Jateng

Samhain: Festival Api Kelt 2.000 Tahun Lalu yang Jadi Nenek Moyang Halloween

Theo Adi Pratama | 29 Oktober 2026, 14:15 WIB
Samhain: Festival Api Kelt 2.000 Tahun Lalu yang Jadi Nenek Moyang Halloween
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Samhain, festival api bangsa Kelt yang sudah ada lebih dari 2.000 tahun lalu, masih hidup sampai Oktober 2026: api unggunnya menyala lagi di Edinburgh, parade naga di Cork, dan ritualnya jadi fondasi Halloween modern yang kita rayakan dengan kostum dan permen.

Bayangkan malam di Irlandia kuno, 2.000 tahun silam. Panen selesai, ternak sudah kembali ke kandang, dan dingin mulai merayap.

Orang-orang Kelt berkumpul. Mereka menyalakan api unggun besar di puncak bukit, bukan untuk pesta, tapi untuk bertahan dari sesuatu yang tidak kasatmata.

Mereka percaya malam itu, 31 Oktober, tabir antara dunia orang hidup dan orang mati menipis. Roh-roh bisa lewat. Dan untuk mengelabui mereka, orang-orang mengenakan penyamaran dari kulit dan kepala binatang .

Festival itu bernama Samhain (dibaca “sow-win”). Dan dari sinilah Halloween—perayaan yang hari ini identik dengan labu ukir dan kostum superhero—bermula.

Baca Juga: Kostum Halloween Bukan Lagi Buat Menakuti Hantu, Tapi Buat Menakuti Feed Kamu

Bukan Sekadar Pesta Panen, Ini “Tahun Baru” yang Gelap

Bagi bangsa Kelt, Samhain bukan sekadar perayaan panen. Ini adalah titik balik tahun. Musim terang berakhir, musim gelap dimulai. Dr. Kelly Fitzgerald, Kepala Sekolah Studi Irlandia, Celtic, dan Folklor di University College Dublin, menyebut Samhain sebagai festival paling penting dalam kalender Celtic .

Semua kegiatan pertanian berhenti. Ternak disembelih, sebagian untuk persediaan musim dingin. “Ini adalah waktu berkumpul, sekaligus momen kecemasan menghadapi musim dingin yang akan datang,” tulis RTBF dalam laporannya tentang Samhain di Aubechies, Belgia .

Pada malam itu, api unggun raksasa dinyalakan. Fungsinya bukan untuk kehangatan. “Untuk mengusir kekuatan gelap, api unggun besar dinyalakan dan orang-orang mengenakan kostum serta topeng yang menyembunyikan identitas mereka, terbuat dari jerami atau kulit binatang,” tulis Ireland.com .

Di beberapa tempat di Irlandia, ada tradisi memadamkan api tungku rumah, lalu menyalakannya kembali dari bara api unggun komunal. Tujuannya untuk keberuntungan.

Baca Juga: Halloween Bukan Sekadar Kostum: Dari Api Unggun Samhain sampai Labu Ukir Imigran Irlandia

Dari Kulit Binatang ke Kostum: Bagaimana Samhain Jadi Halloween?

Samhain tidak pernah benar-benar hilang. Ketika Kekristenan menyebar, festival ini diadaptasi, bukan dihapus. Gereja menetapkan 1 November sebagai Hari Semua Orang Kudus (All Saints’ Day). Malam sebelumnya—31 Oktober—menjadi All Hallows’ Eve. Dari nama itulah kata “Halloween” lahir .

Malam sebelum Samhain, Oíche Shamna (Samhain Eve), “akhirnya dikenal sebagai Hallowe’en,” tulis RTÉ .

Praktik mengenakan kostum juga berevolusi. Dulu, orang Celtic mengenakan kulit binatang untuk menyamar dari roh jahat.

Di Abad Pertengahan, praktik “souling” muncul: orang miskin berkeliling dari pintu ke pintu meminta makanan, dan sebagai gantinya mereka mendoakan arwah orang mati.

