Mengenal Tokoh Pewayangan dari Perspektif Sejarah dan Budaya: ANTAGOPA, Pemelihara Kebuyutan dengan Hati Ikhlas

AKURAT.CO Sejarah, Dalam legenda Jawa yang kaya akan kearifan lokal dan nilai-nilai kepahlawanan, nama Antagopa bersinar sebagai contoh kehidupan yang sederhana, setia, dan penuh pengorbanan.
Dia adalah anak Buyut Gupala, pemelihara kebuyutan Widarakanda/Widarakandang pada masa pemerintahan Prabu Basukunti di negara Mandura.
Kehidupan Awal dan Pemeliharaan Kebuyutan
Sejak kecil, Antagopa hidup sebagai seorang gembala, memelihara binatang di kebuyutan.
Namun, keahliannya tidak hanya terbatas pada binatang, dia juga mahir dalam menggembala manusia.
Sikap hidupnya yang sederhana, setia, jujur, dan patuh pada perintah menjadikannya terhormat di tengah masyarakat.
Meskipun hidupnya sederhana, Antagopa memiliki kelebihan dalam menjaga rahasia dan merawat anak-anak.
Dia tidak memiliki keturunan sendiri, namun, keikhlasannya dalam menerima perintah Prabu Basudewa untuk menikahi Ken Sagupi, meskipun tahu tentang pernikahan resmi Ken Sagupi dengan tiga satria Mandura kakak beradik, membuatnya mendapatkan kedudukan sebagai demang di Widarakandang.
Pemeliharaan Anak-anak Bangsawan
Antagopa membuktikan kesetiaan dan kepintarannya dalam menyimpan rahasia dengan membesarkan dan mengasuh putra-putra Mandura, seperti Arya Udawa, Dewi Rarasati, Arya Pragota, dan Arya Adimanggala.
Meskipun mereka bukan keturunannya secara biologis, Antagopa menganggap mereka sebagai anak-anaknya sendiri, memberikan mereka asuhan yang penuh kasih dan perhatian.
Pemeliharaan Keturunan Prabu Basudewa
Selain itu, Antagopa juga dipercaya untuk menyembunyikan dan merawat Kakrasana, Narayana, dan Dewi Sumbadra, putra-putri Prabu Basudewa dari permaisuri Dewi Mahendra dan Dewi Madrahini.
Dengan kesetiaan dan kebijaksanaannya, Antagopa menjaga keselamatan jiwa anak-anak tersebut dari ancaman Kangsadewa.
Kehidupan Bahagia di Masa Tua
Di masa tuanya, Antagopa dan Ken Sagupi/Nyai Sagupi hidup bahagia, dan semua yang mereka asuh menjadi orang yang terhormat.
Kisahnya menjadi teladan tentang kesetiaan, pengorbanan, dan kasih sayang yang tak terhingga, memperkaya khazanah budaya Jawa dengan nilai-nilai luhur yang masih relevan hingga kini.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kisah Heroik H Soekaimi, Komandan Hizbullah Mranggen yang Gugur Ditembak Belanda pada 1946
- 2Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 3Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 4Update Rute Macet Hari Ini 14 Oktober 2026: Pulang Kerja Sore Ini Semarang dan Solo Macet Parah, Ini Jalur Tikusnya
- 5Ditreskrimsus Polda Jateng Cek Tiga Rumah di Gombel Lama, Dugaan Kerusakan Lingkungan Didalami
- 6Malam di Semarang Makin Gerah, Warga Kehilangan 83 Jam Tidur Setahun—Ini Penyebabnya
- 7Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Macet
- 8Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 9Tugu Muda Semarang Direkayasa Dua Hari, Pengendara ke Stasiun dan Bandara Diminta Berangkat Lebih Awal
- 10Cek Rute Macet Kota Surabaya 14 Oktober 2026: Proyek Drainase Jadi Biang Kerok, Titik Mana yang Harus Dihindari?








