HOROR di Bangkok! Aktor China Diculik, Pariwisata Thailand Ambruk dalam Semalam: Malaysia Ketiban Durian Runtuh dan Jadi Jawara Baru Asia Tenggara!

JATENG.AKURAT.CO, Selama lebih dari satu dekade, Thailand berdiri tegak sebagai destinasi wisata nomor satu di Asia Tenggara. Julukan "Siam yang Penuh Senyum" tidak pernah terasa lebih nyata. Menarik hampir 40 juta turis asing pada puncaknya di 2019, negara ini seolah kebal dari krisis.
Namun, di awal tahun 2025 ini, sebuah narasi baru yang pahit mulai tertulis.
Thailand kini menghadapi kemerosotan pariwisata yang parah dan tak terduga. Angka kunjungan internasional mereka mulai menurun drastis dari bulan ke bulan. Lebih mengejutkan lagi, posisi mahkota yang dipegang erat oleh Thailand kini telah direbut oleh tetangganya, Malaysia.
Apa yang terjadi? Bagaimana negara yang begitu mengandalkan turisme bisa tiba-tiba ambruk? Ternyata, krisis kepercayaan ini dipicu oleh satu insiden mengerikan di jantung ibu kota dan disebarluaskan oleh kekuatan terbesarnya: turis dari China.
Mahkota Asia Tenggara Berpindah Tangan
Thailand telah lama dikenal sebagai raksasa pariwisata. Mereka memimpin dengan rekor kunjungan turis hingga mencapai 39,8 juta di tahun 2019, sebuah prestasi yang nyaris menyentuh target 40 juta turis asing. Namun, setelah melewati gelombang pandemi dan sempat bangkit di tahun 2023-2024, kini angka mereka mulai lesu.
Data di akhir tahun 2024 menunjukkan sinyal bahaya:
- Malaysia berhasil mengumpulkan 36,9 juta turis.
- Thailand menyusul di belakang dengan 35,5 juta turis.
Ini adalah kali pertama, di luar periode pandemi, Thailand kehilangan takhta pariwisata ASEAN dalam lebih dari satu dekade. Keadaan ini makin parah di sepanjang tahun 2025. Dilaporkan bahwa pada bulan Mei 2025, angka turisme Thailand turun 14% dari bulan sebelumnya, dan secara total hingga Agustus, penurunannya mencapai lebih dari 7% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Kunci Hilang: Turis China Mendadak 'Kapok'
Siapa biang keladinya? Jawabannya terletak pada pasar terbesar dan paling krusial: China.
Selama ini, turis China adalah tulang punggung industri pariwisata Thailand. Bayangkan, pada tahun 2019, 28% dari seluruh turis asing yang datang ke Thailand berasal dari China, menopang lebih dari sepertiga industri pariwisata internasional mereka.
Namun, di tahun 2025, kontribusi turis China anjlok hampir 50%, tinggal menyisakan 13% dari total pengunjung. Penurunan ini sangat signifikan sehingga banyak pengamat khawatir jumlah turis China tidak akan mencapai 5 juta orang di akhir tahun, padahal sebelumnya mudah menembus angka 11 juta.
Jika dilihat secara global, ini adalah ironi besar. Saat ini, jumlah masyarakat China yang melancong ke luar negeri justru sedang meningkat pesat, diperkirakan mencapai 155 juta orang. Mereka bepergian, tetapi tidak ke Thailand.
Aktor Diculik: Titik Balik Hilangnya Kepercayaan
Penurunan dramatis ini bukan tanpa sebab. Semuanya bermula dari satu insiden keamanan tingkat tinggi yang terjadi di awal Januari 2025.
Aktor terkenal China, Wang Xing, tiba di Bangkok untuk urusan casting. Alih-alih disambut karpet merah, ia justru diculik oleh sekelompok orang bersenjata tak lama setelah kedatangan dan langsung dibawa melintasi perbatasan ke Myanmar. Ia disekap bersama 1.200 orang lainnya.
Meskipun Wang Xing berhasil diselamatkan, kerusakan citra Thailand di mata masyarakat China sudah tak tertolong.
- Pembatalan Massal: Hanya berselang beberapa hari setelah berita penculikan ini heboh, angka pembatalan penerbangan dari China ke Thailand langsung melonjak 150%.
- Tips Cancel Liburan: Di media sosial China, beredar luas tips dan tutorial tentang cara membatalkan pemesanan pesawat dan hotel di Thailand dengan biaya seminimal mungkin, menunjukkan tingkat kepanikan dan keengganan berlibur ke sana.
- Pertanyaan Keamanan: Insiden ini memunculkan pertanyaan kritis di kalangan masyarakat China: apakah Thailand benar-benar aman jika geng kriminal bisa menculik turis dan membawa mereka menyeberang ke Myanmar begitu saja?.
Mengingat Luka Lama yang Kian Memperburuk Citra
Setelah insiden Wang Xing, masyarakat China mulai mengungkit kembali serangkaian kejadian tragis di masa lalu, yang makin menguatkan persepsi bahwa Thailand tidak aman:
- Penembakan Massal: Insiden penembakan di Mal Siam Paragon yang menewaskan satu turis China.
- Kapal Tenggelam: Tenggelamnya kapal di Phuket yang merenggut 47 nyawa turis China.