Di Skotlandia dan Irlandia, anak-anak mulai mengenakan kostum dan membawa lentera dari lobak atau sayuran akar. Mereka menghibur penghuni rumah dengan lagu atau lelucon sebelum menerima imbalan .

Dari sinilah trick-or-treat berasal.

Lobak, Labu, dan Legenda Stingy Jack

Sebelum labu menjadi ikon, ada lobak. Di Irlandia dan Skotlandia, orang mengukir lobak dan sayuran akar lainnya menjadi lentera.

Legenda yang beredar adalah tentang seorang tukang besi bernama Stingy Jack yang menipu iblis, lalu dihukum mengembara di bumi dengan hanya sepotong bara api di dalam lobak berongga sebagai penerang jalan .

Ketika imigran Irlandia—banyak yang melarikan diri dari kelaparan kentang pada 1840-an—tiba di Amerika Utara, mereka membawa tradisi ini.

Di tanah baru, mereka menemukan labu yang melimpah, jauh lebih besar, dan lebih mudah diukir daripada lobak. Labu pun mengambil alih peran lobak. Jack-o’-lantern lahir dalam wujud yang kita kenal sekarang .

Samhain 2026: Api Itu Masih Menyala

Yang menarik, Samhain bukan fosil sejarah. Ia masih dirayakan, dan tahun ini api-apinya menyala lagi di berbagai belahan dunia.

Di Edinburgh, Skotlandia, Samhuinn Fire Festival digelar di Calton Hill pada 31 Oktober 2026. Festival ini “menceritakan kembali tradisi Celtic kuno saat menandai pergeseran dari musim panas ke musim dingin.” Ada pertunjukan api, drum, akrobat, dan kostum rumit. Inti acaranya adalah perang simbolis antara Summer King dan Winter King .

Di Cork, Irlandia, Dragon of Shandon kembali muncul. Naga setinggi 36 kaki buatan komunitas Cork ini akan berparade pada 31 Oktober 2026, “merayakan tradisi kuno Samhain dalam parade malam yang mendebarkan” .

Di County Meath, Irlandia, Púca Festival berlangsung dari 29 Oktober hingga 1 November 2026. Festival ini merayakan Irlandia sebagai tempat kelahiran Halloween, dengan musik, api, dan “Púca Samhain Banquet” yang menyajikan musik dan tarian Irlandia tradisional .

Di Sintra, Portugal, Samhain Fire Fest digelar dari 30 Oktober hingga 1 November 2026, dengan teater api dan “Ritual Api Samhain” .

Di Garray, Spanyol, api Samaín “kembali menerangi Numancia” dengan parade obor, ritus leluhur, dan musik langsung .

Bahkan di Aubechies, Belgia, Samhain dirayakan di Archéosite, situs arkeologi yang menghidupkan kembali 5.000 tahun sejarah. Pada 30 Oktober, anak-anak dan orang dewasa diajak memecahkan kutukan dalam permainan bertema “Kotak Pandora”.

Kenapa Samhain Masih Relevan?

Samhain bertahan karena ia bukan sekadar perayaan. Ia adalah cara manusia menandai perubahan. Musim berubah. Tahun berganti. Dan manusia, entah di Irlandia abad ke-5 atau Edinburgh abad ke-21, butuh cara untuk menandai transisi itu.

Halloween modern mungkin sudah kehilangan rasa takut pada roh jahat. Tapi Samhain masih menyimpan sesuatu yang lebih tua: kesadaran bahwa alam punya ritme, dan kita adalah bagian kecil darinya.

Api unggun di Calton Hill, naga di Cork, dan labu di depan rumah—semuanya adalah versi modern dari satu pertanyaan kuno: bagaimana caranya berdamai dengan datangnya kegelapan?

Jawaban orang Kelt dulu sederhana: nyalakan api, kenakan topeng, dan jangan keluar sendirian. Jawaban kita sekarang: nyalakan lampu, pakai kostum, dan jangan lupa unggah ke Instagram.

Tapi setidaknya, untuk satu malam, kita masih mengingat sesuatu yang sudah diingat manusia selama 2.000 tahun.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.