Jateng

Dari Desa ke Gedung PBNU, Kisah Hamidulloh Ibda Menjadi Rektor Termuda INISNU Temanggung

Theo Adi Pratama | 4 Desember 2025, 08:25 WIB
Dari Desa ke Gedung PBNU, Kisah Hamidulloh Ibda Menjadi Rektor Termuda INISNU Temanggung

JATENG.AKURAT.CO, Di lantai 8 Gedung PBNU, Rabu sore itu (26/11/2025), suasana khidmat tiba-tiba berubah emosional ketika nama Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd. dipanggil untuk mengucap ikrar jabatan. Di hadapannya, para kiai, akademisi, dan pimpinan PBNU menyimak penuh harap.

Tapi bagi Ibda sendiri, momen itu lebih dari sekadar pelantikan itu adalah titik balik perjalanan panjang seorang anak desa yang sejak dulu hanya ingin satu hal, mengabdi melalui ilmu.

Ibda, lahir 17 Juni 1990, tumbuh di lingkungan yang sederhana. Ia mengenal dunia pesantren dan tradisi keilmuan NU sejak kecil. Dalam banyak kesempatan, ia pernah bercerita bahwa setiap capaian akademiknya terasa seperti “mengantar doa orang tua yang tak pernah selesai”.

Kini, 35 tahun kemudian, doa itu sampai pada salah satu panggung tertinggi: Ia resmi dilantik sebagai Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung periode 2025–2029 menjadikannya rektor termuda sepanjang sejarah kampus itu berdiri.

Pelantikan dilakukan langsung oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama berdasarkan SK PBNU Nomor 4776/PB.01/A.II.01.22/99/11/2025. Tetapi bagi banyak orang yang mengenalnya. SK itu bukan sekadar legitimasi struktural, melainkan pengakuan atas perjalanan panjang yang diisi kerja sunyi dan ketekunan.

Seleksi Ketat

Perjalanan menuju kursi rektor bukan proses instan. Ketua Dewan Pengurus BPP INISNU, Drs. H. Nur Makhsun, menegaskan bahwa pemilihan rektor kali ini adalah salah satu proses paling terbuka dan ketat.

Lima kandidat awal tersaring dari berbagai syarat akademik dan rekam jejak kepemimpinan. Mereka menjalani seleksi administratif ketat, presentasi visi-misi dan tata kelola kampus, uji rekam jejak Tridharma, hingga wawancara mendalam oleh pansel yang terbagi dalam empat kompetensi Aswaja, manajerial, akademik, dan sosial-kultural.

Dari lima nama itu, tinggal dua yang lolos, Ibda dan Dr. Joni. Dan setelah proses di PBNU, Ibda akhirnya ditetapkan.

“Prosesnya murni berdasarkan kompetensi, bukan kedekatan dan nepotisme,” tegas Nur Makhsun, Rabu (3/12/2025).

Kalimat itu terdengar seperti penanda bahwa generasi akademisi NU kini bergerak ke arah meritokrasi yang lebih matang.

Pesan Gus Yahya

Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), memberi pesan yang menusuk ke dalam, bukan hanya sebagai atasan struktural, tapi sebagai seorang kiai yang bicara dari kedalaman tradisi.

“Jalankan tugas bukan hanya untuk mengembangkan INISNU, tetapi juga untuk melanjutkan barokah para masyayikh dan muassis NU,” katanya.

Di kursi tamu, Ibda tampak menunduk lama. Barangkali ia teringat perjalanan akademiknya dari kuliah S1 di UIN Walisongo, S2 di UNNES, hingga menjadi Wisudawan Terbaik Doktor Pendidikan Dasar UNY. Bahkan lulus tanpa ujian terbuka karena karya ilmiahnya yang diakui melalui RPL dan artikel Scopus internasional.

Tumbuh Bersama Kampusnya

Ketika mulai mengajar di INISNU tahun 2017, Ibda bukan siapa-siapa. Ia memulai sebagai Kepala Prodi PGMI, kemudian naik menjadi Wakil Rektor I. Di masa itu, ia dikenal sebagai sosok yang bekerja tanpa banyak publikasi tentang dirinya lebih memilih bekerja daripada difoto saat bekerja.

Di UNISNU Temanggung, Ibda mengawal percepatan akreditasi, modernisasi kurikulum, perbaikan layanan akademik berbasis digital, penguatan budaya riset, hingga percepatan publikasi ilmiah dosen dan mahasiswa.

Rekan-rekannya sering menggambarkan Ibda sebagai sosok yang “berpikir cepat, bergerak sistematis, dan membaca apa yang belum terlihat orang lain.”

Pemimpin Muda dengan Jaringan Luas

Yang membuatnya menonjol bukan hanya karier akademisnya tetapi luasnya jejaring di masyarakat dan organisasi. Ibda dikenal aktif di NU dan publik sebagai Ketua FKPT Jawa Tengah (2025–2027), Wakil Ketua LTN NU Temanggung, Koordinator Gerakan Literasi Ma'arif Jawa Tengah, Reviewer jurnal internasional Scopus di 19 negara, bahkan menjadi penemu Teori Dadiapic yang membantu penulisan artikel ilmiah bereputasi global.

Kiprahnya memperlihatkan satu hal, Ibda bukan hanya akademisi kampus, melainkan intelektual publik.

Dalam pidato usai pelantikan, Ibda mengangkat prinsip TARIK yaitu Transparan, Akuntabel, Responsif, Independen, Kolaboratif sebagai fondasi kepemimpinannya.

“INISNU harus menjadi Rumah Kolaborasi Ilmu yang membanggakan bagi Nahdliyin dan bangsa,” ujarnya.

Ia berjanji mengembangkan digital governance berbasis teknologi, manajemen akademik dan non-akademik yang terintegrasi, riset yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, serta budaya kerja berintegritas sesuai Mabadi’ Khaira Ummah.

Di Temanggung sendiri, banyak mahasiswa menyambut gembira.

“Pak Ibda itu pemimpin yang mengerti dunia kami,” kata seorang mahasiswa PGMI.

“Beliau dekat, tapi tetap tegas,” ujarnya.

Bagi Dr. Muh. Baehaqi, rektor sebelumnya, momen ini adalah kebanggaan.

“Saya percaya Ibda bisa membawa INISNU lebih maju dan berdaya saing,” ujarnya.

Ada nada haru dalam suaranya ketika ia menyampaikan itu. Karena bagi Baehaqi, melihat Ibda berdiri di panggung PBNU bukan hanya soal suksesi jabatan—tetapi tentang tradisi regenerasi yang berjalan baik.

Pelantikan Ibda bukan hanya berita perguruan tinggi. Ini adalah cermin transformasi kaderisasi intelektual NU. Bahwa anak-anak muda yang tumbuh di lorong-lorong pesantren, sekolah-sekolah pelosok, dan madrasah-madrasah kecil kini bisa berdiri sejajar di pusat-pusat pengambilan kebijakan ilmu.

Dan untuk Ibda sendiri, pelantikan itu seperti titik puncak yang membuka puncak-puncak berikutnya. Ia menutup pidatonya dengan kalimat sederhana, tetapi seperti mewakili perjalanan hidupnya:

“Saya hanya ingin mengabdi. Karena ilmu tanpa pengabdian hanyalah hafalan.”

Di antara tepuk tangan hadirin, kalimat itu menggema pelan namun membentuk harapan besar untuk masa depan INISNU Temanggung.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.