Jateng

Bisa Lebih Intim dari Manusia? Studi Ungkap Mengapa Kita Cepat Jatuh Hati pada Percakapan AI

Theo Adi Pratama | 2 Februari 2026, 06:30 WIB
Bisa Lebih Intim dari Manusia? Studi Ungkap Mengapa Kita Cepat Jatuh Hati pada Percakapan AI

JATENG.AKURAT.CO, Sebuah studi baru mengungkap temuan yang cukup mengejutkan: dalam kondisi tertentu, koneksi emosional dengan AI bisa terasa lebih kuat dibandingkan percakapan dengan manusia sungguhan.

Temuan ini muncul di tengah meningkatnya peran AI dalam kehidupan digital, mulai dari chatbot pendamping hingga asisten emosional.

Penelitian ini menunjukkan bahwa jika sebuah sistem AI dirancang untuk cepat masuk ke ranah personal, pengguna dapat merasakan kedekatan emosional yang intens hanya dalam waktu singkat.

Bahkan, dalam beberapa skenario terstruktur, respons yang ditulis AI dinilai lebih “dekat” dibandingkan respons dari manusia nyata.

Namun, efek ini sangat dipengaruhi oleh satu faktor kunci: persepsi pengguna tentang siapa lawan bicaranya.

Penelitian Dua Universitas, Hampir 500 Partisipan

Studi ini dilakukan oleh peneliti dari Universitas Freiburg dan Heidelberg melalui dua eksperimen double-blind acak yang melibatkan 492 partisipan.

Para peserta menjalani versi teks selama 15 menit dari Fast Friends Procedure, sebuah metode psikologis yang memang dirancang untuk mempercepat ikatan emosional antar orang asing.

Dalam setiap sesi, partisipan menjawab rangkaian pertanyaan bertahap—dimulai dari ringan hingga sangat personal.

Setelah setiap jawaban, mereka menerima balasan, yang bisa berasal dari manusia sungguhan atau AI berbasis large language model yang memainkan persona fiktif secara konsisten.

AI Unggul Saat Dianggap Manusia

Pada studi pertama, semua partisipan percaya bahwa mereka sedang berbicara dengan manusia, meskipun sebagian sebenarnya berinteraksi dengan AI. Hasilnya cukup mencolok:

Pada pertanyaan yang paling personal, skor kedekatan emosional lebih tinggi setelah respons AI dibandingkan respons manusia.

Efek ini tidak muncul pada fase percakapan ringan atau small talk.

Ini menunjukkan bahwa kekuatan AI bukan pada basa-basi, melainkan pada kemampuannya meniru self-disclosure atau keterbukaan diri secara cepat dan konsisten.

Begitu Diberi Label “AI”, Ikatan Langsung Melemah

Studi kedua mengubah satu hal penting: partisipan diberi tahu bahwa lawan bicara mereka adalah AI.

Koneksi emosional tidak sepenuhnya hilang, tetapi menurun signifikan dibandingkan saat mereka mengira berbicara dengan manusia.

Menariknya, tingkat usaha juga ikut turun. Partisipan menulis jawaban lebih pendek ketika tahu mereka berbicara dengan AI.

Padahal, data menunjukkan bahwa semakin panjang dan mendalam jawaban seseorang, semakin tinggi rasa kedekatan yang mereka laporkan.

Ini mengarah pada kesimpulan penting: penurunan ikatan bukan karena AI kurang “emosional”, tetapi karena motivasi pengguna menurun saat identitas AI diketahui.

Mekanisme di Balik Ikatan Emosional dengan AI

Penelitian ini tidak menyatakan bahwa AI memiliki perasaan. Sebaliknya, studi ini menyoroti bagaimana AI bisa memicu pengalaman emosional melalui pola yang sudah dikenal manusia.

Dalam percakapan personal, AI cenderung membagikan detail diri yang lebih terbuka.

Data menunjukkan bahwa semakin tinggi self-disclosure dari lawan bicara, semakin besar rasa kedekatan yang dirasakan partisipan. Inilah daya tarik sekaligus risikonya.

AI pendamping yang dirancang hangat dan personal dapat mengaktifkan isyarat psikologis yang sama seperti hubungan manusia—dan bisa melakukannya dengan cepat dan dalam skala besar, terutama jika diposisikan seolah-olah manusia.

Batasan Studi dan Peringatan Penting

Meski hasilnya signifikan, penelitian ini memiliki keterbatasan:

  • Percakapan hanya berbasis teks
  • Durasi terbatas 15 menit
  • Mengikuti skrip bonding yang terstruktur

Artinya, temuan ini belum membuktikan bahwa efek serupa akan terjadi dalam hubungan jangka panjang yang kompleks dan tidak terkontrol.

Bagi pengguna chatbot untuk dukungan emosional, pesan praktisnya jelas: pilih AI yang transparan soal identitasnya, dan jangan sepenuhnya menggantikan interaksi manusia.

AI bisa membantu, tetapi hubungan manusia tetap penting sebagai jangkar emosional.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.