Jateng

Trick or Treat Bukan Ide Industri Cokelat: Ini Warisan Souling Abad Pertengahan

Theo Adi Pratama | 29 Oktober 2026, 14:25 WIB
Trick or Treat Bukan Ide Industri Cokelat: Ini Warisan Souling Abad Pertengahan
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Tradisi anak-anak mengetuk pintu dan meminta permen setiap 31 Oktober bukanlah ide industri cokelat, melainkan warisan berlapis dari ritual Souling abad pertengahan dan Guising Skotlandia yang dibawa imigran ke Amerika, lalu berubah menjadi “Trick or Treat” pada 1920-an.

Ada satu pertanyaan yang sering muncul setiap akhir Oktober, biasanya diiringi tawa kecil sambil membuka aplikasi belanja kostum: kenapa sih anak-anak harus berkeliling minta permen? Kenapa bukan diam di rumah, nonton film horor, atau sekadar foto dengan labu ukir?

Jawabannya tidak ada di rak supermarket. Jawabannya ada di lorong-lorong desa Irlandia dan Skotlandia, berabad-abad sebelum permen kemasan ada.

Baca Juga: Kenapa Halloween Harus 31 Oktober? Ternyata Bukan karena Kalender, Tapi karena Roh

Dimulai dari Sesajen untuk Roh, Bukan Permen

Akar paling dalam dari tradisi ini adalah Samhain, festival api bangsa Kelt yang sudah ada lebih dari 2.000 tahun lalu.

Pada malam 31 Oktober, mereka percaya batas antara dunia orang hidup dan mati menipis. Roh-roh berkeliaran .

Untuk menenangkan makhluk halus itu, orang-orang Kelt meletakkan sesajen makanan di luar rumah . Ini bukan suguhan untuk tetangga.

Ini semacam “uang damai” agar roh tidak mengganggu penghuni rumah.

Jadi, sebelum ada permen, sudah ada praktik memberi makanan untuk sesuatu yang tak kasatmata.

Baca Juga: Samhain: Festival Api Kelt 2.000 Tahun Lalu yang Jadi Nenek Moyang Halloween

Souling: Meminta Kue, Mendoakan Arwah

Memasuki Abad Pertengahan, praktik itu berubah wujud. Muncul tradisi “souling”. Orang-orang miskin—dan kemudian anak-anak—berkeliling dari pintu ke pintu meminta makanan. Sebagai gantinya, mereka mendoakan arwah keluarga penghuni rumah .

Di beberapa daerah, mereka menerima soul cakes, kue bundar kecil yang melambangkan jiwa . RRI mencatat bahwa tradisi inilah yang dianggap sebagai cikal bakal langsung trick-or-treat .

Intinya bukan permen. Intinya adalah transaksi sosial: kamu memberi makan, aku memberi doa.

Baca Juga: Kostum Halloween Bukan Lagi Buat Menakuti Hantu, Tapi Buat Menakuti Feed Kamu

Guising: Anak-anak yang “Menghibur” Sebelum Diberi

Di Irlandia dan Skotlandia, tradisi lain tumbuh: guising, dari kata disguising atau menyamar . Anak-anak mengenakan kostum, lalu berkeliling rumah.

Di depan pintu, mereka tidak langsung minta. Mereka menyanyi, membacakan puisi, atau menceritakan lelucon terlebih dahulu .

Sebagai imbalan, mereka menerima buah, kacang-kacangan, atau uang logam .

Ini bukan mengemis. Ini pertunjukan kecil. Anak-anak memberikan sesuatu—hiburan—sebelum menerima sesuatu. Dari sinilah elemen “trick” atau “pertunjukan” dalam trick-or-treat berasal.

Baca Juga: Halloween Bukan Sekadar Kostum: Dari Api Unggun Samhain sampai Labu Ukir Imigran Irlandia

Menyeberang ke Amerika, Berubah Jadi “Trick or Treat”

Gelombang imigran Irlandia dan Skotlandia pada abad ke-19 membawa tradisi ini ke Amerika Utara . Di tanah baru, souling dan guising melebur.

Anak-anak mulai berkeliling dengan kostum, dan imbalannya berubah dari kue jiwa menjadi permen kemasan.

Frasa “trick or treat” sendiri pertama kali muncul dalam cetakan pada 1920-an . Tapi kebiasaan ini baru benar-benar membumi setelah Perang Dunia II, ketika permen individual menjadi murah dan mudah dibagikan .

Delaware Online mencatat bahwa praktik trick-or-treat “dihidupkan kembali” antara 1920 dan 1950 sebagai cara komunitas merayakan dengan biaya murah.

Sejak itu, Halloween menjadi salah satu hari komersial terbesar di Amerika, dengan belanja tahunan mencapai $6 miliar .

Di Indonesia: Trick-or-Treat di Dalam Mal

Di Indonesia, tradisi ini tidak pernah benar-benar menjadi ritual lingkungan. Tapi ia telah beradaptasi.

Cultura mencatat bahwa di Pacific Place Jakarta, anak-anak yang ingin berburu permen pada Halloween 2026 harus mengenakan kostum dan mendaftar dengan poin keanggotaan .

Mereka tidak mengetuk pintu rumah tetangga. Mereka mengikuti peta di dalam mal, mengumpulkan permen dari gerai-gerai yang berpartisipasi .

Ini bukan trick-or-treat versi asli. Ini versi mal. Tapi elemen intinya tetap: kostum, permen, dan sensasi berkeliling.

Kenapa Tradisi Ini Bertahan?

Karena trick-or-treat bukan sekadar soal permen. Ia adalah ritual sosial yang sudah berlapis-lapis. Dari sesajen untuk roh, menjadi doa untuk arwah, menjadi pertunjukan kecil di depan pintu, lalu menjadi pesta kostum di mal.

Setiap generasi menambahkan lapisannya sendiri. Orang Kelt memberi makanan. Orang Abad Pertengahan memberi doa. Anak-anak Skotlandia memberi lagu. Anak-anak Amerika memberi tawa. Dan anak-anak Jakarta memberi poin keanggotaan.

Yang tetap sama adalah gerakannya: berkeliling, menemui orang, dan menerima sesuatu. Dari pintu ke pintu. Dari generasi ke generasi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.