Jateng

Jejak Sejarah di Balik Berdirinya Tugu Jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX: Mengenang Kisah Masa Lalu Keraton Yogyakarta

Theo Adi Pratama | 28 April 2024, 10:36 WIB
Jejak Sejarah di Balik Berdirinya Tugu Jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX: Mengenang Kisah Masa Lalu Keraton Yogyakarta

JATENG.AKURAT.CO, Salah satu tradisi budaya tertua yang masih dijunjung tinggi oleh manusia adalah penghormatan kepada leluhur melalui pembangunan tugu peringatan.

Dalam konteks arkeologi, tugu didefinisikan sebagai sebuah bangunan yang didirikan untuk memperingati peristiwa atau tokoh penting dalam sejarah.

Tugu adalah sebuah monumen yang tidak hanya memuat nilai sejarah, tetapi juga melambangkan penghargaan kepada tokoh atau peristiwa yang dianggap bersejarah.

Di Jogja, salah satu tugu peringatan yang menggambarkan kekayaan sejarah adalah Tugu Jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Baca Juga: Prospek Cuaca Dalam Kurun Waktu 3-6 Jam ke Depan di Jawa Tengah: Peringatan Adanya Potensi Cuaca Ekstrem

Tugu ini berdiri megah di pertigaan jalan antara jalan Pontjodirjan dan Jalan Mangkubumi, menjadi landmark penting di tengah kota kecamatan Ponjong.

Tugu Jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX didirikan atas prakarsa Keraton Kasultanan Yogyakarta untuk memperingati jumenengan (pengangkatan sebagai raja) Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Pembangunan tugu ini juga diperjelas dengan pembuatan Sumur Sumberinten, yang berlokasi 100 meter ke arah selatan dari tugu.

Menurut penjelasan Bapak Sukar, keberadaan Sumur Sumberinten dan Tugu Jumenengan adalah satu kesatuan sejarah yang tidak terpisahkan.

Secara fisik, Tugu Jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX memiliki denah persegi berbentuk tiang tegak.

Baca Juga: Mencari Jejak Sejarah Peninggalan Keraton Kerto yang Hilang: Sebuah Perjalanan Melalui Umpak kerto di Desa Pleret, Kabupaten Bantul

Keempat sisinya dihiasi dengan 4 buah candra sengkala, di mana 2 di antaranya bertuliskan huruf Latin dan 2 lagi dengan huruf Jawa.

Tugu ini dicat dengan warna putih dan dibangun dari bahan bata dan semen bligon.

Pada bagian bawah, terdapat sebuah selasar bulat setinggi 15 cm dari tanah. Puncak tugu dihiasi dengan bentuk mahkota Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Meskipun Tugu Jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX berada di tempat terbuka dan dalam kondisi baik, namun rawan terkena dampak vandalisme karena lokasinya yang berada di tengah pertigaan jalan besar tanpa pengaman pagar yang memadai.

Baca Juga: Menelusuri Jejak Sejarah dan Tradisi Megalitik di Gunungkidul: Menhir, Antara Warisan Prasejarah serta Tantangan Konservasi

Tugu ini bukan hanya sekadar struktur fisik, tetapi juga simbol penghormatan kepada sejarah dan budaya yang kaya.

Sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia, penting untuk menjaga dan melestarikan tugu ini agar nilai-nilai sejarahnya tetap dikenang dan dihormati oleh generasi-generasi mendatang.

Perlindungan dan perawatan tugu peringatan ini menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memastikan warisan budaya yang berharga ini tetap abadi dalam ingatan dan penghargaan kita.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.