Jateng

Perkembangan Sejarah dan Perjalanan Rumah Sakit Santo Yusup Boro: Sebuah Pusaka Kesehatan di Lereng Bukit Menoreh

Theo Adi Pratama | 30 April 2024, 12:32 WIB
Perkembangan Sejarah dan Perjalanan Rumah Sakit Santo Yusup Boro: Sebuah Pusaka Kesehatan di Lereng Bukit Menoreh

JATENG.AKURAT.CO, Rumah Sakit Santo Yusup Boro merupakan salah satu lembaga kesehatan yang berlokasi di desa kecil Boro, lereng bukit Menoreh, sekitar 35 km dari Kota Yogyakarta.

Letaknya yang strategis, dekat dengan Sendangsono, menjadikannya sebagai pusat pelayanan kesehatan penting di wilayah tersebut.

Sejarah rumah sakit ini dimulai pada tanggal 15 Desember 1930, ketika para suster mendirikan rumah sakit atas izin dari lurah Bajapawira.

Rumah sakit ini didirikan untuk melayani warga miskin di sekitar Boro dan sekitarnya tanpa memungut biaya.

Layanan kesehatan yang diberikan tidak hanya mencakup daerah Boro, tetapi juga meluas hingga Kalibawang, Dekso, Promasan, dan Nanggulan.

Baca Juga: Sebuah Cerita dari Kompleks Makam Girigondo, Kulon Progo Yogyakarta: Warisan Sejarah dan Kebudayaan Kadipaten Pakualaman

Pada tahun 1935, rumah sakit mulai menerima subsidi dari pemerintah, dan pada tahun 1938, subsidi ini ditingkatkan.

Perjalanan pelayanan kesehatan di rumah sakit ini penuh dengan lika-liku, tetapi dijalani dengan keyakinan besar terhadap penyelenggaraan Tuhan.

Pada tahun 1990 hingga 1998, rumah sakit mulai mengembangkan layanan fisioterapi, Unit Gawat Darurat (IGD), radiologi, mengaktifkan kembali ruang bedah, dan membuka poliklinik spesialis.

Tahun 1998 dan 2000 menjadi momen penting bagi rumah sakit, di mana rumah sakit ini mengikuti akreditasi rumah sakit dan kemudian diakreditasi oleh KARS pada tahun 2012 dengan standar 2007, yang menunjukkan tingkat dasar yang lulus.

Pada tahun 2015, rumah sakit ini diakui sebagai rumah sakit tipe D dengan kapasitas tempat tidur sebanyak 35, setelah mendapatkan penetapan kelas dari Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam rentang waktu satu dasawarsa, manajemen Rumah Sakit Santo Yusup Boro telah mengalami banyak kemajuan dalam hal peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM), penambahan fasilitas, peralatan medis, dan inovasi pelayanan kesehatan.

Baca Juga: Jejak Sejarah serta Fungsionalitas dari Bangunan Media Center: Memahami Sebuah Warisan Arsitektur di Kabupaten Kulon Progo

Hal ini tidak lepas dari dukungan Gereja, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, dan berbagai pihak yang memiliki niat baik untuk kemajuan pelayanan kesehatan di daerah tersebut.

Romo J. Prennthaler, SJ, seorang misionaris yang bertugas di Boro pada masa itu, selain mendukung perkembangan sekolah, juga sangat peduli terhadap kesehatan masyarakat.

Pada awalnya, beliau mengunjungi desa-desa dengan sepeda untuk membagikan obat-obatan. Pelayanan medis saat itu masih terbatas, namun usaha tersebut juga menjadi cara Romo Prennthaler membangun jaringan di kalangan masyarakat.

Kompleks Misi Boro meliputi beberapa bangunan penting, seperti bangunan gereja, pastoran, rumah sakit, panti asuhan, susteran Santo Fransiskus, pabrik tenun, Bruderan FIC Boro, taman kanak-kanak, sekolah dasar Marsudirini, serta sekolah dasar dan menengah Pangudi Luhur.

Arsitektur bangunan Rumah Sakit Santo Yusup Boro didominasi oleh gaya limas berdenah bujur sangkar dengan kombinasi gable yang menghadap ke utara.

Bangunan ini telah mengalami banyak renovasi dan penambahan ruangan.

Baca Juga: Ajak FKTP di Salatiga Beri Edukasi Peserta JKN melalui Skrining Riwayat Kesehatan

Ruang farmasi dan kantor dokter terletak di bagian depan kompleks, di bawah atap limas berdenah bujur sangkar.

Di lorong yang menghubungkan ruang farmasi dan kantor dokter, terdapat jendela nako dan louver yang menghadap ke halaman.

Ruang perawatan, yang terletak di bagian belakang, menghadap ke arah timur dan dilengkapi dengan teritis dan patung Yesus di halaman.

Lantai ruangan dilapisi dengan tegel abu-abu, sementara langit-langitnya dilapisi dengan eternit putih.

Ruang tunggu pasien, ruang istirahat dokter, dan kantor wakil direktur perawat juga mengikuti desain yang serupa dengan atap limas berdenah bujur sangkar.

Perkembangan dan kemajuan Rumah Sakit Santo Yusup Boro selama bertahun-tahun telah memberikan manfaat besar bagi masyarakat di sekitarnya, dengan terus meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan memperluas cakupan pelayanan kepada berbagai lapisan masyarakat, termasuk melalui kerjasama dengan BPJS Kesehatan, Jamkesos, Jamkesda, dan Jasaraharja.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.