Jateng

Jogja Vibes! Mengulik Kisah Sejarah Royal Ambarrukmo, Jejak Kerajaan yang Masih Terlihat Jelas di Setiap Sudut Hotel

Theo Adi Pratama | 25 Agustus 2024, 14:00 WIB
Jogja Vibes! Mengulik Kisah Sejarah Royal Ambarrukmo, Jejak Kerajaan yang Masih Terlihat Jelas di Setiap Sudut Hotel

JATENG.AKURAT.CO, Yogyakarta, kota yang dikenal dengan warisan budayanya yang kaya, menyimpan sejuta kisah menarik di setiap sudutnya.

Salah satu kisah yang menarik perhatian tersembunyi di balik kemewahan Hotel Royal Ambarrukmo.

Lebih dari sekadar hotel bintang lima, bangunan megah ini memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari Kerajaan Yogyakarta.

Sebelum menjadi tempat menginap para pelancong dari seluruh dunia, Royal Ambarrukmo adalah bagian dari istana Kesultanan Yogyakarta.

Mari kita telusuri jejak kerajaan yang masih terlihat jelas di setiap sudut hotel bersejarah ini.

Baca Juga: Staycation Vibes! Bosan dengan Rutinitas dan Butuh Hiburan? 4 Hotel di Jogja Ini Tawarkan Staycation Seru Dekat Mal Terbesar!

Pesanggrahan Raja dari Kasultanan Yogyakarta

Sebelum berdiri sebagai hotel, Royal Ambarrukmo merupakan bagian dari Gandok Pesanggrahan Ambarrukmo.

Gandok adalah bangunan memanjang dengan kamar-kamar, biasanya terletak di belakang area utama (griya wingking).

Sultan Hamengku Buwono II menamai area tersebut sebagai “Jenu” sebelum kemudian menjadi “Ambarrukmo”, “Hambarrukmo”, atau “Ngambarrukmo”. Nama “Ambarrukmo” berasal dari bahasa Jawa kuno, terdiri dari kata “Ambar” yang berarti wangi dan “Rukmo” yang berarti emas, mengisyaratkan keindahan dan nilai tinggi yang diwakili tempat ini.

Salah satu momen penting yang pernah terjadi di Pesanggrahan Ambarrukmo adalah kunjungan Daendels pada 29 Juli-2 Agustus 1809.

Daendels meminta Sultan Hamengku Buwono II untuk menyambutnya di luar kerajaan, dan akhirnya Sultan memilih kebun raja di Jenu sebagai tempat pertemuan.

Untuk menyambut tamu kerajaan di luar istana, Sultan membangun sebuah pendopo di lokasi tersebut. Pada 1857-1859, pendopo ini diperluas untuk menyambut kunjungan Gubernur Jenderal Hindia Belanda bersama prajuritnya, hingga akhirnya dinamai Pesanggrahan “Harja Purna”.

Dari Pesanggrahan Harja Purna ke Kedhaton Ambarrukmo

Setelah kematian Sultan Hamengku Buwono VI, Sultan Hamengku Buwono VII naik tahta pada 1877 dan memugar Pesanggrahan Harja Purna mulai tahun 1859 hingga 1897.

Setelah pemugaran selesai, Sultan meminta adiknya, Gusti Adipati Mangkubumi, untuk memberi nama baru bagi pesanggrahan ini.

Akhirnya, “Kedhaton Ambarrukmo” dipilih sebagai nama baru, menandai perubahan fungsi tempat ini menjadi kediaman resmi raja.

Peresmian Kedhaton Ambarrukmo dilakukan pada 15 Oktober 1898 dengan perjamuan makan yang dihadiri oleh Adipati Paku Alam, pejabat kolonial Belanda, dan para pengusaha perkebunan Eropa.

Momen ini menegaskan status Kedhaton Ambarrukmo sebagai pusat kegiatan kerajaan.

Baca Juga: Staycation Vibes! Butuh Hotel Nyaman Dekat Mal di Semarang untuk Perjalanan Bisnis? 4 Pilihan Ini Pasti Bikin Kamu Betah!

Kedhaton Ambarrukmo Sepeninggal Sultan Hamengku Buwono VII

Setelah Sultan Hamengku Buwono VII meninggal dunia pada 29 Desember 1921, Kedhaton Ambarrukmo menjadi tempat tinggal Gusti Kanjeng Ratu Kencana bersama kedua putranya.

Gusti Kanjeng Ratu Kencana tercatat sebagai penghuni terakhir Kedhaton Ambarrukmo sebelum Sultan Hamengku Buwono IX menghidupkan kembali tempat ini pada tahun 1941.

Namun, kontrol atas penggunaan tempat tersebut tidak sepenuhnya berada di tangan Keraton.

Kedhaton Ambarrukmo sempat diduduki oleh pemerintah Belanda sebagai markas tentara selama periode 1945-1949.

Setelah itu, tempat ini diambil alih oleh Pemerintah Indonesia untuk dijadikan perumahan sementara bagi pegawai kantor pos hingga tahun 1950.

Selain itu, Kedhaton Ambarrukmo juga digunakan sebagai kantor administrasi Bupati Kabupaten Sleman pada periode 1947-1964, dengan lima bupati yang pernah berkantor di sana.

Transformasi Kedhaton Ambarrukmo Menjadi Hotel Royal Ambarrukmo

Pada tahun 1966, di bawah arahan Presiden Soekarno, Kedhaton Ambarrukmo diubah menjadi hotel mewah yang diharapkan dapat menarik wisatawan.

Hotel ini dibangun di atas tanah milik Sultan (Sultan Ground) dan merupakan salah satu proyek besar yang didanai dari uang pampasan perang dari Jepang serta bantuan internasional lainnya.

Presiden Soekarno ingin hotel ini menjadi simbol arsitektur yang memadukan gaya internasional dengan kearifan lokal Yogyakarta.

Setelah beberapa dekade beroperasi, Ambarrukmo Palace Hotel resmi ditutup pada 1 Maret 2004.

Namun, pada tahun 2010, Keraton Yogyakarta memutuskan untuk menghidupkan kembali hotel ini melalui kerjasama dengan PT. Putera Mataram Indah Wisata, dan akhirnya Royal Ambarrukmo Yogyakarta resmi dibuka pada September 2011 setelah menjalani renovasi.

Baca Juga: Staycation Vibes! Mau Liburan di Jogja Tapi Bingung Cari Hotel dengan Kolam Renang? Ini Dia 4 Pilihan Hotelnya

Royal Ambarrukmo Yogyakarta: Perpaduan Sejarah dan Kemewahan

Saat ini, Royal Ambarrukmo Yogyakarta dikenal sebagai hotel bintang lima terbaik di Jogja dengan berbagai fasilitas mewah.

Hotel ini menawarkan 247 kamar, mulai dari Deluxe hingga Ambarrukmo Suite dengan private balcony di setiap kamar.

Tamu hotel juga dapat menikmati fasilitas seperti SamaZana Restaurant, Punika Deli Cafe, Royal Club Lounge, gym, kolam renang, dan Kids Club.

Royal Ambarrukmo tidak hanya menawarkan kenyamanan dan kemewahan, tetapi juga pengalaman historis yang tak ternilai.

Setiap sudut hotel ini menyimpan jejak kerajaan yang menjadikan Royal Ambarrukmo sebagai saksi bisu dari perjalanan panjang sejarah Yogyakarta.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.