Jateng

Fakta Sejarah Dunia: Kenapa Einstein Selalu Tampil Tanpa Kaus Kaki? Ternyata Bukan karena Filosofi Rumit

Theo Adi Pratama | 27 Oktober 2026, 12:30 WIB
Fakta Sejarah Dunia: Kenapa Einstein Selalu Tampil Tanpa Kaus Kaki? Ternyata Bukan karena Filosofi Rumit
Albert Einstein

JATENG.AKURAT.CO, Albert Einstein menghabiskan seluruh hidupnya tanpa kaus kaki, bukan karena sumpah mistis atau alasan filosofis muluk, melainkan karena jempol kakinya selalu membuat lubang di kaus kaki baru dalam hitungan hari—dan ia memilih berhenti memakai kaus kaki daripada terus-menerus membeli yang baru.

Bayangkan seorang fisikawan paling terkenal di dunia, berdiri di depan ruang kuliah Universitas Oxford, memakai setelan rapi dan sepatu bot tinggi. Dosen-dosen lain memakai kaus kaki wol yang rapi. Einstein? Tidak.

Di bawah sepatu bot itu, kakinya telanjang.

“Bahkan pada acara-acara paling khidmat, saya berhasil lolos tanpa memakai kaus kaki dan menyembunyikan ketidakberadaban itu di dalam sepatu bot tinggi,” tulis Einstein kepada sepupunya yang juga istri keduanya, Elsa, seperti dikutip Hindustan Times dari surat-surat yang dibuka ke publik.

Kalimat itu bukan kelakar satu kali. Einstein memang sangat bangga pada fakta bahwa ia tidak pernah memakai kaus kaki. Ia melakukannya di kuliah, di acara resmi, bahkan saat menerima tamu penting di rumahnya di Princeton.

Jempol yang tidak bisa diajak kompromi

Jawa Pos edisi 15 Oktober 2026 menulis bahwa Einstein sangat bangga dengan kebiasaan ini. Saat masih muda, ia menyadari satu hal: jempol kakinya selalu berakhir membuat lubang di kaus kaki.

“Ketika saya masih muda, saya menemukan bahwa jempol kaki selalu berakhir membuat lubang di kaus kaki. Jadi saya berhenti memakai kaus kaki,” kata Einstein, seperti dikutip ABC.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi di baliknya ada logika yang khas Einstein: kalau masalahnya berulang, mengapa terus mengulanginya?

URA News edisi 22 Oktober 2026 juga mencatat hal serupa. Einstein hampir tidak pernah memakai kaus kaki. Alasannya: jempol kaki cepat membuat lubang, jadi lebih mudah berhenti memakainya sama sekali.

Bukan cuma soal jempol: kaki yang berkeringat dan alasan medis

Ada lapisan lain yang jarang dibahas. Pada 1901, saat berusia 21 tahun, Einstein ditolak dari wajib militer Swiss karena hiperhidrosis pedis, keringat berlebihan di kaki, ditambah kaki rata dan varises. Kondisi itu membuat kakinya tidak nyaman saat berada di dalam kaus kaki dan sepatu tertutup terlalu lama.

Seorang teman dekatnya, Peter Bucky, pernah mendengar Einstein menyebut “kesederhanaan” sebagai alasan utama. Tanpa kaus kaki, tidak ada yang perlu ditambal. Tidak ada yang perlu dicuci. Tidak ada yang perlu dipikirkan.

Kepada fotografer Alan Richards, Einstein bahkan berkelakar: “Akan sangat mengerikan jika wadahnya lebih baik kualitasnya daripada isinya.” Maksudnya, sepatu tidak perlu lebih istimewa daripada kaki yang memakainya.

Elsa dan perang kecil di depan tamu

Kebiasaan ini tidak selalu berjalan mulus di rumah. Elsa, yang sangat peduli pada kesopanan dan penampilan, sering meminta Einstein memakai kaus kaki saat ada tamu penting.

Seorang tetangga di Princeton, Mary Hicks, mengenang bahwa sulit membujuk anak-anaknya memakai kaus kaki karena Einstein tidak memakainya. Bahkan housekeeper Einstein pernah menyuruhnya seperti anak kecil: “Naik ke atas dan pakai kaus kakimu.”

Einstein menurut. Kadang-kadang. Tapi tidak untuk waktu lama.

Simbol nonkonformisme yang lahir dari hal sepele

Di kemudian hari, gaya Einstein tanpa kaus kaki—ditambah rambut acak-acakan, kaus abu-abu, dan sepatu kets—menjadi semacam seragam bagi citra “jenius eksentrik”. Ia bukan sengaja menciptakan tren. Ia hanya melakukan apa yang membuatnya nyaman, dan dunia kebetulan menganggapnya keren.

Pada 1950-an dan 1960-an, remaja Amerika mulai memakai sepatu tanpa kaus kaki sebagai bentuk pemberontakan kecil terhadap aturan berpakaian. Einstein sudah melakukannya jauh sebelum itu.

Yang menarik, keputusan Einstein bukan lahir dari keinginan untuk tampil beda. Ia hanya tidak suka kaus kakinya bolong. Tapi dari ketidaksukaan sederhana itu, lahir salah satu simbol kebebasan paling awet di abad ke-20.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.