Halloween Bukan Sekadar Kostum: Dari Api Unggun Samhain sampai Labu Ukir Imigran Irlandia

JATENG.AKURAT.CO, Halloween yang kita rayakan dengan kostum dan permen bukan tradisi yang tiba-tiba muncul: ia berakar dari festival api Samhain bangsa Celtic 2.000 tahun lalu, melewati ribuan tahun akulturasi, lalu mendarat di Amerika lewat imigran Irlandia dan berubah jadi pesta kostum global.
Bayangkan malam di Irlandia kuno, lebih dari dua milenium silam. Panen sudah usai. Dingin mulai menusuk. Dan di antara cahaya api unggun yang membubung, orang-orang Celtic percaya bahwa batas antara dunia orang hidup dan orang mati sedang merekah tipis.
Roh-roh berkeliaran. Untuk mengelabui mereka, orang-orang mengenakan kulit dan kepala binatang. Bukan untuk gaya-gayaan. Ini soal bertahan hidup, setidaknya dalam keyakinan mereka.
Festival itu bernama Samhain (dibaca “sow-win”). Dan dari sinilah Halloween—perayaan yang hari ini identik dengan labu ukir dan kostum superhero—bermula.
Samhain: Bukan Sekadar Pesta Panen, Tapi “Tahun Baru” yang Gelap
Bagi bangsa Celtic yang mendiami wilayah yang kini menjadi Irlandia, Britania, dan Prancis utara, tanggal 1 November menandai akhir musim panas dan awal musim dingin yang gelap. Malam sebelumya, 31 Oktober, adalah malam tahun baru mereka. Momen transisi.
Dr. Kelly Fitzgerald, Kepala Sekolah Studi Irlandia, Celtic, dan Folklor di University College Dublin, menyebut Samhain sebagai festival paling penting dalam kalender Celtic.
“Ada lapisan-lapisan di Irlandia ini—sejarahnya tidak datar; setiap kelompok masyarakat menambahkan lapisannya sendiri ke dalam narasi,” katanya.
Pada malam itu, menurut kepercayaan mereka, tabir antara dunia fisik dan dunia spiritual menipis. Roh-roh bisa masuk. Para pendeta Celtic, atau druid, memanfaatkan momen ini untuk membuat ramalan tentang masa depan.
Api unggun besar dinyalakan, bukan untuk kehangatan semata, tapi untuk menangkal kekuatan gelap dan meniru matahari yang mulai melemah.
Dari Kulit Binatang ke Kostum Mickey Mouse
Inilah bagian yang paling sering dilewatkan orang. Tradisi kostum Halloween tidak dimulai dari pesta di klub malam atau kontes cosplay. Ia dimulai dari penyamaran untuk bertahan hidup.
“Untuk melindungi diri mereka sendiri atau membingungkan roh-roh itu, orang-orang mengenakan penyamaran yang terbuat dari kulit dan kepala binatang, menyatu dengan alam supernatural atau berusaha mengusirnya,” tulis University of Southern California dalam arsip sejarah kostum Halloween.
Ketika Kekristenan menyebar di Eropa, Samhain tidak serta-merta dihapus. Ia diadaptasi. Gereja menetapkan 1 November sebagai Hari Semua Orang Kudus (All Saints’ Day), dan malam sebelumnya—31 Oktober—dikenal sebagai All Hallows’ Eve. Dari nama itulah kata “Halloween” lahir.
Di Abad Pertengahan, praktik “souling” muncul. Orang miskin berkeliling dari pintu ke pintu meminta makanan, dan sebagai gantinya mereka mendoakan arwah orang mati.
Mereka sering mengenakan topeng atau kostum, sebagian sebagai gestur spiritual, sebagian untuk menyembunyikan diri dari roh jahat.
Di Skotlandia dan Irlandia, praktik serupa disebut “guising”—anak-anak mengenakan kostum dan membawa lentera dari sayuran, lalu menghibur penghuni rumah dengan lagu atau lelucon untuk mendapatkan makanan.
Lobak, Labu, dan Legenda Stingy Jack
Sebelum labu menjadi ikon, ada lobak. Di Irlandia dan Skotlandia, orang mengukir lobak dan sayuran akar lainnya menjadi lentera.
Legenda yang beredar adalah tentang seorang tukang besi bernama Stingy Jack yang menipu iblis, lalu dihukum mengembara di bumi selamanya dengan hanya sepotong bara api di dalam lobak berongga sebagai penerang jalan.
Ketika gelombang imigran Irlandia—banyak yang melarikan diri dari kelaparan kentang pada 1840-an—tiba di Amerika Utara, mereka membawa tradisi ini.
Di tanah baru, mereka menemukan labu yang melimpah, jauh lebih besar, dan lebih mudah diukir daripada lobak. Labu pun mengambil alih peran lobak. Jack-o’-lantern lahir dalam wujud yang kita kenal sekarang.
