Jateng

Menyusuri Jejak Sejarah Asal Usul Magelang, Salah Satu Kota Tertua di Indonesia, Ada Cerita Legenda Unik yang Menyelimuti

Arixc Ardana | 24 Juni 2024, 09:49 WIB
Menyusuri Jejak Sejarah Asal Usul Magelang, Salah Satu Kota Tertua di Indonesia, Ada Cerita Legenda Unik yang Menyelimuti

AKURAT.CO, Terletak di lereng Gunung Merapi yang menawan, Kota Magelang menyimpan kekayaan sejarah yang tak ternilai.

Jauh sebelum hiruk pikuk modernisasi mewarnai zaman, Magelang telah menorehkan jejaknya dalam perjalanan panjang peradaban Nusantara.

Berdiri sejak 11 April 907 Masehi, Magelang dinobatkan sebagai salah satu kota tertua di Indonesia, dengan usianya yang ke-1.117 tahun pada April 2024 lalu.

Baca Juga: Wisata Alam Gua Wareh, Hidden Gem di Sukolilo Pati yang Cocok Dikunjungi Saat Liburan Sekolah atau Akhir Pekan

Embrio Magelang terlahir dari sebuah desa perdikan bernama Mantyasih, yang berarti "beriman dalam cinta kasih".

Di sanalah, pada masa pemerintahan Raja Rakai Pikatan, Prasasti Mantyasih ditegakkan sebagai penanda berdirinya Mantyasih dan bukti sejarah otentik asal-usul Magelang.

Prasasti ini menjadi bukti nyata tentang bagaimana sebuah desa kecil berkembang menjadi sebuah kota yang besar dan bersejarah.

Keberadaan Candi Borobudur, mahakarya arsitektur Buddha terbesar di dunia, turut memperkuat peran Magelang sebagai pusat peradaban penting.

Candi yang megah ini telah berdiri sejak abad ke-8 dan menjadi saksi bisu perkembangan budaya dan spiritualitas di Jawa Tengah.

Untuk menelusuri kembali sejarah Kota Magelang, sumber prasasti yang digunakan adalah Prasasti POH, Prasasti GILIKAN, dan Prasasti MANTYASIH.

Ketiganya merupakan prasasti yang ditulis diatas lempengan tembaga dan menjadi kunci untuk memahami masa lampau Magelang.

Prasasti POH dan Prasasti Mantyasih ditulis pada zaman Mataram Hindu saat pemerintahan Raja Rake Watukura Dyah Balitung (898-910 M).

Prasasti ini menyebutkan Desa Mantyasih dan Desa Glangglang, yang kemudian berkembang menjadi Meteseh dan Magelang.

Prasasti Mantyasih berisi informasi penting, seperti penyebutan nama Raja Rake Watukura Dyah Balitung, penetapan Desa Mantyasih sebagai Desa Perdikan atau daerah bebas pajak, dan penyebutan Gunung Susundara dan Wukir Sumbing, yang kini dikenal dengan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Cerita Legenda Masyarakat

Di balik gemerlap Kota Magelang yang menawan, tersimpan legenda heroik tentang Raden Purbaya, seorang pangeran pemberani dari Mataram.

Legenda ini menceritakan tentang pertarungannya melawan raja jin di hutan Kedu dan asal-usul nama Magelang yang unik.

Raden Purbaya adalah putra Panembahan Senopati, pendiri Kesultanan Mataram. Atas perintah sang ayah, Raden Purbaya ditugaskan untuk membuka hutan Kedu, wilayah lebat yang terletak di barat Sungai Progo. Hutan ini diyakini dihuni oleh raja jin yang kuat dan berbahaya.

Pertempuran Epik Melawan Raja Jin

Raden Purbaya, dengan tombak pusaka Kyai Pleret di tangannya, memasuki hutan Kedu bersama pasukannya.

Mereka berhati-hati, bersiap menghadapi bahaya yang menanti. Benar saja, raja jin muncul dengan kekuatannya yang luar biasa. Pertempuran sengit pun terjadi.

Strategi Raden Purbaya mengepung raja jin dengan formasi melingkar seperti gelang, ternyata menginspirasi nama Magelang. Kata "Magelang" berasal dari bahasa Jawa "gelang" dan "megelang", yang berarti "mengepung dengan gelang".

Perkembangan Magelang dari Desa Perdikan Menjadi Kota

Magelang terus berkembang dari desa perdikan kecil menjadi sebuah kota yang besar dan penting.

Ketika Inggris menguasai Magelang pada abad ke-18, kota ini dijadikan pusat pemerintahan setingkat Kabupaten dan diangkatlah Mas Ngabehi Danukromo sebagai Bupati pertama.

Beliaulah yang kemudian merintis berdirinya Kota Magelang dengan membangun Alun-alun, bangunan tempat tinggal Bupati, dan sebuah masjid.

Dalam perkembangan selanjutnya, Magelang dipilih sebagai Ibukota Karesidenan Kedu pada tahun 1818.

Setelah pemerintah Inggris ditaklukkan oleh Belanda, kedudukan Magelang semakin kuat.

Oleh pemerintah Belanda, kota ini dijadikan pusat lalu lintas perekonomian dan Kota Militer.

Pemerintah Belanda terus melengkapi sarana dan prasarana perkotaan di Magelang, seperti membangun menara air minum di tengah-tengah kota pada tahun 1918, perusahaan listrik pada tahun 1927, dan memperkeras dan mengaspal jalan-jalan arteri.

Saat ini, Magelang telah berkembang menjadi kota modern yang masih menyimpan pesona sejarahnya yang kaya.

Pengunjung dapat menjelajahi berbagai situs bersejarah seperti Candi Borobudur, Museum Magelang, dan Kampung Sewu.

Selain itu, Magelang juga menawarkan keindahan alam yang memukau dan wisata kuliner yang menggoda selera.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.