Kostum Halloween Bukan Lagi Buat Menakuti Hantu, Tapi Buat Menakuti Feed Kamu

JATENG.AKURAT.CO, Kostum Halloween yang tahun ini ramai dipakai untuk foto dan konten bukan lagi alat pengusir roh jahat seperti 2.000 tahun lalu: dari kulit binatang di festival Samhain, kini berevolusi jadi Dolly Parton, Nikki dari Obsession, sampai labu ukir yang dijual di mal.
Bayangkan malam di Irlandia kuno, lebih dari dua milenium lalu. Panen usai. Dingin menusuk. Orang-orang Celtic menyalakan api unggun besar dan mengenakan kulit serta kepala binatang. Bukan untuk pesta.
Mereka percaya malam itu tabir antara dunia hidup dan mati menipis. Roh berkeliaran. Dengan menyamar seperti salah satu dari mereka, setidaknya mereka berharap tidak dipilih untuk “diajak”. Praktik itu disebut guising, dan dari sanalah kostum Halloween bermula .
Hari ini, 31 Oktober 2026, kita mengenakan kostum untuk alasan yang sangat berbeda. Tidak ada roh yang perlu ditakuti. Yang ada hanya feed Instagram yang perlu diisi.
Baca Juga: Halloween Bukan Sekadar Kostum: Dari Api Unggun Samhain sampai Labu Ukir Imigran Irlandia
Dari Kulit Binatang ke Kertas Krep
Bangsa Celtic merayakan Samhain (dibaca “sow-win”) sebagai tahun baru mereka. Malam sebelum 1 November, mereka percaya arwah orang mati dan makhluk halus berjalan di bumi.
Sebagian orang menaruh makanan untuk leluhur. Sebagian lagi mengenakan topeng, pakaian lama, atau penyamaran agar tidak dikenali oleh roh-roh yang lewat.
Catatan Romawi kuno bahkan menyebut suku-suku di wilayah yang kini Jerman dan Prancis memakai kepala dan kulit mamalia liar untuk “terhubung dengan roh binatang” .
Ketika Kekristenan menyebar, Samhain tidak dihapus. Ia diadopsi. Gereja menetapkan 1 November sebagai Hari Semua Orang Kudus. Malam sebelumnya menjadi All Hallows’ Eve—dari situ kata “Halloween” lahir .
Praktik guising berubah menjadi souling: orang miskin dan anak-anak berkeliling dari pintu ke pintu menawarkan doa untuk arwah keluarga sebagai ganti makanan atau uang .
Di Skotlandia dan Irlandia, anak-anak mulai mengenakan kostum dan membawa lentera dari lobak atau sayuran akar. Mereka menghibur penghuni rumah dengan lagu atau lelucon sebelum menerima imbalan. Inilah cikal bakal trick-or-treat .
Ketika Halloween Menyeberang ke Amerika
Gelombang imigran Irlandia dan Skotlandia pada abad ke-18 dan 19 membawa tradisi ini ke Amerika Serikat. Di tanah baru, mereka menemukan labu yang lebih besar dan lebih mudah diukir daripada lobak.
Labu pun mengambil alih peran lobak, dan jack-o’-lantern lahir dalam wujud yang kita kenal sekarang.
Kostum pada awal abad ke-20 masih seram dan sederhana. Orang memakai seprai sebagai hantu, pakaian lusuh sebagai gelandangan, atau topeng kertas yang dicat tangan.
Tujuannya bukan untuk terlihat lucu, tapi untuk benar-benar menakut-nakuti . Pada 1920-an dan 1930-an, kostum komersial pertama muncul, terbuat dari kertas krep, dengan desain seperti kucing hitam dan penyihir.
Setelah Perang Dunia II, radio, film, dan televisi mengubah segalanya. Anak-anak mulai mengenakan kostum Mickey Mouse, Snow White, dan superhero .
Halloween berhenti menjadi ritual. Ia menjadi pesta kostum.
Halloween 2026: Bukan Lagi Menakuti Hantu, Tapi Menakuti Feed
Data tahun ini menunjukkan pergeseran itu dengan jelas. Survei National Retail Federation (NRF) mencatat 71 persen orang berencana membeli kostum, dengan total belanja mencapai $4,4 miliar . Yang menarik, bukan cuma jumlahnya, tapi apa yang mereka pilih.
Kostum anak-anak didominasi Spider-Man dan karakter superhero generik. KPop Demon Hunters masuk 10 besar . Untuk orang dewasa, Batman naik ke posisi ketiga, Superman tetap bertahan, dan Spider-Man kembali masuk daftar .
