Fakta Sejarah Dunia: Ratu Elizabeth I dan Lipstik Beracun, Obsesi Merah yang Perlahan Membunuhnya

JATENG.AKURAT.CO, Ratu Elizabeth I dari Inggris begitu takut terlihat tua atau cacat hingga ia memoles bibirnya dengan lapisan pewarna merah setebal setengah inci, terbuat dari batu cinnabar yang mengandung merkuri—sebuah obsesi yang membuatnya perlahan meracuni tubuhnya sendiri.
Bayangkan pagi hari di Istana Whitehall, awal abad ke-17. Ratu Elizabeth I duduk di depan meja rias. Pelayannya mengambil sepotong batu cinnabar, mineral merah menyala yang mengandung merkuri, lalu menghaluskannya menjadi pasta. Pasta itu dioleskan ke bibir sang ratu, lapis demi lapis, sampai ketebalannya nyaris setengah inci. Di wajahnya, sudah menempel lapisan putih tebal bernama Venetian ceruse—campuran timah putih dan cuka yang sengaja dipakai untuk menutupi bekas luka cacar.
Di usia senja, wajahnya bukan lagi wajah manusia. Ia adalah topeng.
Cacar, cermin, dan standar yang mustahil
Semua bermula dari tahun 1562. Elizabeth, saat itu berusia 29 tahun, terserang cacar dengan demam tinggi yang hampir merenggut nyawanya. Ia selamat, tapi meninggalkan bekas luka permanen di wajahnya. Bagi seorang ratu yang hidup di tengah tekanan politik dan pengawasan publik, bekas luka itu bukan sekadar masalah penampilan. Ia adalah kelemahan yang bisa dibaca lawan politiknya sebagai tanda bahwa ia sudah tidak layak memerintah.
“Kami para pangeran, saya katakan, dipanggil ke atas panggung di hadapan seluruh dunia; mata banyak orang mengamati tindakan kami, sebuah noda cepat terlihat di pakaian kami; sebuah cela cepat dicatat dalam perbuatan kami,” kata Elizabeth dalam pidatonya di depan parlemen pada 1586.
Kalimat itu bukan sekadar retorika. Ia adalah pengakuan bahwa setiap inci wajahnya adalah panggung politik.
Venetian ceruse: fondasi putih yang perlahan membunuh
Untuk menutupi bekas cacar, Elizabeth memakai Venetian ceruse, kosmetik legendaris yang terbuat dari timah putih dan cuka. Hasilnya adalah kulit seputih porselen, simbol kemurnian dan kebangsawanan di era Elizabethan. Tapi timah bukan bahan yang aman untuk kulit. Ia menyebabkan rambut rontok, kerusakan kulit, dan dalam jangka panjang, keracunan timah yang bisa berujung pada kematian.
Yang membuat segalanya lebih buruk: Elizabeth tidak menghapus makeupnya setiap hari. Ia membiarkan lapisan itu menempel selama seminggu penuh, hanya menggantinya sekali dalam sepekan. Kulitnya terus-menerus terpapar timah, dan ketika lapisan itu akhirnya dikelupas, ia memakai campuran kulit telur, alum, dan merkuri sebagai pembersih. Dua racun sekaligus, masuk lewat pori-pori.
Cinnabar: merah menyala yang meresap lewat bibir
Di atas fondasi putih itu, Elizabeth mengoleskan lipstik merahnya yang ikonik. Bukan dari lilin lebah atau bunga, melainkan dari cinnabar—mineral yang kaya akan merkuri sulfida. Merahnya memang memikat. Tapi merkuri meresap melalui bibir, masuk ke aliran darah, dan menumpuk di jaringan tubuh.
Gejala keracunan merkuri kronis meliputi kehilangan ingatan, mudah marah, dan depresi. Sejarawan mencatat bahwa di tahun-tahun terakhir hidupnya, Elizabeth memang mengalami perubahan suasana hati yang drastis, mudah tersinggung, dan murung. Bisa jadi itu bukan sekadar penuaan. Bisa jadi itu adalah harga dari bibir merahnya.
