Jateng

Sebuah Cerita dari Kompleks Makam Girigondo, Kulon Progo Yogyakarta: Warisan Sejarah dan Kebudayaan Kadipaten Pakualaman

Theo Adi Pratama | 30 April 2024, 12:17 WIB
Sebuah Cerita dari Kompleks Makam Girigondo, Kulon Progo Yogyakarta: Warisan Sejarah dan Kebudayaan Kadipaten Pakualaman

JATENG.AKURAT.CO, Kompleks Makam Girigondo, yang terletak di atas sebuah bukit di Dusun Girigondo, Desa Kaligintung, Kapanewon Temon, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, merupakan sebuah situs bersejarah yang kaya akan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.

Makam ini merupakan milik Kadipaten Pakualaman, yang pada awalnya terletak di kompleks makam Hastanarengga Kotagede, tempat dimana KGPAA Pakualam I sampai IV dimakamkan.

Dipilihnya Girigondo sebagai lokasi baru untuk pemakaman KGPAA Paku Alam V dan seterusnya karena kompleks makam Kotagede sudah penuh, sehingga tidak memungkinkan lagi untuk ditambah.

Kompleks Makam Girigondo memiliki sejarah yang panjang, dimulai dari pembangunannya pada tahun 1900 Masehi atas perintah Adipati Pakualam V.

Baca Juga: Jejak Sejarah serta Fungsionalitas dari Bangunan Media Center: Memahami Sebuah Warisan Arsitektur di Kabupaten Kulon Progo

Keberadaan makam ini menjadi penting karena sebagai tempat peristirahatan terakhir para Adipati Pakualam dan kerabatnya.

Sejak didirikan, kompleks makam ini telah menjadi tempat pengebumian Adipati Pakualam V sampai Adipati Pakualam IX, serta beberapa kerabat dan tokoh utama lainnya.

Arsitektur kompleks makam ini menggambarkan keanggunan dan keagungan yang menjadi ciri khas bangsawan Jawa.

Makam Girigondo terdiri dari enam teras yang ditata meninggi ke belakang.

Makam-makam Adipati Pakualam ditempatkan di dalam cungkub-cungkub yang dinaungi oleh krobongan kayu yang dihiasi dengan ukiran-ukiran motif sulur-suluran dan geometris.

Baca Juga: Ajak FKTP di Salatiga Beri Edukasi Peserta JKN melalui Skrining Riwayat Kesehatan

Tata ruang yang mirip dengan Makam Raja Imogiri menambah keistimewaan kompleks makam ini.

Pembangunan kompleks makam ditandai dengan prasasti yang terdapat pada gapura makam di teras pertama yang berasal dari tahun 1830 J atau 1900 M.

Dengan sejarahnya yang kaya dan keunikan arsitekturnya, Kompleks Makam Girigondo telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah Indonesia.

Secara administratif, kompleks makam ini berada di Dusun Girigondo, Kaligintung, Temon, Kulonprogo.

Lokasinya yang berada di puncuk Bukit Girigondo memberikan suasana yang tenang dan spiritual bagi pengunjung.

Perjalanan menuju lokasi makam ini pun tidaklah mudah, karena pengunjung harus melewati ratusan anak tangga untuk mencapai puncak bukit, mengingat makam utama terletak di halaman teratas kompleks.

Baca Juga: Golkar Buka Pendaftaran Balon Walikota Semarang dan Wakilnya, Eri Sadewo dan Anang Budi Bakal Maju?

Tata letak makam yang terdiri dari enam halaman menjelaskan hierarki sosial yang ketat di dalam masyarakat Jawa pada masa lampau.

Makam-makam para Adipati Pakualam ditempatkan di halaman paling atas, sementara halaman-halaman di bawahnya digunakan untuk memakamkan kerabat dekat dan kerabat jauh.

Dengan keberadaannya, Kompleks Makam Girigondo tidak hanya menjadi tempat ziarah spiritual, tetapi juga menjadi bukti nyata dari warisan sejarah dan kebudayaan yang perlu dilestarikan.

Keanggunan arsitektur dan kekayaan makna yang terkandung di dalamnya menjadikan kompleks makam ini sebagai salah satu destinasi wisata budaya yang menarik di wilayah Kulon Progo, Yogyakarta, dan sekitarnya.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.