Jejak Sejarah di Balik Berdirinya Tugu Jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX: Mengenang Kisah Masa Lalu Keraton Yogyakarta

JATENG.AKURAT.CO, Salah satu tradisi budaya tertua yang masih dijunjung tinggi oleh manusia adalah penghormatan kepada leluhur melalui pembangunan tugu peringatan.
Dalam konteks arkeologi, tugu didefinisikan sebagai sebuah bangunan yang didirikan untuk memperingati peristiwa atau tokoh penting dalam sejarah.
Tugu adalah sebuah monumen yang tidak hanya memuat nilai sejarah, tetapi juga melambangkan penghargaan kepada tokoh atau peristiwa yang dianggap bersejarah.
Di Jogja, salah satu tugu peringatan yang menggambarkan kekayaan sejarah adalah Tugu Jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Tugu ini berdiri megah di pertigaan jalan antara jalan Pontjodirjan dan Jalan Mangkubumi, menjadi landmark penting di tengah kota kecamatan Ponjong.
Tugu Jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX didirikan atas prakarsa Keraton Kasultanan Yogyakarta untuk memperingati jumenengan (pengangkatan sebagai raja) Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Pembangunan tugu ini juga diperjelas dengan pembuatan Sumur Sumberinten, yang berlokasi 100 meter ke arah selatan dari tugu.
Menurut penjelasan Bapak Sukar, keberadaan Sumur Sumberinten dan Tugu Jumenengan adalah satu kesatuan sejarah yang tidak terpisahkan.
Secara fisik, Tugu Jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX memiliki denah persegi berbentuk tiang tegak.
Keempat sisinya dihiasi dengan 4 buah candra sengkala, di mana 2 di antaranya bertuliskan huruf Latin dan 2 lagi dengan huruf Jawa.
Tugu ini dicat dengan warna putih dan dibangun dari bahan bata dan semen bligon.
Pada bagian bawah, terdapat sebuah selasar bulat setinggi 15 cm dari tanah. Puncak tugu dihiasi dengan bentuk mahkota Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Meskipun Tugu Jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX berada di tempat terbuka dan dalam kondisi baik, namun rawan terkena dampak vandalisme karena lokasinya yang berada di tengah pertigaan jalan besar tanpa pengaman pagar yang memadai.
Tugu ini bukan hanya sekadar struktur fisik, tetapi juga simbol penghormatan kepada sejarah dan budaya yang kaya.
Sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia, penting untuk menjaga dan melestarikan tugu ini agar nilai-nilai sejarahnya tetap dikenang dan dihormati oleh generasi-generasi mendatang.
Perlindungan dan perawatan tugu peringatan ini menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memastikan warisan budaya yang berharga ini tetap abadi dalam ingatan dan penghargaan kita.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Profil Instagram Ko Hyung-jin Wasit Indonesia vs Malaysia, Sejarah Kelam 2019 Kembali Terbayang usai Tom Haye Dikartu Merah!
- 2LIVE SCORE Indonesia vs Malaysia, Skor 0-0 Menit ke-70 Thom Haye Kartu Merah, Cek Skor Akhir FULL TIME Menang Siapa?
- 3Kalender Jawa Oktober 2026: Weton, Neptu, dan Rekomendasi Hari Baik untuk Hajatan
- 4Laga PERSIKU VS PSIS BATAL DIGELAR! Ini Alasan Manajemen Tuan Rumah Terkait Pembatalan Pertandingan
- 5Laga Persiku vs PSIS Mendadak BATAL Digelar, Netizen: Harusnya Tuan Rumah Kalah WO!
- 6F1 Ubah Jadwal GP Azerbaijan ke Sabtu, Ternyata Ini Penyebabnya
- 7Panduan Lengkap Kalender Jawa November 2026, dari Minggu Pahing hingga Senin Legi
- 8MotoGP 2026 Masuki Fase Akhir: Ini Jadwal Lengkap Sisa Balapan
- 9PLN Umumkan Pemeliharaan Jaringan di Semarang Timur, Listrik Padam 6 Jam
- 10TNT Awards Jateng 2026 Dorong Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah







