Jateng

Pieters Warikar, Atlet Boccia Muda dari Papua Barat, Harumkan Nama di PEPARNAS XVII Solo

Afri Rismoko | 8 Oktober 2024, 13:02 WIB
Pieters Warikar, Atlet Boccia Muda dari Papua Barat, Harumkan Nama di PEPARNAS XVII Solo

AKURAT.CO, Sorak-sorai penonton terdengar bergemuruh saat Pieters Hans Ficktor Warikar, atlet boccia muda berusia 12 tahun, bertanding melawan atlet elite boccia, Muhammad Bintang Satria Herlangga, di Pekan Paralimpiade Nasional (PEPARNAS) XVII Solo 2024.

Bertempat di GOR Fakultas Keolahragaan (FKOR) Universitas Sebelas Maret Surakarta, kawasan Manahan, pertandingan ini membawa kebanggaan tersendiri bagi Pieters, yang berasal dari Manokwari, Papua Barat.

Bagi Pieters, PEPARNAS XVII adalah kejuaraan nasional pertamanya setelah ia mulai mengenal olahraga boccia enam bulan lalu, atas dorongan ayahnya, Yerris Fernando Warikar.

Yerris, yang juga bertindak sebagai manajer tim boccia Papua Barat, memperkenalkan boccia sebagai terapi untuk meningkatkan kemampuan motorik dan daya pikir anaknya yang mengalami Cerebral Palsy.

Baca Juga: Venue PEPARNAS XVII Solo Dapat Apresiasi Menpora, Selevel Paralimpiade

“Awalnya saya kenalkan boccia sebagai bagian dari terapi untuk meningkatkan daya konsentrasi Pieters. Boccia membantu anak-anak dengan Cerebral Palsy seperti Pieters agar lebih mandiri dan percaya diri,” ucap Yerris.

Perjuangan Pieters dalam mempelajari boccia tidak mudah. Awalnya, ia bahkan kesulitan mengangkat dan melempar bola.

Namun, dengan tekad dan latihan rutin, Pieters berhasil menguasai teknik lengan atas dalam permainan boccia. Kehadirannya di PEPARNAS XVII membawa kebanggaan bagi keluarganya, terutama ibunya, Sintia Iwanggin, yang tak kuasa menahan haru saat melihat dukungan penonton untuk putranya.

"Boccia membawa perubahan besar dalam hidup Pieters. Kini, dia lebih ceria dan percaya diri, tidak lagi hanya termenung di rumah," ungkap Sintia.

Baca Juga: Atlet Jateng Sukses Raih 51 Medali di Hari Pertama PEPARNAS XVII Solo

Bagi keluarga Pieters, prestasi di PEPARNAS bukanlah tujuan utama. Mereka lebih fokus pada pengalaman dan pengembangan diri Pieters melalui olahraga ini.

Yerris berharap kisah anaknya bisa menginspirasi masyarakat Papua Barat untuk lebih terbuka terhadap olahraga boccia dan manfaatnya bagi anak-anak dengan Cerebral Palsy.

Pelatih Pelatnas boccia, Argya Setya Wimala, juga menyambut baik kehadiran atlet muda seperti Pieters, yang dinilai sebagai bagian dari regenerasi dalam olahraga boccia di Indonesia.

"Atlet muda seperti Pieters penting bagi regenerasi boccia Indonesia. Kita sudah mulai membangun ekosistem dari tingkat usia dini hingga dewasa, yang nantinya akan memperkuat prestasi boccia di tingkat nasional maupun internasional," jelas Argya.

Pieters akan bertanding dalam dua kategori di PEPARNAS XVII Solo 2024, yakni melawan atlet elite Paralimpiade dan bertanding di kategori nasional melawan atlet yang belum pernah tampil di level internasional.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Reporter
Afri Rismoko
A