Dari “Souling” ke “Trick-or-Treat”
Frasa “trick or treat” mulai muncul dalam cetakan pada 1920-an, tapi kebiasaannya baru benar-benar membumi di Amerika Serikat setelah Perang Dunia II.
Ia adalah peleburan dari berbagai tradisi: souling, guising, dan praktik berbagi kue jiwa (soul cake) di Inggris.
Pada awal abad ke-20, Halloween di Amerika masih bersifat komunitas. Kostumnya buatan sendiri. Seprai menjadi hantu, pakaian lama menjadi gelandangan, dan wajah dicat atau ditutup topeng kertas.
Baru pada 1920-an dan 1930-an, kostum komersial pertama muncul—terbuat dari kertas krep, dengan desain sederhana seperti kucing hitam, penyihir, dan jack-o’-lantern.
Dari 1930-an hingga 1950-an, produksi kostum meluas. Radio, film, dan televisi menangkap imajinasi publik. Anak-anak mulai mengenakan kostum Mickey Mouse, Snow White, dan superhero. Halloween berubah dari perayaan mistis menjadi perayaan fandom.
Ketika Halloween Jadi “Pesta Kostum” di Indonesia
Di Indonesia, Halloween bukan tradisi. Tapi ia telah menjadi bagian dari budaya pop global. Anak muda di kota-kota besar merayakannya di kafe, klub, dan mal.
Kostumnya bukan lagi kulit binatang atau hantu klasik. Mereka memilih karakter dari film, meme internet, atau bahkan kostum “chic” yang lebih cocok untuk foto di Instagram daripada untuk menakuti roh.
Tren 2026 pun bergerak ke arah sana. Data dari National Retail Federation menunjukkan 71 persen orang berencana membeli kostum tahun ini, dengan total belanja mencapai $4,4 miliar.
Google melaporkan pencarian kostum didominasi oleh karakter pop seperti Buddy the Unicorn, Nikki dari “Obsession”, dan Agamemnon dari “The Odyssey”. Di Vietnam, pencarian untuk “chic Halloween costumes” melonjak 165 persen.
Halloween telah lama berhenti menjadi milik orang Celtic. Ia telah menjadi kanvas kosong tempat setiap generasi dan setiap budaya menempelkan versinya sendiri.
Satu Malam, Dua Milenium
Malam ini, ketika kamu melihat anak-anak berkeliling meminta permen dengan kostum yang dibeli dari toko, atau ketika kamu scroll feed dan melihat teman-temanmu berfoto dengan riasan tengkorak, ingatlah satu hal.
Seribu tahun yang lalu, di sebuah pulau di tepi Eropa, orang-orang menyalakan api unggun dan mengenakan kulit binatang karena mereka takut pada kegelapan. Seratus tahun yang lalu, imigran Irlandia membawa ketakutan dan ritual itu melintasi Atlantik.
Sekarang, ketakutan itu sudah lama hilang. Yang tersisa adalah pesta. Tapi jejaknya masih ada—dalam setiap lobak yang pernah diukir, setiap kue jiwa yang pernah dibagikan, dan setiap kali kita berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan diri kita, kalau hanya untuk satu malam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Profil Instagram Wasit Persija vs Persik di Super League 2026/2027, Steven Yubel Poli Pimpin Duel, Aidil Azmi Jadi Wasit VARdi JIS
- 2Kota Semarang Berduka, Atlet Silat Ayudiah Rivana Tridiandinita Berpulang usai Ikuti Kejuaraan Porprov Jateng 2026
- 3Kronologi Atlet Pencak Silat Semarang Ayudiah Rivana Meninggal Usai Operasi Cedera, Penyebab Masih Ditelusuri
- 4GEMPA LAMPUNG HARI INI! Gempa Magnitudo 4,7 Guncang Tanggamus Lampung, Getaran Dirasakan hingga Kotaagung dan Pringsewu
- 5Gempa GunungKidul 2 Menit Lalu, Gempa 5,2 M Guncang Gunung Kidul Malam Ini, Guncangan Terasa hingga Yogya, Bantul Sleman Pacitan Kediri
- 6Atlet Pencak Silat Kota Semarang Ayudiah Rivana Meninggal Dunia Usai Operasi Cedera, Penyebab Masih Ditelusuri
- 7GRATIS! Live Streaming Persib vs Melbourne Victory ACL Two Malam Ini, Tayang di RCTI dan Vision+
- 8GMPI Kota Semarang Gelar Rakercab dan Forum Diskusi Kepemudaan, Ajak Gen Z Menjaga Nilai Demokrasi di Era Digital
- 9Raih Peringkat Kedua Porprov Jateng 2026, Muaythai Semarang Bangga dengan Perjuangan Atlet
- 10Catatan Prestasi Ayudiah Rivana, Atlet Pencak Silat Semarang yang Meninggal Usai Cedera di Porprov Jateng 2026