- Insiden Terbaru: Pembakaran dua turis Malaysia di depan sebuah pusat perbelanjaan di Bangkok pada Agustus 2025, yang pelakunya mengaku frustrasi karena kelamaan menganggur.
Semua kejadian ini kini divalidasi sebagai bukti nyata bahwa liburan ke Thailand mengandung risiko yang terlalu besar.
Turis China Beralih Haluan: Jepang dan Vietnam Jadi Pilihan
Lalu, ke mana perginya rombongan turis China yang tadinya membanjiri Bangkok, Phuket, dan Chiang Mai? Mereka memilih destinasi yang dianggap lebih aman dan menguntungkan, yaitu Singapura, Malaysia, Jepang, dan Vietnam.
Dua negara yang mencuri perhatian adalah:
- Jepang: Melemahnya mata uang Yen membuat Jepang menjadi destinasi yang sangat menarik dan terjangkau bagi turis China yang bersemangat memanfaatkan kesempatan ini.
- Vietnam: Secara geografis lebih dekat dan menawarkan biaya hidup yang lebih murah. Ditambah dengan kebijakan bebas visa sementara, Vietnam berhasil menarik minat turis China yang biasanya ke Thailand untuk mencoba destinasi baru.
Pasar Barat Meningkat, Tetapi Tidak Mampu Menutup Kerugian
Di tengah kemelut ini, ada sedikit kabar baik. Thailand sempat mendapat dorongan dari pasar Barat, terutama Amerika Serikat, Eropa, dan Inggris. Popularitas serial The White Lotus Season 3 yang menampilkan Lisa Blackpink dan berlatar di Koh Samui, membuat minat turis Amerika melonjak.
- Pencarian tempat wisata di Koh Samui oleh warga AS meningkat 65%.
- Pemesanan hotel mewah di sana naik 40%.
Secara keseluruhan, turis Amerika naik 12%, Eropa 18%, dan Inggris 20%. Namun, meskipun angkanya meningkat, pasar-pasar ini secara proporsi masih jauh di bawah China dan tidak mampu menutupi kerugian besar yang disebabkan oleh eksodus turis China.
Kesenjangan Ekonomi: Malaysia Bawa Turis, Bukan Duit
Malaysia memang berhasil merebut posisi nomor satu dalam jumlah turis. Ironisnya, turis Malaysia dianggap "tidak memuaskan" oleh pemerintah dan pelaku bisnis Thailand.
Mengapa? Jawabannya ada di dompet:
- Rata-rata turis China menghabiskan sekitar 42.500 Baht per perjalanan.
- Rata-rata turis Malaysia hanya menghabiskan 21.500 Baht per perjalanan.
Artinya, turis Malaysia, meskipun banyak, hanya membelanjakan setengah dari apa yang dihabiskan oleh turis China. Thailand tidak hanya kehilangan kuantitas, tetapi yang paling menyakitkan, mereka kehilangan turis dengan daya beli tinggi.
Kebijakan ‘Quality over Quantity’ dan Rencana Kasino Gagal
Sadar akan kerugian ini, Pemerintah Thailand melalui Otoritas Pariwisata Thailand (TAT) bergerak cepat, merumuskan beberapa strategi:
1. Memburu Turis Kaya (Quality over Quantity)
Thailand kini mulai memprioritaskan turis dengan daya beli tinggi daripada turis budget.
Infrastruktur Mewah: Mereka berencana membangun kereta cepat mewah rute Bangkok-Chiang Mai, merenovasi bandara, dan meng-upgrade fasilitas wisata lainnya.
Dampak Harga: Imbasnya, liburan ke Thailand di masa depan kemungkinan besar tidak akan semurah sekarang.
Rencana ini menuai kritik pedas, sebab para pengamat khawatir fokus pada turis mewah akan mematikan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta pasar lokal yang selama ini hidup dari turis budget.
2. Subsidi dan Pelonggaran Visa
Pemerintah juga mencoba membuai kembali turis China dengan iming-iming:
Subsidi Penerbangan: Memberikan subsidi sebesar US$10 juta untuk penerbangan dari China ke Thailand selama tiga bulan agar harga tiket menjadi lebih murah.
Promosi Besar-besaran: Mengundang influencer dan media China untuk mempromosikan pariwisata Thailand, serta melonggarkan persyaratan visa.
3. Rencana Kasino yang Batal
Thailand bahkan sempat merencanakan melegalkan dan membuka empat kompleks kasino di Bangkok, Chonburi, Chiang Mai, dan Phuket. Tujuannya jelas: menarik para high-roller China. Namun, rencana kontroversial ini akhirnya dibatalkan karena tidak disukai oleh Presiden Xi Jinping dan ditentang oleh sebagian masyarakat Thailand sendiri.
Sayangnya, hingga saat ini, kebijakan-kebijakan tersebut belum menunjukkan hasil yang efektif, dan angka turisme masih terus menurun.
Di tengah gejolak ini, satu hal yang pasti: China adalah kunci. Selama isu keamanan belum teratasi dan trauma penculikan masih menghantui, Thailand akan terus berjuang keras untuk kembali ke puncak, sementara Malaysia dan Vietnam siap mengambil semua keuntungan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










