Jateng

Fakta Sejarah Dunia: Ratu Elizabeth I dan Lipstik Beracun, Obsesi Merah yang Perlahan Membunuhnya

Theo Adi Pratama | 27 Oktober 2026, 14:00 WIB
Fakta Sejarah Dunia: Ratu Elizabeth I dan Lipstik Beracun, Obsesi Merah yang Perlahan Membunuhnya
Ratu Elizabeth 1

JATENG.AKURAT.CO, Ratu Elizabeth I dari Inggris begitu takut terlihat tua atau cacat hingga ia memoles bibirnya dengan lapisan pewarna merah setebal setengah inci, terbuat dari batu cinnabar yang mengandung merkuri—sebuah obsesi yang membuatnya perlahan meracuni tubuhnya sendiri.

Bayangkan pagi hari di Istana Whitehall, awal abad ke-17. Ratu Elizabeth I duduk di depan meja rias. Pelayannya mengambil sepotong batu cinnabar, mineral merah menyala yang mengandung merkuri, lalu menghaluskannya menjadi pasta. Pasta itu dioleskan ke bibir sang ratu, lapis demi lapis, sampai ketebalannya nyaris setengah inci. Di wajahnya, sudah menempel lapisan putih tebal bernama Venetian ceruse—campuran timah putih dan cuka yang sengaja dipakai untuk menutupi bekas luka cacar.

Di usia senja, wajahnya bukan lagi wajah manusia. Ia adalah topeng.

Cacar, cermin, dan standar yang mustahil

Semua bermula dari tahun 1562. Elizabeth, saat itu berusia 29 tahun, terserang cacar dengan demam tinggi yang hampir merenggut nyawanya. Ia selamat, tapi meninggalkan bekas luka permanen di wajahnya. Bagi seorang ratu yang hidup di tengah tekanan politik dan pengawasan publik, bekas luka itu bukan sekadar masalah penampilan. Ia adalah kelemahan yang bisa dibaca lawan politiknya sebagai tanda bahwa ia sudah tidak layak memerintah.

“Kami para pangeran, saya katakan, dipanggil ke atas panggung di hadapan seluruh dunia; mata banyak orang mengamati tindakan kami, sebuah noda cepat terlihat di pakaian kami; sebuah cela cepat dicatat dalam perbuatan kami,” kata Elizabeth dalam pidatonya di depan parlemen pada 1586.

Kalimat itu bukan sekadar retorika. Ia adalah pengakuan bahwa setiap inci wajahnya adalah panggung politik.

Venetian ceruse: fondasi putih yang perlahan membunuh

Untuk menutupi bekas cacar, Elizabeth memakai Venetian ceruse, kosmetik legendaris yang terbuat dari timah putih dan cuka. Hasilnya adalah kulit seputih porselen, simbol kemurnian dan kebangsawanan di era Elizabethan. Tapi timah bukan bahan yang aman untuk kulit. Ia menyebabkan rambut rontok, kerusakan kulit, dan dalam jangka panjang, keracunan timah yang bisa berujung pada kematian.

Yang membuat segalanya lebih buruk: Elizabeth tidak menghapus makeupnya setiap hari. Ia membiarkan lapisan itu menempel selama seminggu penuh, hanya menggantinya sekali dalam sepekan. Kulitnya terus-menerus terpapar timah, dan ketika lapisan itu akhirnya dikelupas, ia memakai campuran kulit telur, alum, dan merkuri sebagai pembersih. Dua racun sekaligus, masuk lewat pori-pori.

Cinnabar: merah menyala yang meresap lewat bibir

Di atas fondasi putih itu, Elizabeth mengoleskan lipstik merahnya yang ikonik. Bukan dari lilin lebah atau bunga, melainkan dari cinnabar—mineral yang kaya akan merkuri sulfida. Merahnya memang memikat. Tapi merkuri meresap melalui bibir, masuk ke aliran darah, dan menumpuk di jaringan tubuh.

Gejala keracunan merkuri kronis meliputi kehilangan ingatan, mudah marah, dan depresi. Sejarawan mencatat bahwa di tahun-tahun terakhir hidupnya, Elizabeth memang mengalami perubahan suasana hati yang drastis, mudah tersinggung, dan murung. Bisa jadi itu bukan sekadar penuaan. Bisa jadi itu adalah harga dari bibir merahnya.

Setengah inci merah di hari kematian

Ketika Elizabeth meninggal pada 1603, para pelayan yang mempersiapkan jenazahnya menemukan sesuatu yang membuat mereka bergidik. Di bibir sang ratu, lapisan lipstik merah masih menempel, tebalnya setengah inci—sekitar 1,27 sentimeter. Lapisan itu begitu tebal hingga terasa seperti kerak, bukan kosmetik.

Angka itu mungkin terdengar mustahil. Tapi perlu diingat bahwa sebagian besar catatan tentang ketebalan makeup Elizabeth berasal dari sumber-sumber yang tidak selalu netral, termasuk laporan seorang pendeta Jesuit yang menyebut makeupnya “di beberapa tempat hampir setebal setengah inci”. Apakah angka itu akurat secara literal, atau hanya kiasan untuk menggambarkan betapa tebalnya lapisan yang ia pakai, tetap menjadi perdebatan di kalangan sejarawan.

Yang tidak diperdebatkan adalah obsesinya. Elizabeth percaya bahwa lipstik bukan sekadar kosmetik. Ia percaya lipstik memiliki kekuatan magis untuk menyembuhkan penyakit, dan ia sering memakainya bahkan ketika sedang sakit. Di era ketika lipstik pernah dianggap sebagai penjelmaan setan, sang ratu justru menjadikannya jimat.

Ironi yang tidak pernah usai

Ada satu hal yang membuat kisah ini terasa pahit. Elizabeth memakai racun untuk terlihat cantik, dan racun itu membuatnya sakit. Ketika kulitnya rusak karena timah, ia menambah lebih banyak lapisan untuk menutupinya. Ketika bibirnya memucat karena usia, ia menambah lebih banyak cinnabar. Siklus itu tidak pernah berhenti sampai napasnya berhenti.

Sejarawan seni Sir Roy Strong menyebut penampilan Elizabeth di tahun-tahun terakhir sebagai “The Mask of Youth”—topeng masa muda. Topeng itu bukan hanya melindungi wajahnya dari pandangan orang lain. Ia melindungi citranya sebagai ratu yang abadi, simbol kekuasaan yang tidak boleh terlihat lemah.

Tapi topeng, sekuat apa pun, selalu punya lapisan yang bisa mengelupas.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.