Fakta Sejarah Dunia: Sisi Lain Julius Caesar! Mandi Bukan untuk Santai, Tapi untuk Mendikte Empat Surat Sekaligus

JATENG.AKURAT.CO, Julius Caesar ternyata bukan cuma jenderal yang hafal medan perang, tapi juga orang yang paling santai menghadapi surat-surat penting: ia biasa berendam air hangat sambil membaca laporan, mendengarkan surat caci-maki tentang dirinya tanpa mengubah raut wajah, bahkan bisa mendikte empat surat sekaligus sambil tetap membaca.
Bayangkan sore di sebuah villa dekat Puteoli, Desember 45 SM. Cicero, orator paling terkenal Roma, baru saja menerima tamu yang tidak bisa ia tolak: Julius Caesar. Caesar datang dengan dua ribu prajurit. Rumah Cicero penuh. Tapi Caesar, seperti ditulis dalam surat Cicero kepada Atticus, tidak buru-buru.
Ia menghabiskan pagi mengurus pembukuan bersama Balbus, tangan kanannya. “Ia sangat teliti dalam menjaga catatannya,” tulis Cicero, seperti dikutip dari Decline of the Roman Republic.
Sekitar pukul satu atau dua siang, Caesar berjalan-jalan di tepi pantai. Setelah itu, ia masuk ke bak mandi.
Dan di situlah hal yang membuat Cicero geleng-geleng kepala terjadi.
Mandi, mendengar caci-maki, tetap tenang
Di dalam bak air hangat itu, Caesar mendengarkan sesuatu yang dibacakan tentang Mamurra—pejabat tekniknya di Galia—dan mungkin juga tentang dirinya sendiri. Isinya satir. Pedas. “Sebuah epigram paling keras dari Catullus,” tulis Cicero, “yang menyerangnya dengan kata-kata terang-terangan”.
Caesar mendengarnya “dengan ketenangan luar biasa.” Wajahnya tidak berubah.
Cicero, yang menyaksikan langsung, mencatat detail itu seperti sedang melaporkan kejadian luar biasa. Bagi orang Romawi, membaca atau mendengar serangan pribadi di ruang publik adalah urusan harga diri. Tapi Caesar, di dalam bak mandi, memilih untuk tidak bereaksi.
Setelah itu, ia diminyaki, dipijat, lalu duduk makan malam. “Ia menikmati dirinya sendiri,” tulis Cicero, sedikit kesal karena tamunya terlalu santai.
Bukan sekali itu: kebiasaan yang tercatat di banyak sumber
Surat Cicero hanyalah satu potret. Sejarawan Romawi lain mencatat kebiasaan yang sama dengan sudut pandang berbeda.
Suetonius, dalam The Twelve Caesars, menulis bahwa “ia sering menyegarkan diri dengan mandi air hangat” dan pada musim panas, mandinya dicampur salju. Suetonius juga menyebut Caesar “membaca atau mendikte dan mendengarkan secara bersamaan,” kadang mendikte empat sekretaris sekaligus untuk surat-surat penting.
Pliny the Elder, seperti dikutip dalam biografi Caesar, menambahkan detail yang lebih ekstrem: “Caesar terbiasa menulis atau mendikte dan membaca pada saat yang sama, sambil mendiktekan empat surat tentang hal-hal paling penting kepada sekretarisnya, atau, jika ia tidak ada pekerjaan lain, sebanyak tujuh”.
Bagi orang modern, ini terdengar seperti multitasking yang melelahkan. Bagi Caesar, ini adalah efisiensi. Mandi bukan waktu untuk bersantai. Mandi adalah ruang kerja yang hangat.
Kenapa mandi jadi ruang kerja?
Orang Romawi tidak memandang mandi seperti kita. Bak mandi bukan cuma tempat membersihkan diri. Ia adalah pusat sosial, tempat orang berdiskusi, membaca, bahkan menyelesaikan urusan bisnis. Beberapa kompleks pemandian Romawi bahkan memiliki perpustakaan di dalamnya.
Caesar memanfaatkan kebiasaan budaya ini untuk keuntungannya. Air hangat melonggarkan otot setelah perjalanan jauh atau pertempuran. Uapnya melegakan pernapasan. Dan suasana tenang di dalam bak mandi memungkinkan ia membaca surat-surat yang menumpuk tanpa gangguan.
Yang menarik, Caesar tidak selalu memakai air hangat. Suetonius mencatat bahwa kesehatannya buruk—ia sering sakit, terutama sebelum ulang tahunnya—dan untuk mengatasi kelemahannya, ia “sangat berhati-hati, terutama dalam hal mandi.” Kadang ia hanya diurapi minyak atau berkeringat di dekat api, lalu disiram dengan air suam-suam kuku atau air yang dihangatkan matahari.
Jadi, “berendam air hangat” bukan kemewahan tanpa alasan. Itu adalah bagian dari manajemen kesehatan seorang jenderal yang tubuhnya tidak selalu setangguh pasukannya.
Pelajaran dari bak mandi Caesar
Mungkin kita tidak perlu meniru kebiasaan mendikte empat surat sekaligus. Tapi ada satu hal yang bisa diambil dari cara Caesar mengelola waktunya: ia tidak memisahkan antara “waktu bersantai” dan “waktu bekerja” secara kaku.
Mandi, bagi Caesar, bukan pelarian dari pekerjaan. Ia adalah cara lain untuk bekerja. Air hangat, uap, dan ketenangan bak mandi menjadi latar bagi otaknya untuk tetap bergerak—membaca, mendengarkan, memutuskan.
Bagi kita yang hidup di zaman notifikasi tanpa henti, mungkin yang perlu ditiru bukanlah multitasking-nya, melainkan kemampuan Caesar untuk tetap tenang ketika mendengar hal yang tidak menyenangkan. Di dalam bak mandi, dengan air hangat sampai ke dada, ia mendengar namanya dicaci. Wajahnya tidak berubah.
Cicero mungkin menganggapnya tidak sopan. Tapi Caesar mungkin hanya sedang sibuk membaca surat berikutnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Profil Instagram Wasit Persija vs Persik di Super League 2026/2027, Steven Yubel Poli Pimpin Duel, Aidil Azmi Jadi Wasit VARdi JIS
- 2Atlet Selam Jepara Meninggal di Porprov Jateng, Lomba di Awann Costa Ditunda
- 3LIVE SCORE PSMS vs PSIS! Ayam Kinantan Unggul 2-0 di Babak Pertama, Tuan Rumah Kena Kartu Merah, Cek Skor Akhir FULL TIME
- 4UPDATE! Kronologi Atlet Selam Jepara Syabilla Rizkia Meninggal Saat Porprov Jateng 2026
- 5Viral Pelari JRF 2026 Terobos Barikade, Apa Itu COT dan COP? Ini Aturan yang Wajib Dipahami
- 6Jadwal BWF Hylo Open 2026 Lengkap hingga Final, Cek Wakil Indonesia dan Link Live Streaming
- 7GMPI Kota Semarang Gelar Rakercab dan Forum Diskusi Kepemudaan, Ajak Gen Z Menjaga Nilai Demokrasi di Era Digital
- 8Prediksi Skor Garudayaksa vs Persib, Cuma Punya 1 Hari Persiapan, Mampukah Persib Taklukkan Garudayaksa?
- 9CEK! Viral Pelari JRF 2026, Mengenal Flag-Off Time, Gun Time, dan Chip Time
- 10Perangkat Pertandingan Garudayaksa vs Persib: Wasit Irfan Wahyu Wijanarko Pimpin Laga Panas Malam Ini


