberdayaan Wilayah Berbasis Rintisan Wisata Ikonik Bunga Sedap Malam Desa Doplang”.

Program yang berlangsung sejak 2023 hingga 2025 ini dirancang untuk mengangkat potensi lokal—khususnya komoditas bunga sedap malam, kekayaan alam, dan semangat masyarakat—agar berkembang menjadi desa wisata edukatif, kreatif, dan mandiri dengan memanfaatkan konsep Teknologi Tepat Guna (TTG).

Tim pengabdian yang terlibat terdiri dari Mega Novita, Ph.D. (ketua tim), Dr. Sutomo, Rifki Hermana, ST., MT, dan Prof. Senowarsito.

Kegiatan ini mendapatkan dukungan penuh dari DRTPM dengan total pendanaan Rp129,6 juta, serta kontribusi APBDes Doplang dan bantuan in-kind dari masyarakat desa.

Dengan Kontrak Induk Nomor: 123/C3/DT.04.00/PM/2025 serta Kontrak Turunan Nomor: 028/LL6/PM/AL.04/2025 dan Nomor :03/SP2H/LPPMUPGRIS/PPM/V/2025

Ketua tim pengabdian, Mega Novita, Ph.D., memaparkan bahwa pelaksanaan program dibagi ke dalam tiga tahap besar.

Hal tersebut disampaikannya, dalam kegiatan Serah Terima Teknologi Tepat Guna dan Pengembangan Produk Unggulan Desa Doplang, yang berlangsung di balai desa tersebut, Rabu 13 Agustus 2025.

Tahun Pertama (2023): Membangun Pondasi Desa Wisata

"Fokus awal diarahkan pada dasar pengembangan desa wisata dan pelatihan produk olahan bunga sedap malam," paparnya.

Warga mendapatkan pelatihan membuat minyak telon, hand sanitizer, dan parfum berbahan bunga sedap malam.

Kegiatan kelembagaan dilakukan melalui penguatan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) dan branding awal desa.

Dalam hal TTG, tim menghadirkan masterplan desa wisata serta alat destilasi minyak atsiri untuk mengolah bunga menjadi minyak esensial berkualitas tinggi.

Hasil capaian berupa produk awal mulai terbentuk, narasi wisata berbasis bunga sedap malam mulai dikenal, dan masyarakat memiliki gambaran arah pengembangan desa wisata.

Tahun Kedua (2024): Memperkuat Sarana dan Promosi

Memasuki tahun kedua, fokus program bergeser pada penguatan fasilitas wisata dan pengembangan media promosi.

Pelatihan kali ini melahirkan produk baru seperti sabun laundry, sabun cuci tangan, dan stick scent pengharum ruangan.

Warga juga mengikuti workshop pengelolaan destinasi wisata dan pelayanan wisatawan untuk meningkatkan kualitas pengalaman pengunjung.

TTG yang dihadirkan antara lain alat branding sosial media dan sistem penyimpanan energi surya (solarcell battery storage).

Selain itu, berkat dukungan APBDes, fasilitas pendukung wisata seperti gondola, kios, dan kamar mandi berhasil dibangun.

"Pada tahun kedua ini, hasil capaiannya promosi wisata mulai menjangkau luar desa, munculnya embrio ekonomi kreatif yang melibatkan UMKM setempat, serta meningkatnya daya tarik kunjungan," tambah Mega.

Tahun Ketiga (2025 – Saat Ini): Teknologi dan Hilirisasi Produk

Tahun terakhir menjadi momen implementasi teknologi modern dan hilirisasi produk.

Dalam bidang TTG, tim menghadirkan Koperasi Merah Putih Digital berupa aplikasi kas berbasis website, yang memudahkan manajemen keuangan UMKM dan koperasi desa.

Pertanian bunga kini menggunakan Smart Penyiraman Otomatis berbasis IoT untuk efisiensi air dan tenaga kerja.

Produk turunan bunga sedap malam juga semakin beragam, meliputi lilin aromaterapi, lulur, parfum hingga body butter.

"Ada 9 produk turunan yang berhasil dihasilkan dari olahan bunga sedap malam ini," lanjut Mega.

Promosi wisata dilakukan melalui booklet wisata dan video review yang dibagikan secara digital.

Tak hanya itu, warga mengikuti pelatihan pemasaran digital dan ikut dalam pameran produk di tingkat regional.

Hasil capaiannya, produk siap dipasarkan secara lebih luas, kelembagaan koperasi dan UMKM semakin kokoh, serta citra Desa Doplang sebagai desa wisata bunga sedap malam semakin menguat di mata publik.

Dukungan Penuh dari LPPM UPGRIS

Ketua LPPM UPGRIS, Prof. Wiyaka, menyampaikan apresiasinya terhadap program ini.

“Kegiatan ini membuktikan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga hadir langsung di tengah masyarakat untuk memberdayakan potensi lokal. Kami berharap Desa Doplang akan menjadi contoh sukses desa wisata berbasis komoditas unggulan,” ujarnya.

Prof. Wiyaka juga menekankan pentingnya keberlanjutan program ini pasca 2025, sehingga masyarakat dapat terus mengembangkan potensi wisata bunga sedap malam secara mandiri.

Kepala Desa Doplang, Isrori, juga memberikan apresiasi tinggi atas kontribusi UPGRIS.

“Kami sangat berterima kasih kepada UPGRIS yang selama tiga tahun ini tidak hanya memberi pelatihan, tetapi juga menyiapkan fasilitas, teknologi, dan jaringan pemasaran. Desa kami kini lebih dikenal, masyarakatnya lebih terampil, dan produk bunga sedap malam kami memiliki nilai jual tinggi,” ungkapnya.

Dampak Nyata bagi Masyarakat

Selama tiga tahun pelaksanaan, program ini membawa berbagai dampak positif.

Omzet pelaku UMKM bunga sedap malam meningkat, lapangan kerja baru mulai tercipta, dan promosi desa menjadi lebih masif melalui platform digital.

Selain itu, masyarakat kini memiliki keterampilan baru dalam mengolah bunga sedap malam menjadi berbagai produk bernilai tambah, sekaligus memanfaatkan teknologi modern untuk meningkatkan produktivitas pertanian.

Mega Novita menegaskan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan penuh perangkat desa, Pokdarwis, dan warga yang aktif terlibat di setiap tahapan.

“Kami percaya bahwa desa yang memiliki visi, komitmen, dan kerja sama yang kuat akan mampu tumbuh menjadi destinasi wisata berkelas. Desa Doplang memiliki semua modal itu,” ungkapnya.

Dengan modal sumber daya alam yang khas, kreativitas masyarakat, dan dukungan dari dunia akademik, Desa Doplang berpotensi menjadi destinasi wisata unggulan yang memadukan keindahan alam, kearifan lokal, dan inovasi produk.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.