Jateng

Bawa Tumbler ke Kafe Tapi Isinya Kopi Luar? Kenali Etika Nongkrong yang Sering Dianggap Remeh Banyak Orang!

Theo Adi Pratama | 23 Januari 2026, 16:16 WIB
Bawa Tumbler ke Kafe Tapi Isinya Kopi Luar? Kenali Etika Nongkrong yang Sering Dianggap Remeh Banyak Orang!

JATENG.AKURAT.CO, Sebuah video dari akun instagram @larka2294 bisa menjadi pengingat penting dalam etika berkunjung ke cafe membawa tumbler.

Dalam video tersebut isinya mengingatkan pelanggan agar tidak membawa kopi dari luar kafe yang ditaruh didalam tumbler.

Meski terkesan sepele, momen ini justru membuka ruang edukasi soal etika nongkrong, aturan usaha, dan empati terhadap pelaku bisnis kopi.

Fenomena barista menolak kopi dari luar bukan sekadar soal aturan kafe.

Di baliknya, ada nilai edukatif yang relevan dengan gaya hidup anak muda masa kini, di mana kafe bukan hanya tempat minum kopi, tetapi juga ruang kerja, diskusi, hingga konten media sosial.

Karena itu, memahami batasan yang berlaku menjadi penting agar kenyamanan semua pihak tetap terjaga.

Mengapa Kafe Melarang Membawa Kopi dari Luar?

Larangan membawa minuman dari luar kafe merupakan kebijakan yang umum di industri food and beverage. Aturan ini tidak muncul tanpa alasan.

Bagi pemilik kafe, penjualan minuman adalah sumber utama pendapatan. Membawa kopi dari luar bisa berdampak langsung pada keberlangsungan bisnis, terutama bagi kafe kecil dan UMKM.

Selain itu, dari sisi kebersihan dan citra merek, kehadiran produk luar berpotensi menimbulkan kesalahpahaman jika terjadi komplain.

Etika Nongkrong di Kafe yang Sering Diabaikan

Video ini bisa menjadi pengingat bahwa etika nongkrong di kafe masih sering dianggap remeh.

Banyak pelanggan merasa kafe adalah ruang publik bebas, padahal tetap ada aturan yang harus dihormati.

Menggunakan fasilitas kafe tanpa membeli produk, membawa makanan atau minuman dari luar, hingga duduk terlalu lama tanpa konsumsi adalah contoh perilaku yang kerap memicu konflik.

Edukasi soal etika ini penting, terutama bagi generasi muda yang menjadikan kafe sebagai bagian dari gaya hidup.

Sudut Pandang Pelanggan: Perlu Empati Dua Arah

Meski begitu, edukasi tidak bisa berjalan satu arah. Cara penyampaian aturan juga berperan besar dalam menciptakan suasana yang nyaman.

Pendekatan yang humanis membantu pelanggan memahami alasan di balik aturan, bukan merasa dihakimi.

Di sinilah komunikasi menjadi kunci agar aturan kafe tidak memicu konflik, melainkan saling pengertian.

Video ini menjadi pengingat penting terutama bagi pelanggan agar tidak membawa kopi dari luar kafe menyimpan pesan edukatif yang relevan dengan kehidupan urban saat ini.

Menghargai aturan kafe bukan sekadar soal kepatuhan, tetapi bentuk empati terhadap pelaku usaha. Dengan komunikasi yang baik dan kesadaran bersama, kafe bisa tetap menjadi ruang nyaman bagi semua.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.