Tapi tren yang paling menonjol justru datang dari budaya pop yang lebih luas. BBC melaporkan bahwa kostum Nikki dari film horor independen Obsession menjadi salah satu yang paling banyak dicari.
Atasan zebra merah-hitam yang dikenakan karakter itu sempat sold out dan memicu daftar tunggu 27.000 orang sebelum kembali ke toko . Toko kostum di London mengaku kewalahan.
“Kami punya pelanggan yang meminta Nikki,” kata Muhammad Rai dari Fancy Dress Town. “Sayangnya, stoknya sedang kosong” .
Desainer kostum Tamar Zaig melihat pola yang lebih besar. “Orang tidak selalu ingin terlihat menakutkan—mereka ingin terlihat luar biasa,” katanya. “Ada selera nyata untuk eskapisme, glamor, dan sedikit humor gelap” .
Di Indonesia: Gotik, Vampir, dan Kostum “Chic”
Di Indonesia, trennya tidak jauh berbeda. ANTARA melaporkan bahwa kostum bernuansa gotik, penyihir, dan superhero diprediksi mendominasi perayaan Halloween 2026.
Gaya vamp romantic—vampir dengan sentuhan gotik—disebut sebagai salah satu tren yang meningkat tajam pencariannya di TikTok .
Karakter Wednesday Addams dan Morticia Addams masih populer, didorong oleh serial Wednesday di Netflix. Kostum penyihir ikut naik daun berkat film Wicked, dengan Elphaba dan Glinda menjadi pilihan untuk pasangan sahabat . Untuk anak-anak, KPop Demon Hunters, Toy Story, dan Moana masuk daftar prediksi .
Yang menarik, Halloween di Indonesia tidak pernah benar-benar menjadi tradisi. Ia adalah perayaan impor yang diserap oleh budaya pop global.
Kostumnya bukan untuk menakuti roh, tapi untuk foto, konten, dan pesta. Anak muda di kota-kota besar memilih karakter dari film, meme internet, atau kostum yang lebih cocok untuk feed daripada untuk kuburan.
Dua Ribu Tahun, Satu Pertanyaan
Kostum Halloween sudah melewati perjalanan yang aneh. Dari kulit binatang yang dipakai karena takut pada arwah, menjadi seprai yang dipakai karena takut pada hal yang tidak diketahui, lalu menjadi kostum Dolly Parton dan Spider-Man yang dipakai karena ingin terlihat keren di foto.
Pertanyaannya bukan lagi “apakah kostum ini menakuti roh?” Pertanyaannya sekarang: apakah kostum ini cukup layak untuk diunggah?
Mungkin itu bukan kemunduran. Mungkin itu hanya tanda bahwa kita sudah berhenti takut pada kegelapan, dan mulai takut pada sesuatu yang lain: lupa membawa kostum ke pesta.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Profil Instagram Wasit Persija vs Persik di Super League 2026/2027, Steven Yubel Poli Pimpin Duel, Aidil Azmi Jadi Wasit VARdi JIS
- 2Kota Semarang Berduka, Atlet Silat Ayudiah Rivana Tridiandinita Berpulang usai Ikuti Kejuaraan Porprov Jateng 2026
- 3Kronologi Atlet Pencak Silat Semarang Ayudiah Rivana Meninggal Usai Operasi Cedera, Penyebab Masih Ditelusuri
- 4GEMPA LAMPUNG HARI INI! Gempa Magnitudo 4,7 Guncang Tanggamus Lampung, Getaran Dirasakan hingga Kotaagung dan Pringsewu
- 5Gempa GunungKidul 2 Menit Lalu, Gempa 5,2 M Guncang Gunung Kidul Malam Ini, Guncangan Terasa hingga Yogya, Bantul Sleman Pacitan Kediri
- 6Atlet Pencak Silat Kota Semarang Ayudiah Rivana Meninggal Dunia Usai Operasi Cedera, Penyebab Masih Ditelusuri
- 7GRATIS! Live Streaming Persib vs Melbourne Victory ACL Two Malam Ini, Tayang di RCTI dan Vision+
- 8GMPI Kota Semarang Gelar Rakercab dan Forum Diskusi Kepemudaan, Ajak Gen Z Menjaga Nilai Demokrasi di Era Digital
- 9Raih Peringkat Kedua Porprov Jateng 2026, Muaythai Semarang Bangga dengan Perjuangan Atlet
- 10Catatan Prestasi Ayudiah Rivana, Atlet Pencak Silat Semarang yang Meninggal Usai Cedera di Porprov Jateng 2026





