Jateng

Satu Dekade Dorong Energi Bersih, SUN Masuki Babak Baru Elektrifikasi Industri Indonesia

Arixc Ardana | 19 September 2026, 15:39 WIB
Satu Dekade Dorong Energi Bersih, SUN Masuki Babak Baru Elektrifikasi Industri Indonesia

JATENG.AKURAT.CO, Perjalanan satu dekade di industri energi bersih membawa SUN memasuki fase baru. Setelah mengembangkan lebih dari 450 megawatt (MW) kapasitas energi surya melalui lebih dari 400 proyek di berbagai sektor, perusahaan kini memperluas fokus menuju elektrifikasi industri yang lebih terintegrasi.

Capaian tersebut mencakup proyek di lebih dari 40 sektor industri, baik di Indonesia maupun Australia, Vietnam, dan Thailand. Portofolionya antara lain meliputi sektor pertambangan, semen, FMCG, logistik, kertas, kemasan, elektronik, komponen otomotif hingga farmasi.

Sejak didirikan pada 2016, SUN berkembang seiring meningkatnya kebutuhan industri terhadap sumber energi yang lebih efisien, rendah karbon dan andal.

Tidak hanya mengejar pertumbuhan kapasitas terpasang, pengembangan proyek tersebut juga diarahkan untuk mendukung efisiensi serta daya saing industri.

Berdasarkan estimasi produksi energi bersih pada 2026, proyek-proyek SUN diperkirakan berkontribusi terhadap pengurangan emisi sekitar 244.549 ton CO₂ per tahun. Angka tersebut disebut setara dengan penanaman sekitar 4,06 juta pohon.

“Sepuluh tahun pertama SUN menunjukkan bahwa transisi energi dapat berjalan seiring dengan kebutuhan industri terhadap efisiensi, keandalan, dan daya saing. Memasuki dekade berikutnya, kami ingin membawa pengalaman tersebut lebih jauh melalui sistem elektrifikasi yang semakin terintegrasi, dari energi bersih hingga pemanfaatannya dalam aktivitas operasional pelanggan,” ujar Chief Customer Relations & Marketing Officer SUN, Oky Gunawan.

SUN Perluas Bisnis dari PLTS ke Elektrifikasi Industri

Memasuki dekade kedua, SUN tidak lagi hanya berfokus pada pengembangan pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS.

Perusahaan mulai memperluas solusi menuju sistem elektrifikasi terintegrasi yang mencakup PLTS, penyimpanan dan manajemen energi, kendaraan listrik, infrastruktur pengisian daya hingga sistem digital untuk pengelolaan energi dan armada.

Pengembangan tersebut terutama menyasar sektor yang memiliki kebutuhan energi dan aktivitas operasional tinggi, seperti pertambangan, perkebunan, logistik, manufaktur, kawasan industri dan FMCG.

Dalam elektrifikasi armada, SUN menerapkan pendekatan berdasarkan kebutuhan operasional masing-masing pelanggan. Sejumlah aspek yang diperhitungkan antara lain jenis kendaraan, pola perjalanan, jarak tempuh, kondisi medan, kebutuhan pengisian daya hingga ketersediaan energi di lokasi.

Melalui lini Mobility, solusi yang ditawarkan mencakup kendaraan listrik, pembangunan infrastruktur pengisian daya, skema pembiayaan atau penyewaan, pemeliharaan kendaraan serta pemantauan melalui Fleet Management System.

Truk Listrik Berpotensi Pangkas Biaya Energi 83,6 Persen

Salah satu studi kasus SUN pada distributor FMCG di kawasan Jabodetabek menunjukkan potensi efisiensi dari penerapan kendaraan listrik.

Dalam skenario penggunaan truk listrik untuk rute sekitar 50 kilometer dengan jam operasional pukul 08.00 hingga 17.00, penggunaan kendaraan listrik berpotensi menghemat biaya energi hingga 83,6 persen per perjalanan.

Selain itu, total biaya kepemilikan dan operasional berpotensi turun sekitar 15 persen.

Perhitungan tersebut didasarkan pada ketersediaan listrik jaringan dan pola operasional pelanggan.

CEO SUN Mobility, Karina Darmawan, mengatakan elektrifikasi armada perlu dilihat sebagai bagian dari keseluruhan sistem operasional perusahaan.

“Elektrifikasi armada perlu dirancang sebagai bagian dari sistem operasional, bukan hanya melalui penggantian kendaraan. Infrastruktur pengisian daya, pembiayaan, pemeliharaan, dan sumber energi perlu dipersiapkan secara bersamaan agar transisi dapat berjalan efektif dan terukur,” ujar Karina.

Dorong Pengembangan PLTS Berskala Besar

Di samping elektrifikasi industri, SUN juga memperkuat pengembangan proyek energi surya dalam skala lebih besar.

Indonesia memiliki potensi energi surya sekitar 3.200 GWp. Potensi tersebut membuka ruang pengembangan PLTS, baik untuk kebutuhan sektor komersial dan industri maupun proyek berskala besar.

Saat ini, SUN memiliki pipeline proyek energi surya lebih dari 40 MWp yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia. Proyek-proyek tersebut masih berada dalam tahap pengembangan.

SUN juga memperluas perannya sebagai Independent Power Producer (IPP) untuk mendukung pengembangan aset energi bersih dalam jangka panjang.

Langkah tersebut diarahkan untuk memperbesar kontribusi sektor swasta terhadap penambahan kapasitas energi terbarukan nasional sekaligus mendukung visi pengembangan 100 GWp energi surya di Indonesia.

Masuki Dekade Kedua dengan Fokus Elektrifikasi

Memasuki dekade berikutnya, SUN akan memperkuat pengembangan aset energi bersih sekaligus solusi elektrifikasi untuk sektor-sektor strategis.

Integrasi PLTS, penyimpanan energi, sistem manajemen energi, elektrifikasi armada, infrastruktur pengisian daya dan sistem digital menjadi bagian dari strategi tersebut.

Solusi terintegrasi itu diarahkan untuk membantu pelanggan meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Untuk mempercepat implementasinya, SUN akan melanjutkan kolaborasi dengan pemerintah, regulator, PLN, asosiasi industri, pengelola kawasan, lembaga pembiayaan, mitra teknologi, pemasok hingga perusahaan EPC.

Dengan pengalaman selama satu dekade mengembangkan proyek energi bersih, SUN kini memperluas perannya dari pengembang energi surya menjadi mitra elektrifikasi bagi industri.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk mendukung efisiensi dan daya saing industri sekaligus mendorong percepatan transisi energi di Indonesia.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.