Setengah inci merah di hari kematian
Ketika Elizabeth meninggal pada 1603, para pelayan yang mempersiapkan jenazahnya menemukan sesuatu yang membuat mereka bergidik. Di bibir sang ratu, lapisan lipstik merah masih menempel, tebalnya setengah inci—sekitar 1,27 sentimeter. Lapisan itu begitu tebal hingga terasa seperti kerak, bukan kosmetik.
Angka itu mungkin terdengar mustahil. Tapi perlu diingat bahwa sebagian besar catatan tentang ketebalan makeup Elizabeth berasal dari sumber-sumber yang tidak selalu netral, termasuk laporan seorang pendeta Jesuit yang menyebut makeupnya “di beberapa tempat hampir setebal setengah inci”. Apakah angka itu akurat secara literal, atau hanya kiasan untuk menggambarkan betapa tebalnya lapisan yang ia pakai, tetap menjadi perdebatan di kalangan sejarawan.
Yang tidak diperdebatkan adalah obsesinya. Elizabeth percaya bahwa lipstik bukan sekadar kosmetik. Ia percaya lipstik memiliki kekuatan magis untuk menyembuhkan penyakit, dan ia sering memakainya bahkan ketika sedang sakit. Di era ketika lipstik pernah dianggap sebagai penjelmaan setan, sang ratu justru menjadikannya jimat.
Ironi yang tidak pernah usai
Ada satu hal yang membuat kisah ini terasa pahit. Elizabeth memakai racun untuk terlihat cantik, dan racun itu membuatnya sakit. Ketika kulitnya rusak karena timah, ia menambah lebih banyak lapisan untuk menutupinya. Ketika bibirnya memucat karena usia, ia menambah lebih banyak cinnabar. Siklus itu tidak pernah berhenti sampai napasnya berhenti.
Sejarawan seni Sir Roy Strong menyebut penampilan Elizabeth di tahun-tahun terakhir sebagai “The Mask of Youth”—topeng masa muda. Topeng itu bukan hanya melindungi wajahnya dari pandangan orang lain. Ia melindungi citranya sebagai ratu yang abadi, simbol kekuasaan yang tidak boleh terlihat lemah.
Tapi topeng, sekuat apa pun, selalu punya lapisan yang bisa mengelupas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Profil Instagram Wasit Persija vs Persik di Super League 2026/2027, Steven Yubel Poli Pimpin Duel, Aidil Azmi Jadi Wasit VARdi JIS
- 2Atlet Selam Jepara Meninggal di Porprov Jateng, Lomba di Awann Costa Ditunda
- 3LIVE SCORE PSMS vs PSIS! Ayam Kinantan Unggul 2-0 di Babak Pertama, Tuan Rumah Kena Kartu Merah, Cek Skor Akhir FULL TIME
- 4UPDATE! Kronologi Atlet Selam Jepara Syabilla Rizkia Meninggal Saat Porprov Jateng 2026
- 5Viral Pelari JRF 2026 Terobos Barikade, Apa Itu COT dan COP? Ini Aturan yang Wajib Dipahami
- 6Jadwal BWF Hylo Open 2026 Lengkap hingga Final, Cek Wakil Indonesia dan Link Live Streaming
- 7GMPI Kota Semarang Gelar Rakercab dan Forum Diskusi Kepemudaan, Ajak Gen Z Menjaga Nilai Demokrasi di Era Digital
- 8Prediksi Skor Garudayaksa vs Persib, Cuma Punya 1 Hari Persiapan, Mampukah Persib Taklukkan Garudayaksa?
- 9CEK! Viral Pelari JRF 2026, Mengenal Flag-Off Time, Gun Time, dan Chip Time
- 10Perangkat Pertandingan Garudayaksa vs Persib: Wasit Irfan Wahyu Wijanarko Pimpin Laga Panas Malam Ini


