Hanya Ada di Jepara, Tradisi ‘Bodo Apem’ Budaya Luhur Sebagai Simbol Saling Memaafkan yang Diadakan Pada Bulan Syawal

JATENG.AKURAT.CO, Hanya Ada di Jepara, Tradisi ‘Bodo Apem’ Budaya Luhur Sebagai Simbol Saling Memaafkan yang Diadakan Pada Bulan Syawal.
Di kawasan Pantai Utara Jawa (Pantura) tepatnya di Kabupaten Jepara, ada tradisi unik yang biasa diadakan pada bulan Syawalan atau beberapa minggu setelah hari raya Idul Fitri.
Di Pantura Jepara, tak hanya mengenal adanya tradisi Syawalan Bodo Kupat (Lebaran Ketupat) tapi juga ada “Bodo Apem” atau lebaran Apem.
Seperti yang dilakukan masyarakat Desa Sukodono, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara. Tradisi ini juga disebut Barikan Apem.
barikan apem merupakan pesta membuat dan makan apem warga Jepara setiap Jumat Wage bulan Syawal.
Sebelum warga menyantap apem, makanan itu lebih dulu dibawa ke balai desa setempat untuk didoakan.
Setelah acara selamatan selesai digelar, apem itu kemudian dibagikan ke tetangga sekitar. Tak hanya ke sesama muslim, apem itu juga dibagikan kepada tetangga yang non-muslim.
Selain itu, acara ini digelar sebagai perwujudan permohonan maaf atas segala kesalahan setelah selesai melaksanakan ibadah puasa.
Dalam prosesi Bodo Apem ini akan ada arak-arakan apem dimulai dari tugu perbatasan dengan Desa Ngabul kemudian menuju perbatasan Desa Sukodono, baru dibawa ke kantor balai desa.
Saat puncak acara, masyarakat yang sebelumnya mengikuti arak-arakan tersebut langsung saling berebut, beradu cepat, mendapatkan apem sebanyak-banyaknya.
Sementara itu di Desa Langon, Kabupaten Jepara, masyarakat desa harus terlebih dahulu menjalankan serangkaian ritual sebelum bisa menyantap apem-apem yang telah disediakan.
Ritual yang harus diikuti seperti ziarah makam leluhur dan pengajian yang diadakan di balai desa atau rumah sesepuh desa.
Dalam acara barikan apem di Desa Langon, Jepara, apem-apem itu dikemas dalam berbagai bentuk. Sedikitnya ada 16 gunungan apem berukuran besar beraneka bentuk yang diarak.
Selain bentuk gunungan, ada pula warga yang merangkai apem dalam bentuk lain. Arak-arakan itu semakin meriah dengan iring-iringan kesenian tradisional Jawa seperti Barongan Dencong, tari kuda lumping, dan iringan musik tongtek.
Baca Juga: Tradisi Unik Kawasan Pantura: ‘Bodo Apem’ di Jepara yang Sudah Berlangsung Turun Temurun
Warga setempat yakin bagi siapa saja yang makan apem setelah makanan itu diarak dan didoakan akan mendatangkan berkah.
Sebab ritual apem itu diadakan sebagai wujud rasa syukur atas karunia Tuhan yang Maha Kuasa.
Itulah ulasan mengenai Tradisi Unik Kawasan Pantura: ‘Bodo Apem’ di Jepara yang Sudah Berlangsung Turun Temurun. ***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Profil Instagram Ko Hyung-jin Wasit Indonesia vs Malaysia, Sejarah Kelam 2019 Kembali Terbayang usai Tom Haye Dikartu Merah!
- 2LIVE SCORE Indonesia vs Malaysia, Skor 0-0 Menit ke-70 Thom Haye Kartu Merah, Cek Skor Akhir FULL TIME Menang Siapa?
- 3Kalender Jawa Oktober 2026: Weton, Neptu, dan Rekomendasi Hari Baik untuk Hajatan
- 4Laga PERSIKU VS PSIS BATAL DIGELAR! Ini Alasan Manajemen Tuan Rumah Terkait Pembatalan Pertandingan
- 5Laga Persiku vs PSIS Mendadak BATAL Digelar, Netizen: Harusnya Tuan Rumah Kalah WO!
- 6F1 Ubah Jadwal GP Azerbaijan ke Sabtu, Ternyata Ini Penyebabnya
- 7Panduan Lengkap Kalender Jawa November 2026, dari Minggu Pahing hingga Senin Legi
- 8MotoGP 2026 Masuki Fase Akhir: Ini Jadwal Lengkap Sisa Balapan
- 9PLN Umumkan Pemeliharaan Jaringan di Semarang Timur, Listrik Padam 6 Jam
- 10TNT Awards Jateng 2026 Dorong Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah







